Geliat Petani Seledri di Pidie

·
Geliat Petani Seledri di Pidie
Petani seledri. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Irawati, 36 tahun, salah seorang petani Gampong Gajah Ayee, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie sedang sibuk memanen daun seledri di lahan sawah seluas 3.000 meter persegi di gampong setempat, Selasa, 9 Oktober 2018 siang.

Irawati menuturkan, selain seledri, juga terdapat beberapa bedengan tanaman selada. Namun, seledri lebih banyak ditanam di lahan yang digarapnya, karena kata dia, permintaan daun seledri lebih tinggi di pasaran dibandingkan selada.

Ibu dua anak ini juga mengatakan, sebelumnya, dia bekerja sebagai pekerja upahan menanam padi di sawah-sawah orang, sedangkan suaminya bekerja sebagai supir truk pengangkut barang antar provinsi.

Amatan sinarpidie.co, tanaman seledri itu di tanam dengan sistem bedengan. Paranet dipasang untuk menjaga tanaman terpapar sinar matahari secara langsung dan dari air hujan.

Di bedengan lain di lokasi tersebut, beberapa orang lainnya sedang mencabut gulma yang tumbuh di atas bedengan tanaman seledri.

"Biasa dalam sekali panen itu sekitar lima sampai sepuluh kg. Harganya tidak menentu, kalau saat ini Rp 10 ribu sampai 13 ribu per kg. Tergantung keadaan pasar, misal ada masuk daun seledri asal Takengon harganya sedikit murah," kata ibu dua anak ini.

Dia menambahkan, lahan tempat ia bertani seledri ini milik orang lain.

Ia menyewanya dengan harga Rp 500 ribu per tahun.

“Sudah tiga tahun saya menanam seledri di lahan ini. Pokoknya ini pekerjaan saya sehari hari, yang penting sudah cukup buat biaya anak-anak ke sekolah,” kata dia saat ditanyai penghasilan dari pekerjaannya itu.

Petani seledri lainnya, Yusnidar, 37 tahun, mengatakan, masa panen, terhitung sejak sebar benih, memakan  waktu sekitar dua bulan.

“Setelah itu, dalam jangka waktu tiga sampai empat hari bisa dipanen lagi. Sekali tanam, tanaman seledri itu bertahan selama lima bulan,” tuturnya.

Yusnidar menggunakan mulsa plastik di setiap bedengan tanaman seledri miliknya, berbeda dengan Irawati yang menanam di bedengan tanpa mulsa.

“Kalau menggunakan mulsa (plastik penutup bedengan-red), kita tidak perlu lagi menambah waktu kerja untuk mencabut gulma, itu kelebihan menggunakan mulsa. Saat panen, hasilnya saya menjual sendiri tanaman seledri ini ke Pasar Pante Teungoh. Dalam sehari saya menjual sekitar 20 kg seledri," katanya. []

Loading...