Laporan Utama

Hari-Hari Pegawai Honor 80 Persen

·
Hari-Hari Pegawai Honor 80 Persen
Daftar piket operator WTP Keumala. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Cerita tentang hari-hari dua operator WTP Keumala dalam melaksakan tugas.

sinarpidie.co –Jalan itu berkelok-kelok dan menanjak. Seorang perempuan paruh baya, bersama dua anaknya, tengah duduk di pinggir jalan. Beberapa meter dari tempat ketiganya berdiam, tepat di sebelah kanan jalan raya, berdiri sebuah bangunan berwarna putih dan biru. Sebuah mobil pick-up, di mana tiga pria berbaju biru dongker dan celana hitam berada di dalamnya, keluar dari pintu gerbang bangunan itu.

Bangunan tersebut tampak lenggang. Di dalam, di ruang tengah, Fadli, 29 tahun, sedang tidur telungkup. Ia kemudian duduk bersimpuh di lantai keramik di dalam ruangan itu, dengan raut wajah yang memelas.

Gedung dan ruangan tersebut adalah tempat di mana Water Treatment Plant (WTP), Keumala, milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kreung Mon Baro, Pidie, dioperasikan dan difungsikan.

Dilansir dari borneonews.co.id, Selasa 8 Agustus, 2017, “Water Treatment Plant (WTP) adalah sebuah sistem yang difungsikan untuk mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang kurang bagus, agar mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standar yang diinginkan/ditentukan atau siap untuk di konsumsi.”

Sementara itu, dilansir dari pelitanusaperkasa.co.id, pembangunan WTP Keumala ini menguras dana sebesar Rp 36 miliar, yang bersumber dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Di Pidie, ada enam WTP: dua di Bereunuen, satu di Keumala, dua di Jabal Ghafur, dan satu di Garot.

“Konsumen PDAM kebanyakan di Sigli. Kalau di sini (Keumala-red), bisa dikatakan mudah air. Masyarakat cukup gali sumur sedikit saja, maka langsung dapat air,” kata Fadli, mulai bercerita tentang kesehariannya sebagai operator di WTP Keumala.

Menurutnya, satu-satunya pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Krueng Mon Baro di Kemukiman Keumala adalah Apa Karya alias Zakaria Saman, mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kadang, jika ada ngangguan terkait distribusi air, Apa Karya akan menelpon Fadli, untuk menanyakan masalah tersebut. Kata Fadli, ia juga pernah diminta untuk memperbaiki pipa di rumah Apa Karya.

“Apa,” ujar Fadli, mengusap tenggorokannya usai ia memperbaiki pipa air di rumah Apa Karya, “haus. Nggak ada kek air-air kopi.”

“Masak di PDAM kamu kerja, bisa haus!” kata Fadli, menirukan ucapan Apa Karya padanya ketika itu.

Kata Fadli lagi, ia sudah bekerja sebagai operator di WTP Keumala sekitar sepuluh tahun . Tugasnya: menjaga keamanan WTP Keumala, menghidupkan dan mengecek mesin pompa air, menaburkan tawas serta kaporit ke dalam air, dan memastikan penggunaan pasir putih di tempat penyaringan air, hingga menjawab telepon pelanggan yang kadangkala berselipkan umpatan pedas.

WTP Keumala. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Jika air keruh, maka pasir putih yang digunakan akan banyak,” kata pria yang berasal dari Gampong Pako, Kecamatan Keumala, Pidie, itu.

Beberapa waktu kemudian, Mustafa M Isa, 30 tahun, masuk ke dalam ruangan. Tangannya penuh dengan asinan salak. Sesekali Mustafa M Isa ikut menimpali dalam obrolan.

“Ini enak ini. Enak. Coba, Bang,” Mustafa menawarkan asinan salak yang baru dibawanya.

“Pompa kami di sini bisa menghasilkan 80 liter air per detik,” ungkap Mustafa, sambil menggigit salak. Mustafa tampak antusias tiap kali menjawab pertanyaan meskipun nada bicaranya agak tersendat-sendat.

Fadli menyulut rokok lalu mengambil sebuah bekas air kemasan gelas, yang dijadikannya asbak. Kemudian, ia menekan remote TV. Lagu-lagu yang berbahasa Padang, Sumatera Barat, terdengar di dalam ruangan itu.

Mustafa, warga Gampong Tunong, Kecamatan Keumala, berujar, salah satu tugas terberat mereka berdua ialah saat rusaknya mesin pompa air.

Tiap kali mesin pompa air rusak, Mustafa akan menyelam untuk melepaskan baut-baut pada mesin tersebut. “Sekali buka baut, sekali tahan napas di dalam air. Jumlah baut 30 buah. Kadang-kadang jam tiga malam masih menyelam,” tutur Mustafa, menyeringai. “Jika ada kerusakan mesin, bocor misalnya, sesudah mesin satunya lagi dipakai, maka air akan mengalir ke Sigli sekitar empat jam. Enam jam baru lancar.”

Dalam masa-masa itu, biasanya telepon genggam Mustafa dan Fadli akan terus berdering. “Kenapa, Bang, mati air?” tanya konsumen, via telepon. Telepon genggam mereka juga akan berdering saat PLN memadamkan listrik. Biasanya, hal itu terjadi kala mereka lupa menghidupkan mesin genset karena sedang tertidur pulas.

Ada dua mesin pompa air di WTP Keumala. Yang difungsikan hanya satu, satunya lagi sebagai mesin pompa air cadangan. Ketika mesin pompa air yang satu rusak, yang satunya lagi difungsikan.

“Yang rusak akan dibawa ke Langsa untuk diperbaiki,” tutur Fadli.

Dan, yang paling menyayat hati, kata Fadli, “pernah, hari raya Idul Fitri kami menyelam di dalam air saat orang lain sedang takbir.”

Tugas terberat lainya datang ketika musim hujan tiba. Biasanya, Fadli dan Mustafa akan berjaga-jaga di sekitar mesin pompa air, dengan memegang sebuah tongkat untuk menghalau kayu-kayu yang dibawa arus masuk ke dalam mesin pompa air. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan pada mesin.

“Mau tidak mau ya harus dikawal. Tidak tidur kadang-kadang,” ujar Mustafa.

Saat ditanyai status kerja mereka di PDAM Tirta Mon Krueng Baro, mereka menjawab, “kami honor 80 persen”.

“Pokoknya, honor 80 persen. Gaji kami sebesar Rp. 2 juta sekian,” kata Fadli.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Krueng Mon Baro, Drs Ridwan, mengatakan status Fadli dan Mustafa M Isa adalah karyawan perusahaan

“Mereka kan ada jadwal kerja masing-masing. Mereka ada tunjangan uang makan, tunjangan hari raya,” kata Drs Ridwan, Senin, 7 Agustus 2017, di dalam ruang kerjanya. Ruangan itu adalah salah satu ruangan pada gedung milik Proyek Irigasi Baro Raya Pidie yang dipinjam pihak PDAM Tirta Mon Krueng Baro.

Drs Ridwan, yang telah menjabat sebagai Direktur PDAM Tirto Krueng Mon Baro selama tujuh tahun, menambahkan, jumlah keseluruhan pegawai di perusahaan daerah yang ia pimpin itu sebanyak 38 orang.

Menanggapi pegawai honor 80 persen versi Fadli dan Mustafa M Isa, Drs Ridwan menjawab, “Mereka operator. Maksud 80 persen, lima tahun kerja. Dua tahun lagi jadi 100 persen.”

Kata Drs Ridwan lagi, gaji pegawai di PDAM Tirta Mon Krueng Baro merujuk pada standar gaji Pegawai Negeri Sipil. “Tunduk pada Permendagri. Pegawai kan ada golongan,” ungkap Drs Ridwan.

Dikutip dari situs hukumonline.com, Senin, 6 Maret 2017, PDAM merupakan BUMD di bidang pelayanan air minum, yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh daerah. Itu artinya, PDAM tidak menyelenggarakan pemerintahan.

“Oleh karena itu, PDAM bukan termasuk instansi pemerintah. […] pegawai PDAM tidak berstatus PNS. Namun, penyusunan skala gaji pegawai PDAM dapat mengacu pada prinsip-prinsip skala gaji PNS yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan PDAM yang ditetapkan dengan Keputusan Direksi,” demikian hukumonline.com.

WTP Keumala adalah tempat terdekat dari “induk air”, yang bersumber dari Krueng Baro, Keumala.

“Kalau Kreung Tiro tidak lagi produktif. WTP di Garot, di Jabal Ghafur, dan lainnya, semua airnya bersumber dari Kreung Baro, Keumala. Selain WTP Keumala, WTP lainnya hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan,” tutur Drs Ridwan. []

Loading...