Geuni dan Kemurungannya yang Sempurna

·
Geuni dan Kemurungannya yang Sempurna
Air terjun Geunie. Foto Firdaus.

KETIKA saya sampai ke Gampong Lhok Keutapang, Kecamatan Tangse, Pidie, kemiskinan tengah menampakkan wujudnya dalam bentuk yang paling sempurna.

Sebuah jembatan gantung berayun-ayun agak goyah sewaktu saya melewatinya dengan mengendarai sepeda motor. Beberapa papan, yang menjadi lantai jembatan gantung itu, telah copot.

Jalan menuju ke Air Terjun Geunie. Foto direkam pada 2016 silam. Foto: Firdaus.

Begitu melewati jembatan itu, kau akan akan membikin sepeda motor, bahkan kakimu, melaju dan berjalan di atas jalan yang serupa gigi-gigi pada gusi seorang lansia.

Seorang bocah duduk di tengah jalan. Ia menangis sesenggukan. Ibunya, seorang perempuan paruh baya yang pagi itu mengenakan daster, menggerutu dengan nada yang tak terdengar jelas.

Agak sedikit ke depan, tampak beberapa perempuan muda tengah menyusu anak mereka di depan rumah mereka yang saling bersebelahan. Lebih jauh lagi ke depan, beberapa bocah dengan celana kedodoran sedang berlari-lari di jalan.

Hampir tiap rumah papan dan semi permanen yang berjajar di sepanjang jalan di sana tampak sibuk pagi itu. Para perempuan di sana tengah mengupas biji pinang dan menjemur biji-biji tersebut di halaman rumah mereka.

Sabtu, 27 Februari 2016, saya bersama beberapa anggota Lembaga Pers Mahasiswa Pijar Unigha menyambangi kampung tersebut. Kami ingin berkunjung ke air terjun yang terletak di atas pegunungan di kampung yang dikenal dengan sebutan Geuni itu. Pun nama air terjun di sana: Air Terjun Geuni.

“Harga pinang kering dibeli muge Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan yang masih basah Rp 9 ribu,” kata pria jangkung berkulit gelap yang menjadi pemandu perjalanan kami.

Ia dipanggil Pon. Bang Pon. Umurnya 30 tahun. Kerjanya serabutan: berladang dan menjadi pemandu ke tempat air terjun ini.

Beberapa waktu ke belakang, kata dia, harga pinang mencapai Rp 19.000 per kilogram. Kini harganya terjun bebas.

Muge adalah sebutan untuk pengepul atau agen, dalam Bahasa Aceh. Di Geuni, ada dua muge: muge cokelat dan muge pinang. 

“Lihat saja dua rumah yang paling besar. Itu punya mereka,” kata pemandu kami itu.

Permukaan tanah di sana landai. Curam. Dikelilingi pepohonan yang membuat tempat sekitar tampak agak gelap.

Semakin ke atas, jalanan semakin sempit: dari jalan semen menjadi jalan setapak yang becek, yang dilalui petani, pengangkut pasir, pencari rotan, nelayan, dan kerbau pengangkut kayu.

Kecuali laut, kampung ini punya semuanya: sungai yang jernih, sawah yang subur, hutan yang rindang, dan ladang yang ditumbuhi berbagai tanaman. Nyaris sempurna.

Hamparan sawah dan perbukitan. Foto direkam pada 2016. Foto: Firdaus.

Kau mesti melewati tiga anak sungai dengan tinggi air selutut yang lajunya agak deras untuk bisa melihat Air Terjun Geuni.

Waktu tempuh dari Kota Sigli, Ibu Kota Kabupaten Pidie, ke kampung itu, sekitar satu jam berkendara. Dan, dari kampung tersebut ke tempat air terjun, dengan berjalan kaki, memakan waktu sekitar 20 menit.

Jika hendak berkunjung ke sini, kau mesti melapor pada keuchik (kepala desa). Karena jika tidak, sesuatu kemalangan besar kemungkinannya akan menimpamu.

Di sekitar sungai, bebatuan cadas teronggok serampangan.

Lutung-lutung berteriak serempak. Terdengar seperti suara kelompok paduan suara. Agak panjang dan itu mereka lakukan berkali-kali. Di antara suara-suara itu, terdengar pula kicauan burung.

Air terjun itu tak terlalu tinggi. Ada beberapa tempat yang agak dalam, tempat kita bisa menceburkan diri.

Di samping aliran air terjun itu, ada sebuah lubang selebar tiga kali tubuh manusia. Di dalam sana, kata pemandu kami yang ramah itu, anak-anak muda kampung itu sesekali menombak ikan kerling di malam hari.

“Dengan senter di kepala. Bawang putih dan on murong di dalam saku celana, untuk mengusir jin,” kata dia. []

Tulisan ini pernah ditayangkan dilaman LPM Pijar Unigha pada Februari 2016.

Loading...