Efek Positif Rapid Test pada Gampong Gajah Ayee

·
Efek Positif Rapid Test pada Gampong Gajah Ayee
Sekretaris Gampong Gajah Ayee, Sukarni. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Gampong Gajah Aye, Kecamatan Pidie, Pidie, tampak lenggang Sabtu, 11 April 2020 siang. Gampong yang terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Barat, Dusun Timur, Dusun Tengah dan Dusun Kuta Budee, ini, dihuni oleh sekitar 800 kepala keluarga (KK). Faisal, 30 tahun, warga gampong setempat mengatakan, Gampong Gajah Ayee menjadi agak sepi semenjak isu adanya seorang warga gampong setempat positif rapid test Covid-19 terekspose di media massa. "Warga ketakutan dalam beberapa hari ini," katanya, Sabtu, 11 April 2020.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Gampong Gajah Ayee, Sukarni. Ia mengatakan saat ini lima warganya sedang menjalani isolasi diri di rumah. “Lima orang tersebut dalam dua KK dan tinggal satu rumah,” kata Sekretaris Gampong Gajah Ayee, Sukarni, Sabtu, 11 April 2020.

Pihaknya, kata Sukarni, telah menyampaikan pada dua keluarga yang kini menjalani isolasi diri di rumah tersebut agar berkoordinasi dengan pemerintah gampong terkait segala kebutuhan harian yang mereka butuhkan.  “Warga lainnya ketakutan. Namun, kita tetap mengikuti anjuran protokol kesehatan,” kata Sukarni.

Kata Sukarni lagi, pasien yang dinyatakan positif rapid test bukan warga Gampong Gajah Ayee. Namun, karena dua KK di gampong tersebut pernah melakukan kontak dengan yang bersangkutan maka mereka harus melakukan isolasi diri di rumah. “Dia hanya singgah sebentar di Gampong Gajah Ayee untuk mengunjungi keluarganya itu,” kata Sukarni.

Dalam beberapa hari ini, kata Sukarni lagi, warga asal Gampong Gajah Ayee, yang bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang service pendingin ruangan, susah diterima kerja di luar gampong Gajah Ayee, sejak informasi salah seorang warga Gajah Ayee positif rapid test menyebar. Warga yang menjual hasil pertanian, seperti sayur-mayur ke pasar juga ditolak. “Sejumlah warga mengeluh pada saya karena hasil pertanian mereka ditolak. Di Gampong Gajah Ayee, mata pencaharian warga 70 persennya bertani dan beternak,” kata Sukarni.

Sukarni berharap, pemerintah memberi perhatian lebih pada gampongnya karena banyak warga gampong tersebut terkena imbas negatif dari informasi seorang warga Gampong Gajah Ayee positif rapid test Covid-19.

Diberitakan sebelumnya, hasil pemeriksaan rapid test seorang pasien dalam pengawasan atau PDP yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik Di Tiro Sigli menunjukkan hasil positif.

Kepala Bidang Pelayanan pada RSUD Teungku Chik Di Tiro Sigli dr Dwi Wijaya mengatakan pasien tersebut dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh, Kamis, 9 April 2020 lalu. “Ini hanya hasil skrining awal, dan tindakan selanjutnya pasien sudah dirujuk ke RSUZA untuk diambil sample swap tenggorokan,” kata dr Dwi Wijaya, dalam konferensi pers Gugus Tugas Covid-19 Pidie di Kantor Dinas Kesehatan Pidie, Kamis, 9 April 2020 lalu.

Dwi juga menjelaskan, sebelumnya pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan ke Medan, Sumatera Utara, lalu ia mengalami demam, pilek dan batuk.

Perlu Informasi Covid-19 yang komperhensif

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pidie Efendi SSos MKes, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pidie, Turno Junaidi SKM  MKM, mengatakan rapid test merupakan salah satu alat skrining awal Covid-19.

“Dan tingkat validitasnya perlu diuji lebih lanjut sehingga bisa jadi ada kemungkinan negatif di PCR,” kata dia, Sabtu, 11 April 2020.

Kata Turno, pasien yang terinfeksi Covid-19 ialah mereka yang dinyatakan positif berdasarkan hasil pemeriksaan dengan PCR atau Polymerase Chain Reaction. “Kalau positif rapid test belum bisa menjadi ukuran atau rujukan bahwa yang bersangkutan juga akan positif PCR. Peluang negatifnya juga masih ada,” kata Turno, menegaskan.

Dikatakan Turno lagi, masyarakat mesti memperoleh informasi yang cukup tentang Covid-19 dan penyebaran virus tersebut. “Pertama untuk terjadi penularan harus ada kuman atau virus Corona. Selanjutnya, tempat virus itu hidup. Virus tersebut ada pada penderita murni dalam makna positif PCR. Kemudian, virus tersebut ada pada pasien yang positif PCR yang sedang menjalani perawatan atau belum dinyatakan sembuh, lalu virus bisa ada pada orang tanpa gejala atau OTG. Tapi syarat OTG itu ialah mereka pernah kontak dengan pasien positif Covid-19 atau positif PCR, bukan positif rapid test. Virus atau kuman juga ada pada benda-benda tertentu makanya dianjurkan untuk cuci tangan dengan benar. Dan pada penderita dianjurkan untuk memakai masker,” kata Turno menjelaskan.

Kedua, sebutnya lagi, pintu keluarnya virus atau kuman ialah melalui mekanisme pernapasan, yaitu hidung dan mulut. Pintu masuk virus juga melalui saluran pernapasan. Kata Turno, virus yang keluar melalui droplet atau percikan bersin dan batuk dalam jarak dua meter merupakan jarak aman agar tidak terjadi penularan kepada orang yang sehat.

“Kerentanan tubuh juga berpengaruh, makanya kita harus menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan mengonsumsi vitamin C dan E. Bagi orang yang memiliki penyakit penyerta virus tersebut memang lebih rentan. Tujuan dirujuk ke rumah sakit bagi penderita positif Covid-19 yang memiliki gejala berat semata-mata untuk menyelamatkan nyawa pasien tersebut karena dia akan mengalami gejala berat, yang menutup jalan napas sehingga menimbulkan risiko kematian,” tutupnya.

Apa yang diuraikan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pidie ini senada dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Revisi Keempat: pasien yang terinfeksi Covid-19 ialah mereka yang dinyatakan positif berdasarkan hasil pemeriksaan melalui pemeriksaan PCR atau Polymerase Chain Reaction.

Rapid test hanyalah salah satu skrining awal jika pemeriksaan RT PCR belum tersedia. Jika hasil rapid test menunjukkan seseorang tersebut positif maka hasil swab tenggorokan yang bersangkutan langsung dikirimkan ke laboratorium untuk pemeriksaan RT PCR sebanyak dua kali selama dua hari berturut-turut.  Sebaliknya, jika hasil rapid test yang bersangkutan negatif maka dilakukan pemeriksaan rapid test sekali lagi dalam waktu sepuluh hari setelah rapid test pertama. Jika positif maka hasil swab tenggorokan yang bersangkutan juga dikirimkan ke laboratorium untuk pemeriksaan RT PCR sebanyak dua kali selama dua hari berturut-turut. []

 

Loading...