Harga Beras Turun, Sebagian Pengusaha Kilang Padi di Pidie Stop Pembelian Gabah

·
Harga Beras Turun, Sebagian Pengusaha Kilang Padi di Pidie Stop Pembelian Gabah
Kilang padi di Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co - Harga beras cenderung tidak stabil dalam dua bulan terakhir. Akibatnya, pembelian gabah kering giling di kilang padi pun tak menentu karena biaya produksi penggilingan padi tidak sebanding dengan harga beras yang rendah. Satu bulan yang lalu, harga beras kualitas sedang Rp 8.600 per kilogram dan turun perlahan-lahan menjadi Rp 8.200 per kilogram. Di samping itu, harga beras kualitas premium, dari Rp 8.800 per kilogram, turun menjadi 8.500 per kilogram.

Fahmi, 25 tahun, pengelola kilang padi di Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, mengatakan dalam dua hari terakhir pihaknya tidak membeli gabah kering giling dari petani. Biasanya, Fahmi membeli 20 ton gabah untuk digiling menjadi beras di kilang padi tersebut per hari.

"Dari 20 ton gabah, 14 ton yang menjadi beras. Jika dihitung-hitung dengan harga jual beras, malah rugi kalau harga gabah seperti ini," kata Fahmi, Minggu, 21 Februari 2021.

Menurutnya, pengusaha kilang padi di Pidie tidak berpatokan pada satu harga dalam membeli gabah dari petani. Hal ini mengakibatkan para pengusaha kilang padi dengan kilang yang kapasitas produksi dan modal mereka kecil, kalah bersaing dengan pengusaha kilang padi yang memiliki modal yang besar. Di samping itu, harga beras juga ditentukan oleh pasar di Medan, Sumatera Utara.

"Harga beras dan harga gabah tidak sesuai. Seharusnya harga gabah mengikuti harga pasaran beras. Jika harga gabah Rp 4.850 per kilogram, sedangkan harga beras Rp 8.200 per kilogram, pengusaha kilang padi lokal cenderung rugi," kata Fahmi.

Di lain pihak,  petani menilai harga jual gabah kering giling saat memasuki panen raya musim tanam rendengan di Pidie berangsur-angsur turun dari Rp 5 ribu menjadi Rp 4.700 per kilogram.

Petani di Gampong Paloh Teungoh, Kecamatan Keumala, Pidie, Agussani, 43 tahun, mengatakan rendahnya harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani, khususnya biaya untuk membeli pupuk. "Seharusnya harga jual gabah di tingkat petani Rp 5 ribu ke atas. Kalau di bawah itu, petani tidak dapat untung," kata Agus.

Salah seorang pengepul gabah di Kecamatan Glumpang Baro, Nasrullah, 44 tahun, mengatakan merosotnya harga gabah karena sebagian kabupaten lainnya di Aceh juga sedang memasuki panen raya. "Hal itu berpengaruh pada merosotnya harga jual beli gabah," kata Nasrullah. []

Loading...