Cerita Pendek

Ikan dari Langit

·
Ikan dari Langit
Sumber: peradabandunia.com

Karya Azhari Aiyub

MENJELANG Pemilihan Umum, malam sehabis isya itu Si Tukang Syair kembali datang ke kampung kami. Dia datang membawa rapa’i dan suara yang diparaukan.

Tak ada yang tahu kapan datang dan perginya Si Tukang Syair. Dia bersyair sepanjang lorong kampung, mengisahkan segala ihwal. Kata ayah, dia bukan bersyair tapi bernujum.

“Dia datang dikirimkan angin,” kata ibu pula.

Dengarlah, dia berkisah tentang segala ihwal. Orang-orang cukup mendengarkannya dari dalam rumah. Karena Tukang Syair berhikayat sambil berjalan-jalan ke sana kemari tak tentu arah. Dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Di awal hikayat, pada tabuh rapa’i yang lamat, dia mengisahkan kembali tentang kelahiran dan penderitaan Rasulullah. Hampir separuh malam dia seperti membangkitkan Nabi dari kuburnya. Orang-orang sebenarnya menunggu akhir hikayat tiba: ketika Tukang Syair menyisipkan suatu ihwal penting. Entah pesan entah anjuran.

“Akan jatuh ikan dari langit. Akan jatuh ikan dari langit. Ikan yang dibuang Tuhan. Ikan-ikan peliharaan Abu Lahab.” Berulang-ulang Si Tukang Syair mengatakan itu hingga suaranya habis di ujung kampung.

Hujan memang tak turun bahkan hingga Pemilihan Umum usai. Tak ada ikan-ikan yang jatuh dari langit. Tapi beberapa hari menjelang hari pencoblosan, para mugee cuma menjual satu jenis ikan saja. Menurut kabar, ikan yang disebut Tukang Syair itu memenuhi mulut kuala. Seperti bala tentara, mereka merapat dan menahan laju perahu nelayan. Sepekan lamanya.

Seusai Pemilihan Umum, aku melihat api dimasukkan ke mulut Si Tukang Syair. Mulut itu dikatupkan dengan paksa untuk mengulum api. Lalu mereka menggunting lidahnya, dan memacak lidah itu di ujung galah. Mereka menjulur-julurkannya ke langit. Di ujung galah, aku melihat jelas daging lidah yang sehitam arang—entah karena terbakar matahari atau karena hangus semenjak di dalam mulut.

Kata ayah, orang-orang partai telah mengambil paksa pita suara Si Tukang Syair. Karena ikan yang disebut Si Tukang Syair dalam bahasa kami sama dengan sebuah partai besar yang kalah suara di mukim kami. []

Azhari Aiyub adalah sastrawan, esais, dan Direktur Komunitas Tikar Pandan.

Catatan: Cerita pendek ini dikutip dari buku Perempuan Pala terbitan Mojok (2015). Penanyangan cerita ini di sinarpidie.co telah memperoleh izin dari penulisnya.

Cerita ini pernah dimuat di Koran Tempo pada 2004 silam, lalu dibukukan bersama kumpulan cerita-cerita Azhari lainnya: Perempuan Pala (AKY Press, 2004). Pada 2015, buku tersebut dicetak untuk kedua kalinya oleh Penerbit Mojok.

Loading...