Intimidasi Sang Rentenir dengan Bunga di Atas 50 Persen Melilit Leher M Adam  

·
Intimidasi Sang Rentenir dengan Bunga di Atas 50 Persen Melilit Leher M Adam  
Rumah M Adam di Gampong Pasi Rawa, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co – Jumat, 1 Oktober 2021 sekitar pukul 19.00 WIB, Bunda Benteng alias Bu Tejo menyambangi rumah Muhammad Adam, 36 tahun, di Gampong Pasi Rawa, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Kedatangannya ke sana untuk meminta Adam segera membayar pinjamannya yang sudah melewati tanggal jatuh tempo.

Beberapa jam sebelumnya, Muhammad Adam dan istrinya, Aida Fatia, 35 tahun, membawa anak bungsu mereka,  MI, 6 tahun, ke RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli karena MI harus menjalani perawatan setelah ia diserang demam yang tinggi. Anak sulungnya, DA, 11 tahun, dititipkan di rumah kakak Adam yang terletak di gampong yang sama.

Setelah Adam mengantarkan Aida dan MI ke rumah sakit, pada pukul 18.40 WIB, Adam kembali ke rumah untuk mengambil bantal dan tikar yang akan dia bawa ke rumah sakit karena MI harus menjalani rawat inap.

Belum sempat Adam keluar rumah, Bu Tejo tiba bersama seseorang menggunakan sepeda motor. Bu Tejo menghardik Adam di depan rumah Adam.

"Besok siang uangnya saya bayar. Barusan anak saya masuk ke rumah sakit, dan saya hendak ke sana,” kata Aida menirukan ucapan Adam pada Bu Tejo.

"Harus ada malam ini. Saya tunggu sampai pukul 12 malam," kata Bu Tejo.

Rumah tempat Adam tinggal berukuran 6 x 6 meter dan memiliki dua kamar tidur dengan sebagian dinding terbuat dari papan kayu dan sebagian lainnya terbuat dari seng bekas dan triplek. Rumah itu berdiri 20 meter dari bibir pantai.

Di sepanjang kiri dan kanan rumah itu, tidak ada rumah lain yang berdiri. Rumah tetangga paling dekat berjarak sekitar 40 meter di depan rumah Adam.

Pada Selasa, 7 September 2021, dinding rumah itu sempat terbakar. “Pada 1 Oktober 2021 rumah kami kembali terbakar meski tidak fatal,” kata Aida, Minggu, 3 Oktober 2021.

Adam menelepon Kiki, anak Bu Tejo. Ia menceritakan bahwa sang ibu telah memakinya di rumah.

Usai menelepon Kiki,  Adam membawa tikar dan bantal ke RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli. Adam tidak lagi melintasi jalan desa yang biasa dia lalui saat ia keluar rumah, tetapi ia memilih jalan lainnya yang terbilang sepi. "Mungkin Abang (Adam) malu karena dimaki-maki,” kata Aida.

Adam sempat singgah di rumah kakaknya dan meminta anak sulungnya, DA, tidur di rumah kakaknya di Gampong Pasi Rawa karena Adam tidak tidur di rumah malam itu. DA sempat menolak dan meminta ikut ke rumah sakit.

Adam mengangguk. Ia berjanji akan kembali pada pukul 21.00 WIB untuk menjemput anak sulungnya itu. Apa yang dijanjikan Adam tidak ia tepati. DA, belakangan, menginap di rumah bibinya yang lain, Yusnaini, 49 tahun, di Gampong Blok Sawah, Kecamatan Kota Sigli.

Bu Tejo membuntuti Adam hingga ke gerbang rumah sakit. Itu sebabnya Adam tak mengambil makan malam pada salah seorang penjual nasi di depan Meunasah Lambeusoe.

"Bagaimana bisa saya mengambil nasi, Bunda Benteng mengikuti saya dari belakang. Malu saya nanti jika dia memaki saya di depan orang,” kata Adam pada Aida.

Aida menanyakan apa yang akan dilakukan Adam untuk membayar pinjaman tersebut. “Kata Abang dia akan mencari pinjaman lain,” sebut Aida.

Pada pukul 21.00 WIB, Adam pamit pada Aida untuk menjemput DA. Pada pukul 22.30 WIB, Aida menerima panggilan telepon dari Bu Tejo. Bu Tejo mencecar Aida tentang keberadaan Adam.

Aida lantas menelpon Adam.

"Abang masih di rumah. Mungkin sebentar lagi Abang balik ke rumah sakit,” kata Adam pada Aida melalui sambungan telepon selular.

sinarpidie.co mengonfirmasikan hal itu pada Bu Tejo. Mantan istri pensiunan anggota TNI ini kini menjual nasi ayam penyet sebelum Pasar Grong-Grong. Ia menolak memberitahukan nama aslinya. Bu Tejo tinggal di Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli. Rumahnya terletak di belakang Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli.

sinarpidie.co mengonfirmasi nama Bu Tejo pada Keuchik Gampong Benteng, Triko Irianes. “Saya tidak kenal dan belum pernah mendengar nama itu. Akan saya cek dulu,” kata Triko, Minggu, 3 Oktober 2021.

Bu Tejo mengakui bahwa dirinya menyambangi rumah Muhammad Adam di Gampong Pasi Rawa Jumat, 1 Oktober 2021 sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, katanya, dirinya tidak mengintimidasi dan tidak membuntuti Adam hingga ke rumah sakit.

“Saya datang ke rumah Adam setelah magrib. Itu pun karena istrinya yang suruh datang.  Adam berjanji akan membayar hutang pada pukul 12 malam. Saya bilang pada Adam, jangan datang pukul 12 malam, datang pukul 10 malam saja atau besok pagi saja bayar,” kata Bu Tejo pada sinarpidie.co, Minggu, 3 Oktober 2021.

***

Sabtu, 2 Oktober pukul 01.30 WiB, Aida gelisah. Karena Adam tak kunjung kembali ke rumah sakit, Aida lantas menelpon Adam. Handphone Adam aktif, tapi Adam tidak menjawab panggilan Aida.

Pada pukul 06.00 WIB, Aida kembali menelepon Adam, namun handphone Adam tak aktif. Karena Aida harus bekerja mengantar-jemput anak sekolah, Aida menelepon kakaknya, Yusnaini, untuk membangunkan Adam di rumah agar ia pergi ke rumah sakit.

Sesaat sebelum Yusnaini mencoba membuka pintu depan dengan menggunakan sisir, DA telah membuka pintu belakang rumah dan mendapati ayahnya telah tergantung. DA berlari menemui bibinya yang telah berteriak histeris.

"Ada goresan kecil di bagian perut dan selangkangan Abang," kata Aida.

Surat Adam. Dok. Satreskrim Polres Pidie.

Di dalam dompet Adam, yang berada di dalam kantong belakang celana chino cokelat, Aida menemukan sepucuk surat yang konon ditulis Adam. Di dalam surat tersebut, Adam diduga menuliskan alasannya melakukan bunuh diri.

Aida menerima telepon dari anak Bu Tejo alias Bunda Benteng, Kiki, saat polisi berada di rumahnya. Kiki menanyakan keberadaan Adam. Aida menjawab bahwa Adam sudah meninggal. "Nanti saja saya ceritakan," kata Aida pada Kiki.

Aida dan Adam sudah menikah selama 13 tahun. Pasangan suami-istri ini dikaruniai dua anak. Sehari-hari, Adam bekerja sebagai tukang parkir. Sesekali Adam menyambi sebagai buruh bangunan dan melaut. Namun dalam satu bulan terakhir Adam tidak bekerja sama sekali. “Terakhir Abang (Adam) mengecat pagar Polres,” kata Aida.

***

Tiga bulan yang lalu, Muhammad Adam dan istrinya, Aida, meminjam uang Rp 4,5 juta pada Bu Tejo alias Bunda Benteng di rumah Bu Tejo di Gampong Benteng. Uang tersebut digunakan untuk menebus sepeda motor metik yang sempat digadaikan.

Pinjaman tersebut harus Adam tutup Rp 960 ribu per minggu dalam dua bulan atau delapan kali bayar. Dengan kata lain, Adam harus melunasi Rp 7.680.000 pada Bu Tejo.

Setelah sepakat, Adam menandatangani kuitansi dan KTP-nya menjadi jaminan hingga pinjamannya lunas.

Adam terakhir menyetor uang pada Bu Tejo, Senin, 20 September 2021 sekitar pukul 20.00 WIB. “Uang tersebut diantar ke Pasar Grong-Grong tempat di mana Bunda Benteng berjualan ayam penyet. Rp 700 ribu uang yang Abang serahkan saat itu. Rp 200 dari saya, Rp 200 dari kakak saya, dan Rp 300 ribu dari bibit udang bantuan Dinas Perikanan Pidie,” kata Aida.

Sisa pinjaman Adam pada Bu Tejo adalah Rp 2,6 juta.

Tempat Bu Tejo alias Bunda Benteng berjualan ayam penyet sebelum Pasar Grong-Grong. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Aida telah berulangkali melarang Adam meminjam uang senilai Rp 4,5 juta pada Bu Tejo. Sebelumnya, nilai pinjaman Adam pada Bu Tejo hanya Rp 1 juta.

"Pinjaman Rp 1 juta harus dibayar Rp 540 ribu per minggu dalam kurun waktu satu bulan atau empat kali bayar,” kata Aida.

Kurang-lebih, Adam telah meminjam uang pada Bu Tejo sebanyak tujuh kali.

Pada sinarpidie.co Bu Tejo mengatakan bahwa pinjaman Rp 4,5 juta tersebut dalam bentuk emas. “KTP Adam saat ini masih ada pada saya. Syarat ambil uang hanya KTP dan teken kuitansi saja,” tutur Bu Tejo. []

Reporter: Candra Saymima dan Diky Zulkarnen

 

Loading...