Reportase

Hari-Hari di Panti Asuhan Bambi

Hari-Hari di Panti Asuhan Bambi
Panti Asuhan Penyantun Islam Bambi yang beralamat di Jalan Panti Asuhan nomor 6 Bambi, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co-Puluhan anak sedang bermain kelereng di antara gedung dua lantai yang berbentuk huruf U. Pada beberapa sudut di gedung putih itu berlumut dengan jendela kaca yang retak dan bolong.

Di dalam gedung itu, kamar-kamar seluas 4 x 4 meter berjajar. Pintu kamar-kamar itu tak bisa lagi dikunci. Batu digunakan sebagai pengganjal pintu. Di dalam setiap kamar, terdapat dua lemari kayu. Kondisi lemari tersebut sangat lusuh. Di dalam setiap kamar, juga terdapat dua ranjang  tidur bertingkat berbahan besi yang sudah bengkok.

Hampir semua kamar di sana serupa. Yang membedakannya hanyalah kipas angin. Ada beberapa kamar yang memiliki kipas angin, tapi kebanyakan kamar tak memiliki kipas angin. Di antara dua gedung yang saling terhubung tersebut, juga terdapat sebuah balai seukuran 2 x 4 meter dan empat tempat duduk beton.

Gedung berlumut itu adalah UPTD Panti Asuhan Penyantun Islam Bambi yang beralamat di Jalan Panti Asuhan nomor 6 Bambi, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. Ada 75 anak yang menghuni gedung tersebut: 27 anak berstatus sebagai pelajar SMA, 46 anak berstatus sebagai pelajar SMP, dan dua berstatus sebagai siswa SD.

Hutabriwati SSos, pengasuh di panti asuhan tersebut mengatakan selama Ramadhan anak-anak di panti ini menghabiskan waktu untuk belajar dan tadarus. "Mereka libur sekolah, malam mereka tadarus, kalau siang hanya belajar dan tidur," katanya, Selasa, 5 Mei 2020.

Hutabriwati sering mendapat keluhan dari anak-anak mengenai panasnya kamar mereka karena tak ada kipas angin. "Setiap kamar dihuni oleh empat anak, tapi mereka sering tidur di kamar teman yang ada kipas angin," kata Hutabriwati SSos lagi. "Begitupun fasilitas seperti tampat tidur yang sudah bengkok, dan kamar yang tidak punya jendela."

Firdaus, 13 tahun, yang berasal dari Gintong, Kecamatan Grong-Grong baru saja bangun tidur siang. "Kamar saya di gedung sebelah, tapi saya sering tidur di sini. Di sana tidak ada kipas angin," katanya.

Danial, 18 tahun, berasal dari Gampong Lingkok Busu, Kecamatan Mutiara sudah tinggal di sana selama 9 tahun. Dia tinggal di sana karena kedua kedua orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. "Saya dari kelas 4 SD di sini," kata dia. "Makan tiga kali sehari jika hari biasa. Saat puasa dua kali sehari, sahur dan berbuka."

Setiap harinya, dia memperoleh uang saku dan uang transportasi ke sekolah Rp 10 ribu. "Kalau puasa uang jajan Rp 5000 karena tak ada sekolah," kata siswa di MAN 1 Pidie tersebut. []



Loading...