Hari-Hari Penjaga Pintu Air di Musim Banjir

Hari-Hari Penjaga Pintu Air di Musim Banjir
Sarjani, 34 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie, petugas operasional Bendung Pinto Sa Krueng Tiro/Truseb. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co-Sarjani, 34 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie,  setiap pukul 07.00 WIB melangkahkan kaki menuju  Bendung Tiro. Ayah tiga anak ini mengecek debit air melalui air yang melaju pada bendung itu. “Botol ini saya pasang jam lima sore kemarin. Setiap jam tujuh pagi saya lihat berapa banyak air yang terkumpul dalam botol ini,” kata sarjani sambil menunjukkan botol berbentuk tabung dengan panjang sekitar 30 cm dan diameter sekitar 3 cm.

Dia adalah petugas operasional Bendung Pinto Sa Krueng Tiro/Truseb. Sarjani telah bekerja sebagai petugas operasional Bendung Pinto Sa semenjak 2008 silam. Setiap harinya, Sarjani paling tidak harus pergi ke bendung tersebut dua kali, yaitu pukul 07.00 WIB dan pukul 17.00 WIB.

“Kalau sedang banjir, kadang tengah malam saya harus ke sini untuk menutup pintu air,” katanya. “Honor saya sebelumnya Rp 150 ribu sebulan. Bulan kemarin naik menjadi Rp 300 ribu sebulan.”

Kata dia, hal yang paling sulit dalam pekerjaannya adalah membersihkan pintu bawah bendungan dari sampah, ranting, dan dedaunan yang di bawa arus sungai. “Saya harus mengikatkan tali pada tubuh saat membersihkannya agar saya tidak dibawa arus,” sebutnya.

Dia menjelaskan, dirinya tidak setiap hari membuka dan menutup pintu intake (untuk irigasi). Katanya, pintu itu tetap terbuka setiap harinya, kecuali saat debit air sungai meningkat maka pintu itu akan ditutup.

“Kalau banjir pintu buangan bendung dan intake akan kita tutup. Kalau air sudah surut, pintu buangan akan kita buka sebelum pintu intake kita buka lagi,” katanya. “Untuk membuka dan menutup pintu intake saya berkoordinasi lewat HP dengan petugas PPA atau petugas pintu air di bawah."

Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Tiro, kata dia, sudah sangat dangkal dan bentang aliran sungai juga  berubah. “Hal itu membuat macet pintu bagian bawah sehingga pintu bagian bawah bendungan sudah tidak dapat dibuka dan ditutup. Dangkal dan bentang berubah karena penambangan pasir batu di dekat bendungan,” tutupnya. []

Loading...