Emping Padi Ketan yang Ditumbuk dengan Jeungki

·
Emping Padi Ketan yang Ditumbuk dengan Jeungki
Nurhayati, 58 tahun, memasukkan emping yang telah ditumbuk dengan jeungki ke dalam karung. Begitu karung itu penuh, emping tersebut ditampi dengan tampah, untuk memisahkan emping dengan sekam. (sinarpidie.co/Diky Zulakarnen).

sinarpidie.co--Emping (bukan emping melinjo) merupakan panganan yang terbuat dari padi ketan yang pengolahannya dilakukan secara tradisional dengan menggunakan alat penumbuk khusus, yaitu jeungki. Di Pidie, pengolahan emping dengan jeungki, salah satunya, masih bisa ditemukan di Gampong Leubue, Kecamatan Pidie, Pidie.

Di sebuah gubuk yang berukuran 4 x 2 meter, tiga perempuan sedang mengolah emping dengan jeungki, Minggu, 15 Desember 2019. Nurhayati, 58 tahun, menaruh padi ketan yang sebelumnya telah direndam selama satu hari satu malam ke dalam belanga tanah untuk disangrai.

Setelah disangrai, padi ketan, dengan takaran satu batok kelapa, dimasukkan ke dalam lesung jeungki. Sementara, Salmawati, 30 tahun, dan Muliana, 35 tahun, menginjakkan kaki mereka pada kayu bulat sepanjang 2 meter pada jeungki. Alu menumbuk padi ketan dalam dalam lesung dengan ritme yang teratur. Sekitar 30 kali tumbukan, padi ketan menjadi emping.

Sejurus kemudian, Nurhayati memasukkan emping tersebut ke dalam karung. Begitu karung itu penuh, emping tersebut ditampi dengan tampah, untuk memisahkan emping dengan sekam. 

“Yang injak jeungki ini harus dua orang. Kalau sendiri tidak sanggup karena berat,” kata Muliana.

Menurut penuturan Nurhayati, proses pengolahan emping secara tradisional di gampongnya sudah berlangsung secara turun temurun. "Selain mengolah padi ketan menjadi emping, kami juga mengolah beras ketan menjadi tepung dengan menggunakan jeungki," kata Nurhayati.

Muliana menuturkan, proses pengolahan emping dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Dalam sehari, jumlah padi ketan yang mereka tumbuk sekitar 40 kilogram, yang akan menjadi 30 are hingga 32 are emping.

“Hasilnya kami jual ke Bang Am (pengepul-red) dengan harga Rp 16 ribu per are. Tetapi, dari Rp 16 ribu tersebut, dipotong harga padi ketan yang kami ambil dari Bang Am dengan harga Rp 6000 per kg. Kalau dihitung pendapatan bersih kami per orang Rp 20 ribu per hari,” kata Muliana lagi.

Amri, 39 tahun, penampung emping, yang juga penyalur bahan baku padi ketan pada warga Gampong Leubue, Kecamatan Pidie, Pidie, mengatakan, dalam sehari ia menyerahkan sebanyak 120 kilogram lebih padi ketan pada enam tempat pengolahan emping di gampong setempat.

“Setelah diolah hasilnya menjadi 75 hingga 80 are emping.  Dalam sebulan, saya siapkan sebanyak 2 ton padi ketan untuk diolah menjadi emping. Padi ketan tersebut biasanya saya beli di Seulimum, Aceh Besar,” kata dia.

Kata dia lagi, emping-emping itu ia jual ke Beuruenuen, Meulaboh, Lhokseumawe dan Langsa. “Bahkan khusus ke Meulaboh, dalam seminggu dua kali, permintaan emping sebanyak 150 are,” sebut Amri. 

Emping biasanya dikonsumsi dengan campuran parutan kelapa, dalam pisang thok, dan di dalam beulukat durian. []

Loading...