Fenomena Suami-Istri Mengedar Sabu

·
Fenomena Suami-Istri Mengedar Sabu
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan kelas III Sigli di Gampong Tibang, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

Pengedar narkoba di gampong-gampong, kata AKBP Werdha, kerap mengelabui publik dengan melakoni profesi yang lain.

sinarpidie.co--Peredaran sabu di Pidie berbanding lurus dengan jumlah tahanan dan narapidana yang mendekam di balik jeruji besi. Rumah tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli dihuni oleh 460 orang, 101 tahanan dan 359 narapidana per 4 Januari 2020. Rutan tersebut mengalami over kapasitas 283 persen karena kapasitas rutan ini hanya untuk 120 orang.  “90 persen lebih penghuni rutan ini tersangkut kasus narkoba,” kata Kepala Rutan Kelas II B Sigli Marthrios, Sabtu, 4 Januari 2020 pada sinarpidie.co.

Kata Marthrios lagi, sebagian besar penghuni rutan tersebut yang tersangkut kasus narkoba adalah pemakai. “Hanya beberapa pengedar. Itu pun pengedar kecil-kecilan,” kata dia.

Marthrios berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie memberi perhatian pada rutan tersebut dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan life skills bagi para narapidana di rutan tersebut. “Agar ketika mereka bebas, mereka memiliki keterampilan. Kegiatan pemberdayaan bagi narapidana penting untuk diadakan, mengingat mayoritas yang menghuni rutan tersebut umumnya warga Pidie,” sebut Marthrios.

Dikutip dari Di Ujung Palu Hakim: Dokumentasi Vonis Rehabilitasi di Jabodetabek Tahun 2014, yang dirilis LBH Jakarta pada 2016 lalu, pada 2010, Mahkamah Agung sebenarnya telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 sebagai panduan bagi hakim untuk mengidentifikasi apakah seseorang merupakan pengguna narkotika dan memiliki kebutuhan untuk direhabilitasi.

Namun, berkaca pada data yang dihimpun sinarpidie.co dari Pengadilan Negeri Sigli menunjukkan, sepanjang 2017, misalnya, hakim menjatuhkan 194 putusan penjara dalam perkara Narkotika. Ganja 34 perkara dan sabu 160 perkara. Semuanya berakhir di jeruji besi atau tak ada putusan rehab bagi pemakai.

Fenomena hukum yang unik

Lapas Perempuan Kelas III Sigli, per 4 Januari 2020, dihuni 69 napi dan 6 tahanan. Data di Lapas ini agak mencegangkan karena per 1 Januari 2018, misalnya, 40 napi perempuan di Lapas ini merupakan pengedar narkoba.

“Pidana umum: sepuluh kasus penipuan, penganiyaan tiga kasus, pembunuhan dua kasus, pencurian dua kasus. Kriminal umum empat kasus. Sedangkan pidana khusus meliputi narkoba (pengedar) sebanyak 44 kasus, korupsi dua kasus. Pemakai narkoba tiga orang,” kata Kalapas Perempuan Kelas III Sigli Putranti Rahayu Bc IP, SSos, pada sinarpidie.co, Sabtu, 13 Januari 2018 lalu.

Penelusuran sinarpidie.co pada sistem informasi penelusuran perkara Pengadilan Negeri Sigli, pada 2015, nomor perkara 121/Pid.Sus/2015/PN Sgi menyingkap fenomena yang unik. Anita diputuskan oleh Majelis Hakim PN Sigli terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum menjual sabu pada Senin, 15 Juni 2015. Ia dipidana penjara selama lima tahun dan denda Rp 1 miliar. Adapun barang bukti yang diperoleh dari Anita adalah enam paket kecil Narkotika jenis sabu yang terbungkus dengan plastik bening seberat 0,76 gram dan satu unit handphone merk Samsung warna hitam CE : 0168, IMEI 357492/04/808899/9.

Kendati Anita ditangkap di Rawa, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, dan dijebloskan ke dalam penjara, suaminya, Marzuki, yang berprofesi sebagai wartawan di Pidie, bebas berkeliaran karena Marzuki disebut-sebut tak terlibat kasus enam paket kecil Narkotika jenis sabu yang terbungkus dalam plastik bening seberat 0,76 gram itu.

Baca juga:

Kini, ibu satu anak ini telah bebas.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pidie AKBP Werdha Susetyo SE menyimpulkan, berdasarkan kasus-kasus yang ditangani pihaknya, biasanya perempuan yang mengedar narkotika jenis sabu 'berada dalam satu paket' bersama para suami mereka. “Suami mengedar, istri juga ikut serta mengedar,” kata AKBP Werdha Susetyo SE, Sabtu, 4 Januari 2020. “Untuk jumlahnya ini agak sedikit rahasia.”

Baca juga:

Dengan nada bicara yang ramah, AKBP Werdha juga menguraikan perempuan-perempuan yang suami mereka juga pengedar sabu mau menggeluti profesi serupa karena didorong faktor ekonomi. “Kedua, karena pengetahuan yang minim tentang ancaman pidana mengedar narkoba,” katanya lagi.

Pengedar narkoba di gampong-gampong, ujar AKBP Werdha, kerap mengelabui publik dengan melakoni profesi yang lain. “Pernah ada satu kasus yang kami tangani, perempuan yang mengedar sabu, yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh tani. Ketika kita tanya, mengapa mengedar sabu, ia menjawab, karena mengedar sabu lebih cepat menghasilkan uang. Dalam waktu yang singkat,” kata Werdha. []

 

Komentar

Loading...