Ini yang Dipaparkan Prof Jasman dalam FGD Start Up Sistem Terintegrasi Peternakan Unggas Aceh

·
Ini yang Dipaparkan Prof Jasman dalam FGD Start Up Sistem Terintegrasi Peternakan Unggas Aceh
Sumber foto: pertanianku.com

sinarpidie.co—Jumlah produksi telur dan produksi daging ayam di Aceh dari tahun ke tahun bergerak fluktuatif. Pada 2011, produksi telur di Aceh sebanyak 2.419 ton. Lalu, pada 2012, produksi tersebut mengalami peningkatan menjadi 3.604 ton dan turun menjadi 2.196 ton pada 2013. Kemudian, pada 2014 angka produksi telur kembali menyusut menjadi 1.892 ton. Pada 2015, jumlah produksi telur menunjukkan peningkatan dalam jumlah yang relatif kecil dari tahun sebelumnya, yakni 1.987 ton.


Sementara itu, produksi daging ayam menunjukkan penurunan angka yang signifikan dan menunjukkan tren negatif sejak 2013. Pada tahun 2011, jumlah produksi daging ayam di Aceh mencapai 6.439 ton dan meningkat menjadi 8.567 ton pada 2012. Jumlah tersebut kemudian turun drastis pada 2013 menjadi 4.045 ton. 4.421 ton pada 2014 dan 4.642 ton pada 2015.

Demikian data yang dipaparkan Prof Dr Jasman J Ma’ruf MBA dalam presentasinya kala berlangsungnya Focus Group Discussion (FGD) “Start Up Sistem Terintegrasi Peternakan Unggas Aceh” yang digelar di Aula Dinas Peternakan Aceh, di Banda Aceh, Senin, 12 Maret 2018.

“Dibandingkan Sumatera Utara, jumlah produksi telur dan daging ayam di Aceh sangat jauh tertinggal. Pada 2015, kita memproduksi 1.987 ton telur, sementara Sumatera Utara memproduksi 134.065 ton telur. Aceh memproduksi 4.642 ton daging ayam pada 2015, sedangkan Sumatera Utara memproduksi 39.146 ton daging ayam pada 2015,” kata dia.

Dia mengungkapkan, untuk meningkatkan jumlah produksi telur dan daging ayam, termasuk meningkatkan jumlah populasi unggas, membangun sistem pengembangan ternak secara terintegrasi merupakan sebuah keharusan.

Di samping itu, dia juga menguraikan sebuah siklus yang saling berkaitan antara satu sama lain dalam pengembangan sektor tersebut, yakni sarana produksi peternakan, peternak, petani jagung, petani kedelai, peternak ayam petelur, dan peternak ayam pedaging. Elemen-elemen tersebut terhubung pula dengan distributor telur ayam, distributor daging ayam, dan pasar telur serta pasar ayam.

Kesemuanya itu, kata Rektor Universitas Teuku Umar tersebut, juga harus diikuti  dengan inovasi pada jasa layanan keuangan dan layanan manajemen dalam proses pengintegrasian sistem.

“Integrasi ke belakang dan ke depan, pembentukan institusi pengelolalaan pengintegrasian subsistem, pemilihan bentuk lembaga pembiayaan, mekanisme pengajuan proposal, arus pemesanan dan proses pembukuan, dan arus pencatatan serta pendistribusian keuntungan perusahaan peserta dan pusat pengembangan peternakan ayam terintegrasi (P3AT),” kata dia, menjelaskan.

Dia juga menjelaskan tentang bentuk dan struktur organisasi pusat pengembangan peternakan ayam terintegrasi (P3AT) tersebut, yang terdiri dari direktur utama dan sekertaris eksekutif di bawahnya. Kemudian, pada tingkatan di bawahnya lagi, ada akutansi dan keuangan, pemasaran, penjamin mutu, dan teknologi informatika.

Di lain pihak, Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya MSi menjelaskan, tujuan diselenggarakannya kegiatan FGD tersebut guna mewujudkan salah satu visi dan misi Gubernur Aceh, yakni mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan.

“Khususnya dalam rangka pemenuhan bahan pangan dan gizi bagi seluruh rakyat Aceh secara mandiri,” ujarnya. “Bahan pangan dan gizi yang menjadi kewenangan Disnak yakni terpenuhinya daging, susu dan telur.”

Mengingat kebutuhan telur yang amat tinggi dan sampai saat ini Aceh belum mampu memenuhinya secara mandiri, maka ke depan, kata dia, kondisi ini harus segera dicarikan jalan keluarnya.

“Antara lain dengan semua stekholder dan harus terintegrasi antar dinas dalam Pemerintahan Aceh,” kata dia lagi. ”Sehingga sedikit demi sedikit sistem berpikir yang ego sektoral dan konvensional akan bisa segera diganti dengan cara berpikir modern, menguasai teknologi, menggunakan sistem online serta terintegrasi dengan sektor lain.” []

Loading...