Hikayat Peniup Angin Surga

·
Hikayat Peniup Angin Surga
Sumber ilustrasi seruling: klipartz.com.

Alkisah, di suatu pos jaga di satu kampung, duduk seorang peniup seruling yang terbuat dari pipa. Ia tak hanya pandai meniup seruling dengan mulut, tapi juga dapat menggunakan hidungnya untuk menghasilkan nada-nada yang sesempurna embusan mulutnya. Tiap kali dia duduk di pos jaga, anak-anak akan menghampirinya. Bukan hanya ingin mendengar tiupan serulingnya, anak-anak ini juga senang mengamati benda-benda ajaib yang ada di dua kaleng cat bekas yang selalu dibawa Si Peniup Seruling.

Siang itu, di dalam dua kaleng cat bekas Si Peniup Seruling, terdapat ratusan butir kelereng. Si Peniup Seruling tersebut kemudian meraih dua kaleng cat bekas lalu menggenggam puluhan kelerang.

“Budi,” kata si peniup seruling, “ini kelereng susu. Kau hitung berapa jumlahnya.”

Beberapa saat kemudian, Budi berkata, “41 butir kelereng susu, Peniup Angin Surga.”

“Budi, kau tahu mengapa aku dipanggil Peniup Angin Surga?”

Anak-anak lainnya tertawa mendengar pertanyaan si Peniup Angin Surga. Budi menggelengkan kepala.

“Karena kata orang, bayi yang lapar akan berhenti menangis tatkala mendengar bunyi seruling yang kumainkan,” kata Si Peniup Seruling. “Dan kau tahu, Budi, yang dibutuhkan orang yang lapar, termasuk bayi yang kelaparan, adalah nasi, Budi. Nasi. Tak penting apakah itu nasi dicampur minyak dan garam atau kecap asin. Nasi, Budi, yang dibutuhkan orang yang kelaparan, bukan khotbah.”

Si Peniup Seruling menggaruk tengkuknya yang hitam. Ia meludah ke tanah.

“Kemarin lusa, kuberikan kau 34 butir kelereng susu. Kita sepakat, kan, Budi, bahwa 10 dari 34 butir kelereng yang laku kaujual, menjadi hakku,” kata si Peniup Seruling.

Budi merogoh saku celana pendeknya. Ia menyodorkan kertas ke arah si Peniup Seruling. “Ini catatan kelereng-kelereng yang sudah laku, Peniup Angin Surga,” tutur Budi seraya menundukkan wajah.

“Aku hanya ingin tahu, jika 34 butir kelereng tersebut sudah laku, di mana uangnya. Jika belum laku, di mana kelerengnya,” tutur si Peniup Seruling. “Kertas ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus mie Wak Omah, Budi.”

Penggalan cerita tersebut, dalam beberapa hal, persis sama dengan kondisi RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli hari ini. Mamen—bukan nama sebenarnya— merupakan salah seorang pegawai Cleaning Service di RSUD TCD. Sejak Januari 2021, Mamen belum menerima gaji dan uang jasa pelayanan sepeser pun. “Sudah tiga bulan, ya,” katanya, Selasa, 16 Maret 2021.

Tentu orang seperti Mamen dan tenaga CS lainnya tak membutuhkan retorika-retorika murahan dan kampungan yang tak memilki dasar. Kalau BPJS Kesehatan sudah membayar klaim, mengapa uang jasa pelayanan tak sampai ke kantong kami? Jika uang tersebut tidak kami terima, lantas ke mana uang tersebut mengalir? Lalu, jika ada sebagian pegawai dan tenaga medis di RSUD TCD menerima uang jasa pelayanan untuk September 2020 pada 23 Februari 2021 lalu, mengapa kami tidak?

Baca juga:

“Di kertas ini rinci tercatat kepada siapa saja kelereng-kelereng sebelumnya kujual, Peniup Angin Surga,” kata Budi, menyodorkan sekali lagi kertas, yang sedari tadi ia pegang, kepada si Peniup Angin Surga.

Peniup Angin Surga meraih kertas tersebut dan mengamatinya lekat-lekat. “Jika kelerengnya laku, di mana uangnya, dan jika kelerengnya tidak laku, di mana kelerengnya. Sesederhana itu, Budi.” []

Loading...