Editorial

[Editorial] Pemerintah Jangan Selow, Maut di Depan Mata

·
[Editorial] Pemerintah Jangan Selow, Maut di Depan Mata
Kondisi bangunan Pustu Putoh sementara, di Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, Pidie. Bangunan Pustu Putoh yang dibangun pada tahun anggaran 2019 belum rampung dan tidak dilanjutkan pembangunannya pada tahun anggaran 2020. Dok. sinarpidie.co.

SARUNG tangan steril, masker N95, sepatu boots, kaca mata pelindung, dan pakaian hazmat, merupakan alat pelindung diri (APD) yang sangat dibutuhkan setiap rumah sakit di Aceh, baik rujukan maupun non rujukan, selama masa penanganan wabah Corona. Belakangan, APD tersebut langka di pasaran atau bahkan kosong sama sekali di tingkat distributor. Akibatnya, persediaan APD di setiap rumah sakit semakin menipis.

Satu-satunya harapan setiap rumah sakit hanyalah kiriman APD dari Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Aceh. Tidak terbayangkan jika dokter, tenaga medis, staf rumah sakit, atau siapa pun mereka yang sedang berjibaku menangani wabah bekerja tanpa dilengkapi alat pengaman yang memadai. Kelangkaan APD akan menyebabkan dokter dan tenaga medis putus asa, sekaligus kehilangan rasa percaya diri untuk menolong masyarakat. Mereka seperti dipaksa untuk menghadapi sesuatu yang mematikan, tanpa didukung oleh peralatan yang memadai. Kekalahan akan dimulai dari sini. Kekalahan di front pertama dalam melawan wabah akan berakibat sangat mematikan, wabah akan menyerang masyarakat, wabah akan masuk ke dalam rumah dan menghancurkan keluarga.

Pemerintah harus mendukung dokter dan tenaga medis bukan dengan omong-kosong, melainkan dengan tindakan nyata. Untuk menyelamatkan garis depan kita,  Pemerintah Aceh sudah sepatutnya mengunci rantai distribusi APD dengan mengutamakan keperluan rumah sakit.       

Penunjukkan rumah sakit rujukan Corona seharusnya satu paket dengan peningkatan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit. Artinya, tanpa suspek Corona pun, rumah sakit yang telah ditunjuk tersebut mesti ekstra waspada. Dalam kata lain, siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Tidak ada tawar menawar lagi, semua staf di UGD mengenakan pakaian hazmat. Rumah sakit tersebut tidak lagi berpikir ada atau tidak ada pasien Corona, sebab ketika sudah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan, SOP RS tersebut sudah pasti jadi patokan. Jika tidak, penunjukan tersebut akan berakhir sia-sia!

Baca juga:

Di samping itu, setiap rumah sakit juga harus mulai mempertimbangkan menghapus jam berkunjung bagi keluarga pasien. Karena keluarga pasien diperkirakan akan membawa pulang wabah ke rumah dan masyarakat.

Menghadapi pandemi pemerintah jangan selow. Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten atau Kota serta DPR mesti mengambil peran masing-masing. Kalian harus bahu-membahu! Setidaknya harus punya rencana yang masuk akal. Dan jangan sekali-kali berlaku bodoh dan gegabah, pandemi ini adalah ujian bagi kepemimpinan kalian. Ke depan kematian mungkin akan menjadi statistik, deret ukur, tapi seberapa kecil kalian mampu menekan angka kematian di kabupaten masing-masing, akan publik ingat. Semakin kecil, publik berterima kasih! Sebaliknya, publik akan mengutuk sampai ke liang kubur!

Hingga hari ini belum terlihat langkah nyata Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/ Kota untuk menjamin ketersedian bahan pangan, apalagi menyubsidi masyarakat miskin dan berupah harian, mereka yang paling terdampak oleh bencana ini.

Realisasi fisik kegiatan hingga memasuki April 2020 masih beku dan uang masih mengendap di Kas Daerah. Gunakan uang tersebut, kali ini, sebaik-baiknya! Kali ini maut tidak pilih kasih. Kita bisa mati bersama! []

Komentar

Loading...