Sudut Pandang

Film Hidayah dan Pidie

·
Film Hidayah dan Pidie
Sumber: iloveaceh.org

Oleh Afridany Ramli

Setelah membaca sebuah artikel yang berjudul "Pemuda Pidie Angkat Talenta Pemuda Gampong di Film Hidayah" pada sebuah media online, saya merasa senang.

Melalui tulisan ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengapreasikan kerja keras segenap kru beserta sutradara yang sudah berhasil menggarap film yang berjudul “Hidayah, Karu Meulaba,” ini. Alasannya, karena saya pikir, menghasilkan sebuah karya, apalagi film, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Jadi, film merupakan suguhan media layar yang perlu dikembangkan di Pidie. Apalagi dikemas dengan drama yang bernuansa religi dan action, pastinya ditambah dengan cerita humor, maka hal itu akan sangat mengesankan bagi penonton.

Sebelumnya, kami juga pernah sepakat untuk menghidupkan kembali Film-Film Aceh di panggung-panggung teater yang sudah redup.

Alasannya adalah, ketika generasi Pidie disuguhkan film-film yang tidak terikat dengan budaya kita sendiri, maka hal itu sungguh sangat disayangkan. Sebut saja film Manusia Harimau misalnya yang ditayangkan oleh MNCTV. Suguhan semacam itu jauh dari budaya dan peradaban masyarakat kita Pidie dengan latar sejarah yang berbeda. Tapi apa yang terjadi sebaliknya? Anak-anak Pidie terasuki dengan jurus-jurusnya. Mereka terpengaruh dengan adegan-adegan yang ada dalam adegan film tersebut.

Jadi sudah waktunya kita berkembang dengan mengadopsi kisah-kisah sekitar kita ke dalam bentuk film. Apalagi film ini mengisahkan latar kehidupan masyarakat Aceh sebelum masa damai dengan kesehariannya hidup dalam sejarah luka konflik.

Maka, film ini patut ditonton oleh masyarakat. Untuk ke depannya kita sepakat untuk mambangun komunitas-komunitas perfilman di Pidie.

Untuk menghadapi zaman modern, film turut memberikan andil yang besar. Kenapa film “Hidayah Karu Meulaba” membuat saya turut ambil bagian untuk mengulasnya. Karena jauh hari sebelumnya, saya belum pernah menonton film-film Aceh yang dikemas dalam 4 dimensi seperti ini. Katakanlah Film "Angen Badei Ba", ia hanya dikemas dengan adegan berlatar belakang perang. Pun kisahnya sepertinya tidak terlalu mengena di hati penonton. Alhasil, film tersebut tidak sampai bertahan lama.

Oleh karena itu, saya berharap, film yang disutradai oleh Teuku Dant ini mendapat tempat dan respon positif dari publik. Terlebih, lokasi syutingnya tidak jauh-jauh dari wilayah sekitar Pidie.

Dengan turut membeli kaset-kasetnya, kita, segenap masyarakat Pidie, pastinya sudah ikut berkontribusi untuk pelaku seni di Pidie.

Selain menjadi sebuah dokumentasi kehidupan masyarakat Pidie, ianya juga menjadi ajang pembangunan khazanah kehidupan masyarakat Pidie.

Harapan saya, VCD film Hidayah ini bisa segera dimiliki oleh masyarakat kita.[]

Penulis adalah seorang warga yang kini menetap di Kembang Tanjong.

Loading...