Editorial

[Editorial] Peringatan Tsunami Aceh di Kabupaten yang Tak Miliki Kesadaran Mitigasi Bencana

·
[Editorial] Peringatan Tsunami Aceh di Kabupaten yang Tak Miliki Kesadaran Mitigasi Bencana
Escape building di Gampong Sukon, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

Peringatan tsunami Aceh ke-15 yang dipusatkan di Pidie, Kamis, 26 Desember 2019 semestinya menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie untuk mengarusutamakan mitigasi bencana dalam setiap kebijakan pembangunan yang dirumuskan, diambil, dan dijalankan ke depan.

Dibangun BRR Aceh-Nias pada 2008 dan selesai pada 2010, kondisi gedung evakuasi atau escape building di Gampong Sukon, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, sangat memprihatinkan. Selain tak terurus, aliran listrik di gedung tersebut juga telah diputus. Padahal, gedung evakuasi tersebut merupakan satu-satunya gedung evakuasi di Pidie. Keberadaan gedung tersebut, jika dimaksimalkan, tak hanya berfungsi sebagai tempat evakuasi tapi juga bisa menjadi sarana untuk memupuk kesiapsiagaan menghadapi bencana dan mengurangi risiko bencana. Berharap pendidikan kebencanaan dapat tersedia di Museum Tsunami di Kota Sigli ternyata jauh panggang daripada api. Apa yang terbayang oleh generasi yang lahir di atas 2004 saat melihat museum tersebut? Spot selfie, pendingin ruangan yang telah dicuri, foto-foto yang sudah pudar, dan peta satelit yang telah sobek sana-sini.

Baca juga:

15 tahun berlalu, Pemkab Pidie tak jua menyediakan jalur evakuasi bencana, khususnya di titik-titik rawan tsunami. Selain itu, sirine peringatan dini juga nihil. Ironisnya, 15 tahun berlalu, kabupaten tempat peringatan tsunami Aceh tahun ini digelar, tak memiliki qanun penanggulangan bencana. Selanjutnya, pengarusutamaan mitigasi bencana di sekolah-sekolah juga nyaris tak terdengar sama sekali.

Sumber: BPBD Pidie.

Memperingati tsunami dengan mengabaikan mitigasi bencana bukan saja tidak patut, melainkan juga tidak pada tempatnya.

Bupati Pidie Roni Ahmad sudah sepantasnya menunjuk kepala SKPK yang cakap untuk membidangi isu tersebut: memiliki perspektif dan kesadaran mitigasi bencana, bukan yang jago sulap dana rehab-rekon pasca-bencana. Terakhir, perspektif dan kesadaran tersebut juga semestinya menjadi kesadaran kolektif kita bersama. []

Komentar

Loading...