Dunia

Eduardo Galeano: Ketakutan Terbesar saya ialah ketika Kita Semua Menderita Amnesia

·
Eduardo Galeano: Ketakutan Terbesar saya ialah ketika Kita Semua Menderita Amnesia
Eduardo Galeano. Sumber foto: theguardian.com.

Pagi hari diisi nyaris dengan kebiasaan yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Di meja makan, jurnalis cum sastrawan kelahiran Uruguay, Eduardo Galeano, 72 tahun, dan istrinya, Helena Villagra, mendiskusikan mimpi-mimpi mereka pada malam-malam sebelumnya.

“Mimpi saya selalu tentang hal-hal tolol,” kata Galeano. “Biasanya saya tidak mengingat mimpi-mimpi tersebut dan ketika saya ingat, mimpi-mimpi itu adalah hal-hal konyol seperti ketinggalan pesawat dan masalah-masalah birokrasi pemerintahan. Tapi istri saya punya mimpi yang indah seperti ini.”

Suatu malam sang istri bermimpi, mereka berada pada sebuah bandara di mana semua penumpang membawa bantal yang mereka gunakan untuk tidur pada malam sebelumnya.

Sebelum mereka memasuki kabin pesawat, petugas memasukkan bantal mereka ke dalam sebuah mesin yang dapat merinci mimpi-mimpi para penumpang pada malam sebelumnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang bersifat subversif dalam benak mereka.

Tak banyak yang magis dalam realisme Galeano. Tapi tak ditemukan juga hal yang memalukan di dalamnya. Jurnalis ini telah menjadi sastrawan gerakan anti-globalisasi. Ia menambahkan sebuah adegan, suara yang puitis ke dalam karya non fiksi.

Setelah Hugo Chavez* menghadiahi sebuah buku Galeano—Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent— kepada Barack Obama dalam acara fifth Summit of the Americas pada tahun 2009, buku tersebut lantas menduduki peringkat kedua Amazon hanya dalam satu hari setelah pertemuan dua kepala Negara itu.

Ketika keberangkatan Galeano ke Chicago diumumkan oleh Arundhati Roy* dalam sebuah acara pembacaan karya sastra dua bulan sebelum hari H, publik menyambut kabar tersebut dengan gagap-gempita. Dan tatkala Galeano tiba ke Chicago, bukunya itu sudah habis terjual di toko-toko buku.

“Ada sebuah tradisi yang melihat jurnalisme sebagai sisi gelap dari sastra,” kata dia pada salah seorang jurnalis Spanyol yang bekerja pada suratkabar El Pais. “Saya tidak setuju dengan hal itu. Saya rasa semua karya tulis mengandung kadar sastra tersendiri, bahkan dalam graffiti sekalipun. Saya menuliskan beberapa buku selama bertahun-tahun hingga sekarang, tetapi saya berangkat sebagai seorang jurnalis, dan stigma itu melekat pada saya. Saya berterima kasih pada jurnalisme karena telah membangunkan saya untuk melihat realitas dunia."

Realitas itu tampak gelap.

“Dunia ini sama sekali tidak demokratis,” kata dia. “Institusi yang paling kuat adalah IMF (International Monetary Fund) dan World Bank, yang dimiliki oleh tiga atau empat Negara di dunia ini. Sementara negara-negara lainnya adalah penonton. Dunia ditata dengan perang ekonomi dan perang budaya.”

Dan juga tidak ditemukan keputusasaan atau kemurungan dalam karyanya.

Ketika berada di Spanyol selama protes mahasiswa dan pemuda—Gerakan anti kebijakan fiskal IMF—berlangsung, ia bertemu dengan beberapa demonstran di Puerta del Sol, Madrid. Galeano menyemangati para demonstran itu.

"Mereka adalah anak-anak muda yang percaya pada apa yang sedang mereka lakukan," kata dia. "Tidaklah mudah menemukan kepercayaan itu di lapangan politik praktis. Saya sangat berterima kasih pada mereka.”

Salah seorang dari mereka bertanya padanya, berapa lama menurutnya perjuangan mereka akan berlangsung.

“Jangan khawatir,” jawab Galeano. “Itu sama seperti bercinta. Waktunya tak bisa diterka tapi ia hidup. Tidak masalah jika hanya berlangsung selama satu menit. Karena saat momen itu berlangsung, satu menit terasa lebih dari setahun.”

Galeano sering bertutur seperti itu. Ketika saya tanyakan apakah ia optimis dengan tatanan negara-negara dunia bisa adil wujudnya, ia menjawab: “Itu tergantung kapan Anda tanyakan pertanyaan tersebut. Dari pukul delapan pagi sampai siang hari, saya pesimis. Kemudian, pukul satu sampai pukul empat sore, saya optimis.”

Saya bertemu dengannya di sebuah lobi hotel di Kota Chicago pada pukul lima sore. Kami duduk dengan sebuah gelas anggur yang besar.

Pandanganya terhadap dunia tidaklah rumit–militerisme dan kepentingan ekonomi sedang menghancurkan dunia, menjadi tameng kekayaan dan menghancurkan orang-orang miskin. Ia mencontohkan peristiwa sejarah yang umum, sebagaimana tertulis dalam karyanya. Misalnya: sejak abad ke 15 dan seterusnya  peristiwa-peristiwa yang terjadi bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia mengerti situasi saat ini bukanlah hal yang baru, tapi satu kesatuan yang utuh, yang disela oleh penaklukkan dan perlawanan.

“Sejarah tidak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal,” kata dia. “Sejarah mengatakan, sampai jumpa lagi.”

Ia kesempurnaan yang sederhana. Pengkritik kebijakan luar negeri Obama yang menjadi eksil dari Uruguay selama lebih dari satu dekade, pada tahun-tahun 70-an dan 80-an.

Kendati demikian, dia senang dengan terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika.

"Saya sangat senang ketika dia terpilih, karena Negara itu (Amerika) adalah Negara yang dikenal rasis.”

Dia menceritakan bagaimana Pentagon pada tahun 1942 mengeluarkan larangan: darah orang berkulit hitam tidak boleh ditransfusikan pada orang berkulit putih.

“Dalam sejarah hal itu bukanlah apa-apa. 70 tahun seperti satu menit. Di Negara seperti itu, kemenangan Obama adalah sebuah perayaan yang sangat bermakna dan berharga."

Semua kualitas ini—teka-teki, kelakar dan humor, sejarah dan realitas—terhimpun dalam buku terbarunya, Children of the Days, di mana ia menggambarkan masing-masing hari yang bersejarah.  Tujuannya adalah menyampaikan peristiwa di masa lalu dan mengontekstualkan mereka dengan kondisi hari ini. Keluar-masuk antara satu abad ke abad lainnya untuk menggambarkan bagaimana momen bersejarah itu masih berlanjut dan saling berkaitan.

Apa yang dicapainya adalah menggali, menghancurkan, dan merangkai kembali cerita yang sebelumnya dilupakan atau cerita yang menggandung fakta-fakta yang melenceng, lalu menghadirkan mereka kembali dengan kebanggaan, horor atau absurditas.   

Tanggal 1 Juli misalnya, dalam Demam Teroris, ia menuliskan, “Pada tahun 2008, Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk menghapus nama Nelson Mandela dari daftar teroris yang berbahaya.  Seorang Afrika yang sangat dihormati dunia ditampilkan dengan sangat buruk selama 60 tahun.”

Dalam Penemuan 12 Oktober, tergambar sebuah kalimat sebagai berikut: “Pada 1492, penduduk asal menemukan diri mereka sebagai orang-orang Indian, mereka menemukan pula, bahwa tanah-air mereka itu dinamai Amerika.”

Sementara itu, 10 Desember yang ia namai  Perang yang Diberkati dan didedikasikan untuk Nobel yang diterima Obama, ketika Obama mengatakan, “akan ada waktunya semua bangsa menemukan bahwa angkatan bersenjata bukan hanya sebagai kebutuhan, akan tetapi juga untuk membuktikan kebenaran moral.” Galeano menuliskan: “Empat setengah abad yang lalu, ketika anugerah Nobel belum ada dan kejahatan menghuni Negara-negara di dunia bukan dengan minyak tetapi dengan emas dan perak, Spanish jurist Juan Ginés de Sepúlveda menyerukan perang ‘bukan hanya sebagai kebutuhan tapi juga pembenaran secara moral’”.

Selanjutnya, dia keluar-masuk ke dalam masa lalu dan masa kini, menampilkan irisan-irisan yang saling berhubungan.

Hasratnya, kata dia, untuk memperbaharui apa yang ia sebut “pelangi pada manusia. Itu lebih indah ketimbang pelangi di langit,” kata dia. “Tapi militerisme kita, rasisme, membutakan kita terhadap pelangi itu. Ada banyak cara untuk menjadi buta. Kita buta terhadap hal-hal kecil dan orang-orang kecil.”

Dan cara menjadi buta, menurutnya, bukanlah dengan kehilangan penglihatan melainkan hilangnya ingatan.

“Ketakutan terbesar saya adalah kita semua menderita amnesia. Saya menulis untuk mengembalikan ingatan ‘pelangi pada manusia’, yang sedang berada dalam bahaya karena tengah dimutilasi.”

Ia memberikan sebuah contoh, dengan merujuk Robert Carter III – seseorang yang belum pernah saya dengar namanya – yang menjadi satu-satunya founding fathers Amerika yang membebaskan budak-budaknya.

“Karena melakukan dosa yang tak terampuni ini, ia dihilangkan dari catatan sejarah.”

Saya bertanya, siapa yang bertanggungjawab atas dilupakannya dan tidak adanya nama Robert Carter III dalam catatan sejarah?

“Bukan kesalahan seorang manusia,” dia menjelaskan. “Itu adalah sistem kekuasaan yang selalu memutuskan yang mana, yang pantas dikenang dan yang mana yang pantas untuk dilupakan… Kita jauh melebihi apa yang diceritakan. Kita jauh lebih indah.”

Catatan:

*Hugo Chavez adalah mantan Presiden Venezuela. Ia meninggal dunia pada tahun 2013. 

*Arundhati Roy adalah seorang novelis, penulis, dan aktivis politik berkebangsaan India. Ia memenangkan Booker Prize pada 1997 untuk novel pertamanya The God of Small Things.

 Artikel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari artikel berbahasa Inggris yang ditulis Gary Younge: “Eduardo Galeano: 'My great fear is that we are all suffering from amnesia'”. Artikel tersebut ditayangkan pada situs berita theguardian.com, 23 Juli 2013.

Eduardo Galeano meninggal dunia pada 13 April 2015 karena kanker paru-paru.

Loading...