Gubuk-Gubuk Dapur Adee di Krueng Dhoe

·
Gubuk-Gubuk Dapur Adee di Krueng Dhoe
Khairani, 60 tahun, adalah salah seorang pembuat adee di Gampong Krueng Dhoe, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Sabtu, 11 September 2021 siang, suara anak-anak yang sedang mengaji menggantung di udara saat sinarpidie.co melewati gapura Gampong Krueng Dhoe, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. Ada dua balai pengajian yang mengapit jalan menuju ke dalam gampong tersebut.

Di gampong yang jauhnya sekitar 4 kilometer dari pusat Kecamatan Kembang Tanjong ini, sebagian besar perempuan bangun tidur pada pagi buta--pukul 03.00 WIB-- untuk membuat adee, penganan yang legit dan agak manis.

Khairani, 60 tahun, warga Gampong Krueng Dhoe, adalah salah seorang pembuat adee yang masih bertahan dengan racikan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. "Selesai membuat adee pada pukul 08.00 WIB," katanya.

Khairani memiliki dapur khusus tempat adee dibuat, sebuah gubuk yang berdindingkan kombinasi antara anyaman daun kelapa, bambu, tripleks dan papan kayu. Gubuk tersebut terletak di samping rumahnya. Gubuk serupa bisa ditemukan di rumah-rumah warga lainnya di gampong setempat.

"Itu hitam karena asap yang mengepul saat membuat adee," kata perempuan yang telah membuat adee sejak 1985 itu, menunjuk ke atap daun sagu gubuk tersebut.

Di dalam gubuk itu, serabut kelapa menggunung di sana-sini. "Serabut kelapa ini saya beli Rp 320 ribu per mobil pikap Cary. Mungkin ada 1.000 serabut kelapa, tapi saya tidak pernah menghitungnya," kata Khairani. "Adee dibakar dengan menggunakan serabut kelapa, bukan menggunakan kompor gas ataupun dioven."

Baca juga:

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat adee adalah bawang merah, minyak goreng, gula pasir, adas manis, santan, pewarna, dan tepung beras.

Tepung beras yang digunakan mestilah tepung beras yang ditumbuk menggunakan jeungki. Berasnya pun haruslah beras yang telah usang atau beras yang telah lama.

Urutan membuat adee diawali dengan menyiapkan santan. Tiga kelapa dikukur lalu daging mereka diblender sebelum dijadikan santan. Proses berikutnya adalah menghaluskan tiga butir bawang merah lokal dan satu jumpet adas manis menggunakan batu giling. Setelah selesai menghaluskan dua bahan tersebut, proses berikutnya adalah mencampurkan tepung beras dengan takaran tiga kaleng bekas susu, bawang dan adas yang telah halus, satu kilogram gula, dan pewarna berwarna ke dalam santan. Mereka diaduk hingga menjadi adonan yang kental.

Adonan dalam kuali yang terbuat dari tanah liat tersebut kemudian dipanaskan dengan serabut kelapa. Ukuran kuali-kuali tersebut hanya sebesar telapak tangan orang dewasa.

Sebelum dipanaskan, kuali terlebih dulu diminyaki dengan minyak makan. Kuali itu kemudian ditutup dengan seng datar. "Biasanya matang dalam waktu dua menit untuk setiap satu adee," kata khairani. " Saya lebih memilih menghanguskan bagian pinggir adee agar rasanya lebih enak dan renyah."

Saat matang, adee  terlebih dahulu diletakkan di atas nampan sebelum dilipat dan dimasukkan ke dalam kemasan plastik.

Per hari, Khairani membuat 200-an adee lalu mengemas mereka dalam kemasan plastik. Setiap plastik berisikan lima potong adee yang telah dilipat. "Ade yang dikemas harus diapit daun pisang kering agar adee tak mudah basi dan tahan lama," tutur ibu empat anak itu.

Pengepul mengambil adee pada pukul 08.30. Untuk setiap kemasan yang berisi lima adee, harganya Rp 4 ribu. Di tingkat konsumen, harga satu kemasan adee ini Rp 5 ribu. []

Loading...