Sejarah

Islam dan Nasionalisme dalam Surat kabar Soeara Atjeh  

·
Islam dan Nasionalisme dalam Surat kabar Soeara Atjeh  
Stasiun Atjehtram di Padang Tiji 1900. Sumber foto: KITLV. Nazaruddin Sjamsuddin, dalam bukunya Revolusi di Serambi Mekah Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, menyebutkan jalan raya dan rel kereta api yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda meningkatkan mobilitas aktivitas politik para ulama dan santri.

sinarpidie.co--Salah satu surat kabar di Aceh pada tahun-tahun 1930-an yang mengangkat isu kesadaran politik nasional dengan kombinasi atau perpaduan Indonesia dan Islam adalah Soeara Atjeh, yang terbit dua minggu sekali. Surat kabar ini terbit pertama kali pada 1929. Kantor redaksinya semula beralamat di Kampung Tionghua, Sigli, dan pemimpin redaksi surat kabar tersebut ialah T.M Oesman. Belakangan, kantor redaksi surat kabar ini pindah ke Kuta Raja (Banda Aceh).

“Perlu dinyatakan bahwa Teuku Muhamad Usman, redaktur ‘Suara Aceh’ telah pindah ke Kutaraja, sementara redaksi koran tersebut juga telah dipindahkan ke Kutaraja,” demikian laporan intel polisi Hindia-Belanda, yang termaktub dalam Laporan Politik Polisionil mengenai Daerah Aceh dan Daerah Takluknya selama Semester Pertama tahun 1933 (alih bahasa oleh Aboe Bakar dan diterbitkan PDIA).

Tak hanya konten-konten dalam surat kabar tersebut yang dianalisis, tapi juga aktivitas pimpinan redaksi dan jajaran redaksi surat kabar kabar ini pun dibuntuti dan diinteli oleh intel-intel Polisi Kolonial Hindia-Belanda pada masa itu.

Dalam Laporan Politik Polisionil mengenai Daerah Aceh dan Daerah Takluknya selama Semester Pertama tahun 1933, keterlibatan T.M Oesman dalam gerakan sekolah Jamiatu’ddiniah di Blang Paseh, Sigli, tertulis dengan rinci.

“Tanggal 10 Februari 1933 di mesjid Bambi, kenegerian Bambi, telah diadakan tabligh yang dihadiri oleh lebih kurang 7.500 orang. Pemimpinnya adalah Teungku Muhamad Daud juga, ketua Jamiatu’ddiniah, sementara pembicara-pembicara lainnya telah tampil Teungku Abdullah Meunasah Kumbang Pase, guru agama, Muhamad Anafi, pelajar sekolah Jamiatu’ddiniah, T. M. Usman, redaktur 'Suara Aceh' di Kutaraja, Teungku Haji Trieng Gadeng, guru agama di Pante Raja, Teungku Hasbullah Indrapuri, guru agama dan Teungku Haji Ujong Rimba, guru agama pada Jamiatu’ddiniah,” demikian dikutip dari Laporan Politik Polisionil mengenai Daerah Aceh dan Daerah Takluknya selama Semester Pertama tahun 1933.

Orasi-orasi politik yang mereka sampaikan saat itu salah satunya berhubungan dengan penggalangan dana untuk mendirikan sekolah-sekolah agama modern.

Pelabuhan Sigli (1900), yang berdekatan dengan Kampung Tionghua, Sigli, tempat Kantor Soeara Atjeh semula beralamat. Sumber foto: KITLV.

Sejak pindah ke Kuta Raja (Banda Aceh) pada 1933, penerbitan Soeara Atjeh dibiayai oleh Nadil Islahil Islamy dan tidak lagi oleh T.M Oesman secara pribadi.

Nadil Islahil Islamy didirikan di Kuta Raja (Banda Aceh) pada April 1932, dan TM. Oesman adalah ketua perkumpulan ini.

Nazaruddin Sjamsuddin, dalam bukunya Revolusi di Serambi Mekah Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, menuliskan, isu kemerdekaan dari kependudukan Hindia-Belanda di Aceh telah menggelinding dan dijadikan arus utama sejak awal 1930-an lewat surat kabar Soeara Atjeh.

Isu yang dilemparkan tentang hubungan Islam dan kemerdekaan, yang semula ditulis “sambil lalu saja dan tidak dengan khusus membahas cara-cara mencapai kemerdekaan itu”, tak dianggap mengkhawatirkan bagi Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

“Pemerintah Kolonial Belanda baru tersentak dan mulai merasa khawatir ketika pada tahun 1933 Soeara Atjeh menyarankan pembacanya untuk mendidik dan menyadarkan kesadaran rakyat,” tulis Nazaruddin Sjamsuddin dalam bukunya Revolusi di Serambi Mekah Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949.

Halaman depan suratkabar Soeara Atjeh yang menerakan alamat kantor redaksi dan pimpinan redaksi. Sumber foto: Fb Aceh Tempoe Doeloe.

Usman el Muhammady, sebut Nazaruddin Sjamsuddin, dipanggil dan diperiksa oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda usai ia menuliskan tulisan Mentjapai Indonesia Merdeka dengan Islam.

Baca juga:

Di rubrik Sudut Tempo Doeloe pada surat kabar Waspada edisi Rabu, 26 Agustus 2015,  Dr Phil Ichwan Azhari juga menuliskan, pada tahun 1930, di Kota Sigli yang kecil, T.M Oesman melontarkan gagasan tentang keterkaitan Islam dan Kebangsaan, yang pada tahun-tahun itu sedang dilemparkan oleh salah seorang pendiri Republik Indonesia, Mohammad Natsir.

Iklan ucapan Hari Raya Idul Fitri tahun 1931 pada suratkabar Soeara Atjeh. Sumber foto: Twitter Raisa Kamila.

Dr Phil Ichwan Azhari, yang merupakan seorang sejarawan, pengajar dan filolog pada Universitas Negeri Medan, menuliskan dalam artikelnya yang berjudul Suara Islam dan Kebangsaan dari Sigli, “Sangat disayangkan jika pemikiran cemerlang T.M Oesman ini tidak dikenal apalagi tidak dipelajari generasi muda cendikiawan Aceh. Seharusnya Badan Arsip Daerah Aceh menghimpun surat kabar ini dan tulisan-tulisan T.M Oesman…”

Salah satu tulisan T.M Oesman yang memadukan dua kekuatan itu—Islam dan kebangsaan—berjudul apakah yang dinamakan natie (kebangsaan itoe)? []

Catatan: T.M Oesman bernama lengkap  T.M Oesman el Muhammady. Dalam sejumlah  sumber lainnya, namanya tertulis dalam EYD: T.M Usman El Muhammady. Ia lahir pada 1903 dan meninggal dunia pada 1978. Soeara Atjeh konon berhenti terbit pada 1934.

Komentar

Loading...