Perjalanan

Gampong Pusong

·
Gampong Pusong
Pemandangan jembatan Pasi Jeumerang-Pusong dari Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Akses jalan darat antara Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, dan Gampong Pasi Jeumerang, Kecamatan Kembang Tanjong terputus sejak Kuala Tari pecah pada 1953. 156 KK di Gampong Pusong hidup terisolir selama puluhan tahun. Pembangunan Jembatan Jeumerang-Pusong yang telah dirintis sejak 2012 silam dengan sedikitnya Rp 42 miliar anggaran yang sudah dikucurkan belum membuahkan hasil. Sebuah ironi di gampong yang konon mengandung Migas yang berlimpah.

SETIAP pukul 04.00 WIB, kecuali pada Jumat, lelaki itu keluar dari rumah dengan memanggul keranjang rotan yang berisikan alat pancing rawai, alat pancing yang terdiri dari tali utama, tali cabang, dan pelampung.

Ia berjalan menuju ke tempat perahunya biasanya didaratkan, menghadap hamparan laut yang luas di bawah deretan pohon cemara laut, yang letaknya sekitar 50 meter dari rumahnya. Lelaki itu, Ibrahim Idris, 49 tahun, merupakan salah seorang nelayan di Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Setiap hari, ayah lima anak ini pulang-pergi ke Keude Lueng Putu, pusat Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, melalui jalan sepanjang lima kilometer. Dari lima kilometer jalan tersebut, jalan yang telah diaspal hanya sekira 700 meter, sedangkan sisanya merupakan jalan yang berkerikil, berlubang, dan becek yang diapit pohon-pohon bakau dan tambak ikan. Jalan di sana dibuka oleh lembaga donor asing pascatsunami untuk memudahkan mobilisasi bantuan. Sebelumnya, jalan di sana adalah jalan setapak di antara pematang tambak ikan.

Jalan tersebut adalah jalan alternatif satu-satunya untuk keluar-masuk Gampong Pusong karena Jembatan Jeumerang-Posong, akses Gampong Pusong menuju ke pusat Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, belum bisa dilalui hingga saat ini.

Jalan menuju Gampong Pusong. (sinarpidie.co/Firdaus).

Dari Pusong, menuju ke Keude Lueng Putu, pusat Kecamatan Bandar baru, Pidie Jaya, Ibrahim Idris melewati Gampong Baroh Lancok, Gampong Mayang, Gampong Tutong, dan Gampong Siren, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya.

Ibrahim membeli udang, bandeng, bensin, mata pancing, dan setiap keperluannya untuk melaut di Keude Leung Putu. Di samping itu, ikan hasil tangkapannya juga di jual di sana. “Sekali melaut, bensin 1,5 liter, umpan ikan Rp 20 ribu, dan mata pancing Rp 10 ribu,” kata Ibrahim. “Setiap melaut pasti ada mata pancing yang putus. Oleh sebab itu, mata pancing selalu rutin dibeli setiapkali pulang melaut.”

Ibrahim Idris mendorong perahunya ke bibir laut. Di Gampong Pusong, semua nelayan menggunakan perahu yang nyaris sama. Panjang perahu kayu itu rata-rata lima meter dengan luas badan perahu 1,2 meter. Mesin yang digunakan pada perahu itu adalah mesin perontok padi 5,5 HP.

Perajin perahu kayu di Gampong Pusong, Ridwan Tahir, 55 tahun, mengatakan pembuatan satu perahu tersebut membutuhkan 13 lembar papan. Itu, kata dia, belum termasuk kayu untuk lunas atau gading-gading yang melekatkan lambung perahu. “11 gading di tengah dan 22 gading di kiri-kanan perahu,” kata Ridwan. “Seruwe atau kepala perahu ada dua. Jika bahan cukup, dalam satu minggu, satu perahu bisa selesai.”

Perajin perahu kayu di Gampong Pusong, Ridwan Tahir, 55 tahun. (sinarpidie.co/Firdaus).

Harga pembuatan satu perahu Rp 4 juta. “Kayu sudah termasuk di dalam harga tersebut. Untuk cat dan mesin perontok padi ditambah sendiri oleh pemilik perahu,” sebut Ridwan. “Biasanya nelayan membeli mesin perontok padi bekas seharga Rp 500 ribu.”

Di atas lambung perahu kayu itu, Ibrahim Idris duduk sendiri dan melemparkan pancing rawai satu per satu. Ia melaut sejauh tiga kilometer dari bibir pantai. Dari dalam perahu, Jembatan Jeumerang-Pusong terlihat jelas.

Pembangunan Jembatan Jeumerang-Pusong telah dirintis sejak 2012 silam. Sedikitnya Rp 42 miliar anggaran telah dikucurkan untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan 156 KK di Gampong Pusong dengan Gampong Jeumerang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Pada 2014, bersumber Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) dengan satuan kerja Dinas Bina Marga Aceh, proyek ini dikerjakan dengan nilai kontrak Rp 2.794.549.000 oleh PT Puri Agronomis. Pembangunan tahap kedua dilakukan pada 2015 silam oleh CV Anindhika Jaya dengan nilai kontrak Rp 1.500.000.000. Pada 2016, proyek tersebut kembali dilanjutkan dengan nilai kontrak Rp 6.857.654.000 oleh PT Hasava Raif Pratama.

Namun, jembatan rangka baja sepanjang 100 meter dengan lebar lima meter itu tak kunjung rampung dan justru ambruk pada 7 Desember 2016 karena diguncang gempa bumi 6,5 SR yang berpusat di Pidie Jaya.

Pada 2018, PT Putra Nanggroe Aceh, yang memenangkan proyek Jembatan Jeumeurang – Pusong, mengerjakan proyek jembatan tersebut dengan nilai kontrak Rp 30.610.057.000. Uang itu bersumber dari dana hibah pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Meski telah dibangun dengan anggaran yang jor-joran, jembatan tersebut belum bisa dilalui hingga kini.

Baca juga:

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie Ir Samsul Bahri MSi mengatakan tahun ini seharusnya pembangunan jembatan tersebut dilanjutkan dengan anggaran Rp 5,8 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Infrastruktur. “Namun karena proyek yang bersumber dari DAK diminta untuk ditunda hingga waktu yang belum ditentukan akibatnya jembatan tersebut tidak dilanjutkan pembangunannya tahun ini. Perkiraan kita, dengan Rp 5,8 miliar jembatan tersebut sudah bisa dilalui,” katanya, Jumat, 5 Juni 2020.

Anggaran Rp 5,8 miliar tersebut, kata Samsul, rencananya akan digunakan untuk membangun tanggul, penimbunan, dan pengaspalan jalan. “Jika tanggul tidak segera dibangun, biaya untuk merampungkan jembatan tersebut akan bertambah karena akan terkena longsor perlahan-lahan,” sebut Samsul.

Ditanyai akankah jembatan tersebut dibangun dengan sumber anggaran lainnya pada tahun ini—selain DAK— Samsul menjawab, “Jika tidak terealisasi tahun ini berarti tahun 2021 akan kita prioritaskan.”

Akses jalan darat dari Gampong Pusong ke Gampong Pasi Jeumerang, Kembang Tanjong, dan juga sebaliknya terputus pada 1953 karena, kata Ibrahim Idris, “Kuala Tari pecah”.

Ibrahim Idris, 49 tahun, salah seorang nelayan di Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Perut Pantai Kuala Tari konon mengandung Migas yang berlimpah, termasuk di Gampong Pusong, yang menjadi bagian dari pantai tersebut. Sebelumnya, pada November 2019, perusahaan Repsol asal Spanyol digadang-gadang melakukan eksplorasi Migas di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen atau di Blok Andaman yang meliputi area seluas 8.440 kilometer persegi. Blok ini terletak di kedalaman air 1.300 meter. Total potensi cadangan migas blok ini sekitar 1,5 miliar barel setara minyak (BBOE). Sumur yang akan dibor bernama Rencong 1 X disebut-sebut telah masuk dalam rencana kerja dan anggaran 2019 Repsol.

Ibrahim Idris mendaratkan perahunya pada pukul 10.00 WIB sebab jika ikan hasil tangkapannya, seperti ikan merah atau tuwih, rambeu, dan ikan siri, dibawa ke Keude Lueng Putu di atas pukul 12.00 WIB maka harga ikan-ikan tersebut akan turun drastis.

Di rumah berkonstruksi beton yang dibangun pascatsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 silam oleh lembaga donor asing, Ibrahim meletakkan alat-alat melaut di sebelah perkakas anyaman tikar istrinya, Yusdinar, 45 tahun, di teras rumah itu.

Yusdinar sehari-hari menganyam tikar pandan. “Satu minggu selesai satu tikar. Dijual pada pengepul Rp 250 ribu untuk satu tikar,” kata Yusdinar.

Di gampong yang memiliki dua dusun—Dusun Timur Laut dan Dusun Barat Laut— hanya ada empat warga yang tercatat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil atau PNS dari total sekitar 583 penduduk di sana. Sisanya adalah nelayan—nelayan tangkap dan nelayan tambak— serta penganyam tikar.

SDN Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Hanya ada satu sekolah di sana, yakni SD Negeri Pusong. Dari empat PNS, dua di antaranya merupakan guru pada SD tersebut, sementara dua lainnya ialah PNS pada Kantor Camat Kembang Tanjong, Pidie. Setelah menamatkan SD, umumnya warga Pusong menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah yang tersebar di Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya.

Selain SD, terdapat sebuah Poskesdes di sana. Poskesdes yang sudah bocor sana-sini itu telah satu tahun dihuni oleh Nurniayati, bidan desa, yang juga warga Gampong Pusong. Perempuan berumur 32 tahun ini bekerja di Poskesdes tersebut sejak 2012 lalu. Status lulusan Akbid Medika Nurul Islam Sigli ini masih tenaga bakti.

Poskesdes Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Kami dapat honor dari kegiatan Posyandu dan jasa BPJS masyarakat berobat. Tidak ada gaji,” kata Nurniayati, Kamis, 4 Juni 2020. “Segala operasional Poskesdes dari alat bersih-bersih hingga bayar listrik saya bayar sendiri. Ada lima tenaga di sini. Satu perawat dan empat bidan.”

Pihaknya, kata dia, sangat membutuhkan sebuah ambulans karena umumnya masyarakat yang sewaktu-waktu mesti dirujuk ke jenjang fasilitas kesehatan selanjutnya harus melalui jalan memutar ke Puskesmas Kembang Tanjong terlebih dahulu, baik untuk menjalani perawatan maupun untuk sekadar mengambil surat rujukan. “Selain ambulans, tabung oksigen sangat dibutuhkan karena keluhan sesak napas cukup tinggi di sini,” sebut Nurniayati.

Kepala Dinas Kesehatan Pidie Efendi SSos MKes mengatakan kewenangan pengelolaan Poskesdes Gampong Pusong berada di bawah Puskesmas Kembang Tanjong, Pidie. “Kadang untuk operasional Poskesdes juga dianggarkan lewat Dana Desa setiap gampong. Kendati demikian, kita akan mengunjungi Poskesdes Gampong Pusong. Kebutuhan seperti tabung oksigen akan kita siapkan di sana,” kata Efendi, Jumat, 5 Juni 2020. “Poskesdes tersebut akan menjadi perhatian saya.”

HUJAN masih mengguyur Gampong Pusong, Kamis, 4 Juni 2020 sore, tatkala Ibrahim Idris melambaikan tanggannya di teras rumah. Beberapa menit sebelumnya ia berkata, “Hari ini tangkapan ikan hanya lima karang (lima sisir). Satu karang Rp 20 ribu saya jual.”

“Jembatan itu di depan. Melewati ujung jalan kampung ini,” kata pria bertubuh jangkung dan berkulit gelap itu.

Hujan membikin pandangan ke arah Jembatan Jeumerang-Posong jadi putih. []

Loading...