[Editorial] Sanggahan secara Lisan setelah SKD

·
[Editorial] Sanggahan secara Lisan setelah SKD
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi dalam surat bernomor B/715/SM.01.00/2020 tertanggal 4 Agustus 2020. Dok. sinarpidie.co.

Penetapan hasil akhir seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie tahun 2019 untuk jabatan Penyusun Pembinaan Institusi Masyarakat Pedesaan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) Pidie diduga cacat prosedur.

Sejak awal, dalam seleksi administrasi, tercatat 97 peserta yang lulus pada jabatan ini. Dalam seleksi kompetensi dasar (SKD), 84 peserta yang hadir dan mengikuti seleksi tersebut, di mana 10 peserta di antaranya dinyatakan lulus passing grade. Namun, hanya tiga peserta dengan nilai tertinggi yang bisa mengikuti seleksi kompetensi bidang (SKB). Mereka adalah Mardiaton (total nilai 346), Muhammad Ali (total nilai 339), dan Veratini (total nilai 318).

Belakangan, setelah pengumuman SKD, muncul sanggahan. “Sanggahan secara lisan oleh Muhammad Nouval dan Safrida,” kata Kepala Bidang Pengadaan, Pengembangan dan Pemberhentian Pegawai pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Pidie, Zulkhaidir, Jumat, 30 Oktober 2020.

Sanggahan tak tertulis ini dilakukan setelah Nouval hanya menduduki peringkat keempat SKD pada jabatan Analis Data dan Informasi pada DPMG Pidie sehingga dia tidak berhak mengikuti atau tidak lolos mengikuti Seleksi Kompetensi Bidang atau SKB untuk jabatan tersebut.

Pertanyaannya: mengapa sanggahan tidak dilakukan sejak seleksi administrasi, dan mengapa BKPSDM Pidie bersikukuh untuk tidak mencoret satu atau dua peserta, dari total 12 ribu peserta, yang jelas-jelas telah gugur dengan sendirinya karena tahapan seleksi administrasi telah tuntas dan telah melewati waktu sanggah. Bukankah terdapat 188 pelamar CPNS di Pidie yang menyanggah hasil seleksi administrasi, di mana 117 di antaranya belakangan dinyatakan memenuhi syarat dan dapat mengikuti seleksi kemampuan dasar (SKD) yang digelar pada Januari 2020 lalu?

BKSDM Pidie berdalih, setelah menyisir data, mereka menemukan satu nama lainnya, selain Muhammad Nouval dan Safrida, yaitu Yusfarida, yang juga mengalami apa yang terjadi pada Muhammad Nouval. “Saat pendaftaran, Muhammad Nouval dan dua lainnya mendaftar di jabatan Analis Data dan Informasi karena saat mereka menginput berkas dan ijazah di dalam sistem, terdapat kolom ijazah Ekonomi Manajemen. Kami kemudian menyurati Panselnas bahwa untuk jabatan Analis Data dan Informasi ijazahnya bukan ijazah S-1 Ekonomi Manajemen. Jadi, yang terlanjur mendaftar dialihkan secara sistem ke jabatan Penyusun Pembinaan Institusi Masyarakat Pedesaan,” kata Zulkhaidir. “Saat hasil SKD keluar, nama Muhammad Nouval dan dua nama lainnya masih muncul di jabatan Analis Data dan Informasi sehingga kita menyurati dan memberikan keterangan resmi pada Panselnas.”

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi dalam surat bernomor B/715/SM.01.00/2020 tertanggal 4 Agustus 2020 menjelaskan bahwa “karena permasalahan ini disampaikan setelah hasil SKD diumumkan, agar tidak merugikan peserta yang telah lulus SKD sejumlah tiga kali formasi sebelumnya, maka diputuskan untuk menambah data tiga peserta yang memenuhi nilai ambang batas tersebut, sehingga peserta pada jabatan Penyusun Pembinaan Institusi Masyarakat Pedesaan menjadi enam orang”.

Baca juga:

Kelak, keputusan ini berakibat fatal bagi Muhammad Ali. Nilai SKD Muhammad Nouval tertinggi jika ia ditempatkan pada jabatan Penyusun Pembinaan Institusi Masyarakat Pedesaan (DPMG) Pidie.

Meski nilai seleksi kompetensi bidang atau SKB Muhammad Ali (43.000) lebih tinggi dari Muhammad Nouval (41.000), karena nilai SKD Nouval lebih tinggi (358.00) daripada Muhammad Ali (339.00), alhasil Muhammad Nouval keluar sebagai peserta dengan nilai tertinggi untuk jabatan tersebut dalam hasil akhir CPNS di Lingkungan Pemkab Pidie. Dua nama lainnya yang juga ditambah pada jabatan ini nampaknya hanya pelengkap penderita. []

Loading...