Generasi Ketiga Lontong Gado-gado Abua Awak Awai

·
Generasi Ketiga Lontong Gado-gado Abua Awak Awai
Arif Rinaldi, 20 tahun (kanan), generasi ketiga penjual lontong gado-gado yang cukup terkenal di Kota Sigli: Lontong Gado-gado Abua Awak Awai. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Deru mesin kendaraan yang lalu-lalang di Jalan Perdagangan Kota Sigli tak membuat Arif Rinaldi, 20 tahun, terganggu.

Di balik sebuah gerobak dengan bingkai kayu yang bercat hijau dan garis kuning, yang berukuran 50 x 200 cm, sekitar 15 meter dari Jembatan Pante Teungoh, pria yang bertempat tinggal di Gampong Lampoh Krueng, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, ini, memotong lontong dalam bungkusan daun pisang sebesar lengan orang dewasa menjadi segitiga yang berukuran 6 cm².

Lontong-lontong yang telah dipotong-potong itu dimasukkan ke dalam sebuah baskom. Dalam dua puluh detik, Arif Rinaldi dapat memotong satu bungkus lontong.

Usai memotong beberapa bungkus lontong, dengan sedikit membungkukkan badan, ia mengupas lalu mengiris kentang.

Di bagian depan gerobak yang dilapasi kaca, frasa “Lontong Gado-gado Abua Awak Awai”—dalam bentuk stiker— menempel dalam paduan warna hijau dan merah.

Potongan tahu menumpuk di satu piring, dan potongan kentang menggunung di satu piring lainnya.

Potongan kacang panjang, taoge, daun kol, daun bawang, daun sop, air cabai, juga memenuhi piring-piring yang berbeda-beda.

Satu baskom potongan lontong, satu botol kecap asin, satu toples kerupuk, dan satu bejana bumbu kacang serta tumpukan kertas cokelat dan daun pisang saling berdesakan di balik lapisan kaca gerobak itu.

Arif Rinaldi adalah generasi ketiga penjual lontong gado-gado yang cukup terkenal di Kota Sigli. Ia mewarisi cara menakar lontong, kacang panjang, taoge, daun kol, daun bawang, daun sop, air cabai, ke dalam satu bungkus lontong gado-gado dari kakek dan ayahnya.

Kakeknya, Abdulah Binseh, —kini almarhum— merintis usaha tersebut sejak tahun 1968. Mulanya, sang kakek memarkir gerobak di depan sebuah warung kopi di dekat Terminal Bus di Gampong Blok Bengkel, yang kini telah menjadi Terminal Labi-labi. Pada tahun 1974, ayahnya, Razali Abdullah, mengambil alih gerobak lontong gado-gado itu. Di terminal itu, gerobak ini bertahan hingga akhir 1990-an.

Harga lontong itu, untuk satu porsi, Rp 10 ribu. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Setelah beberapa dekade berlalu, sejak 2017, Razali Abdullah mempercayakan gerobak tersebut di tangan Arif. Arif tamatan SMA. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Abangnya, putra sulung Razali Abdullah, Adi Akbar, 29 tahun, hanya duduk dan mengawasi gerobak itu dari jarak dekat.

Setelah beberapa kali berpindah lapak, sejak akhir Maret 2021, Arif berada di tempat di mana pada Minggu, 6 Juni 2021 pagi, ia, dengan dibantu empat pekerja, sedang melayani salah seorang pembeli, Mahfud.

“Dua bungkus, ya,” ucap Mahfud dengan sedikit berteriak di atas sepeda motor yang mesinnya masih menyala.

Mendengar itu, Sofyan, 54 tahun, warga Gampong Lampoh Krueng, yang telah bekerja pada gerobak itu selama lima tahun, mengangguk.

Pertama-tama, Sofyan menaruh potongan lontong, kentang, tahu, daun kol, kacang panjang, taoge, ke dalam bungkusan cokelat yang dilapisi daun pisang. Kemudian Sofyan menimpa mereka dengan bumbu kacang dan air cabai daun sop, daun bawang, kecap asin, dan kerupuk. Terakhir, bungkusan itu diikat dengan karet gelang.

Baca juga:

“Seluruhnya ada 10 pekerja,” kata Adi Akbar yang duduk di kursi plastik di belakang gerobak itu. "Lima bertugas menyiapkan bahan dagangan, seperti membuat lontong, merebus taoge, kentang dan kacang panjang, serta menggoreng tahu.”

Empat lainnya, termasuk Adi, bertugas di gerobak untuk melayani pembeli, dan satu pekerja bertugas mencuci piring, kata Adi.

Setiap harinya, pada pukul 7.30 WIB, Arif dkk mendorong gerobak itu dari Gampong Lampoh Krueng menuju Jalan Perdagangan Kota Sigli. Waktu tempuh, dengan berjalan kaki, dari Gampong Lampoh Krueng ke Jalan Perdagangan adalah sekitar 20 menit atau satu kilometer. "Kita berjualan dari pukul delapan pagi sampai pukul dua siang,” kata Adi, ayah satu anak.

Setiap harinya, bahan yang dihabiskan untuk berjualan lontong gado-gado adalah satu sak beras 15 kilogram. "Di awal bulan, omzet setiap harinya mencapai Rp 2,5 juta, dan Rp 1,9 juta di akhir bulan.”

Untuk bumbu kacang, hanya tangan Razali Abdullah yang boleh meraciknya di rumah. Rasa lontong gado-gado ini agak manis. Rasa itu didominasi oleh bumbu kacang. Harga lontong itu, untuk satu porsi, Rp 10 ribu. []

Loading...