PDAM Pidie

Gedung PDAM yang Kian Kumuh dan Uang di dalam Tanah

·
Gedung PDAM yang Kian Kumuh dan Uang di dalam Tanah
Kantor PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pidie. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Uangnya di dalam tanah. Karena bopernya di dalam tanah semua. Anti gempa. Sumber dana APBA. Tapi urusan orang, untuk apa kita urus.”

sinarpidie.co—Di depan salah satu ruangan di dalam areal gedung yang seharusnya difungsikan menjadi kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Krueng Baro Pidie, ada lebih dari lima sepeda motor terparkir. Di dalam ruangan tersebut, kursi kayu panjang yang letaknya berhadap-hadapan, diduduki oleh beberapa perempuan dan pria paruh baya. Di depan mereka, dua perempuan berseragam biru, yang berada di dalam sebuah bilik yang tersekat, tampak sibuk dengan kertas-kertas di tangan mereka. Ruangan itu adalah loket pembayaran tagihan PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pidie. Ruangan itu terhubung dengan satu ruangan yang dinding-dindingnya terbuat dari seng dan triplek bekas.

Di sisi kanan pagar, sebuah mobil tangki yang sudah berkarat sana-sini, terparkir. Tampaknya, mobil tersebut tak bisa lagi difungsikan. Sementara mobil tangki yang masih baru, terparkir di samping belakang, dekat dinding ruangan pembayaran tagihan air PDAM Tirta Mon Krueng Baro itu. Agak jauh ke belakang, sebuah bangunan yang lebih layak disebut bangkel las, terlihat agak kumuh. Gedung tersebut terletak di kawasan Jalan Elak, Kota Sigli. Masyarakat sekitar menyebut tempat tersebut: Simpang PDAM.

Menurut Direktur PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pidie, Drs. Ridwan , yang diwawancarai sinarpidie.co, Senin, 7 Agustus 2017, di dalam ruang kerjanya,—salah satu ruangan pada gedung milik Proyek Irigasi Baro Raya Pidie, yang dipinjam pihak PDAM Tirta Mon Krueng Baro—pengerjaan untuk gedung dengan pemandangan seperti itu memakan biaya sebesar Rp 1, 5 milliar.

Bagian belakang Gedung PDAM Tirta Mon Krueng Baro Pidie. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“100 persen selesai untuk volume pengerjaannya seperti itu. Bukan berarti seratus persen untuk penyelesaian secara keseluruhan. 100 persen untuk anggaran yang ada itu. Uangnya di dalam tanah. Karena bopernya di dalam tanah semua. Anti gempa. Sumber dana APBA. Tapi urusan orang, untuk apa kita urus,” ungkap pria kelahiran 1966 itu. “Kita istilahnya operator. Sudah dibuat, kita hidupkan mesin. Kita tetap usul untuk dilanjutkannya pembangunan gedung tersebut.”

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun sinarpidie.co, adapun pagu anggaran untuk pembangunan gedung tersebut adalah Rp 1.104.000.000 (satu milliar seratus empat juta rupiah). Satuan kerja: Dinas Cipta Karya. Pengerjaannya di tahun 2014, terhitung sejak 14 Maret 2014 hingga 14 Agustus 2014.

Saat ini, gedung tersebut difungsikan untuk loket pembayaran tagihan dan tempat di mana beberapa mobil tangki juga ikut diparkir. Selain itu, pipa, kayu, dan benda-benda lainnya juga akan mudah di temukan di setiap sudut halaman gedung. Untuk urusan perkantoran dan administrasi, pihak PDAM Tirta Kreung Baro Pidie meminjam gedung milik Proyek Irigasi Baro Raya Pidie.

Ihwal melanjutkan pembangunan itu dengan sumber dana sendiri, pihak PDAM Tirta Krueng Mon Baro mengaku hal tersebut terkendala dengan anggaran yang dimiliki perusahaan.

Gedung yang dibangun dengan dana yang bersumber dari APBA 2014. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).


“Total pegawai yang kita miliki 38 orang. Pembayaran gaji karyawan, antara Rp 170 atau Rp 160 juta per bulan. Pengeluaran untuk listrik, Rp 80 juta per bulan. Juga biaya untuk perawatan pipa dan bahan kimia, itu biayanya tinggi,” ungkap Drs Ridwan. []

Reporter: Wahyu Puasana

Loading...