Editorial

[Editorial] Paradoks Jalan Tol di Tengah Bendungan Rajui

·
[Editorial] Paradoks Jalan Tol di Tengah Bendungan Rajui
Peta Jalan Tol Aceh Ruas Sigli-Banda Aceh.

Dalam Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh nomor 590/1008/2017 tentang Penetapan Lokasi (Penlok) Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Jalan Tol Aceh Ruas Sigli-Banda Aceh, tertera, luas lahan yang dibutuhkan untuk proyek tersebut kurang-lebih 853 hektare yang terbagi di sembilan kecamatan di Aceh Besar—Kecamatan Baitussalam, Darussalam, Kuta Baro, Blang Bintang, Montasik, Indra Puri, Kuta Cot Glie, Seulimum, dan Lembah Seulawah— dan satu kecamatan di Pidie, yakni di Kecamatan Padang Tiji.

Di Kecamatan Padang Tiji, terdapat 15 gampong yang masuk ke dalam lokasi pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol tersebut, yaitu Gampong Jurong Cot, Hagu Tanjong, Aron Beunot, Teungoh Drien, Meuke Gogo, Pante Ceurmen Paloh, Gampong Cut Paloh, Teungoh Peudaya, Capa Paloh, Jurong Anoe Paloh, Geulumpang Geuleudieng, Blang Geuleudieng, Bale Paloh, Kreb Paloh, dan Suyo Paloh.

Melihat peta rencana pengadaan jalan Tol Aceh Ruas Sigli-Banda Aceh, ada begitu banyak sawah yang akan dialihfungsi. Padahal, kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Pidie, berdasarkan Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034, seluas 26.826,90 hektare, di mana 2.890,32 hektare di antaranya berada di Kecamatan Padang Tiji.

Baca juga:

2.890,32 hektare tersebut tersebar di Gampong Tunong Tanjong, Jok Tanjong, Keupula Tanjong, Mesjid Tanjong, Leun Tanjong, Cot Keutapang, Siron Tanjong, Khang Tanjong, Meuriya Tanjong, Baro Beurabo, Grong-Grong, Seuleungging, Meukee Beurabo, Mesjid Beurabo, Adang Beurabo, Paloh Jeurat, Glee Gogo, Tuha Gogo, Kumbang Gogo, Seukeumbrok Beurabo, Pante Crueng, Pulo Hagu, Gampong Cot, Kreet Paloh, Suyo Paloh, Trieng Paloh, Pasar Paloh, Teungoh Drien,Teungoh Peudaya, Aron Beunot Gogo, Buloh Gogo, Raya Gogo, Tunong Peudaya, Sukon, Cut Peudaya, Mesjid Peudaya, Tuha Peudaya, Perlak, Buloh Peudaya, Buni Reuling Peudaya, Jurong Anoe Paloh, Glumpang Geuliding, Mesjid Geuliding, Blang Geuliding, Cot Kunyet, Dayah Baro Kunyet, Mesjid Kunyet, Piala Kunyet, Baro Kunyet, Dayah Tanoh, Hagu Kunyet, Kambuek Nicah, Kambuek Payapi, Seunadeu, dan Blang Gunci.

Ir Joko Suprapto, Kepala Bidang (Kabid) Pengadaan Tanah pada Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Aceh, yang juga anggota panitia pengadaan tanah (P2T) dalam proyek Jalan Tol Aceh Ruas Sigli-Banda Aceh, mengatakan, ganti rugi lahan pertanian terdampak pembangunan jalan tol di Kecamatan Padang Tiji hanya disalurkan untuk pemilik sawah yang melepaskan hak atas tanah mereka.

Dengan kata lain, tak akan ada pembukaan lahan pertanian baru akibat alihfungsi LP2B di Kecamatan Padang Tiji, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan PP Nomor 1 tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian, di mana alih fungsi LP2B untuk kepentingan umum dapat dilakukan dengan pembukaan lahan pertanian yang baru seluas tiga kali lipat dari lahan yang dialihfungsi sebagai lahan pengganti.

Di lain sisi, untuk meningkatkan produktivitas gabah dan kampanye program ketahanan pangan, Kementerian PU PR juga membangun Bendungan Rajui di Padang TIji. Selain Rajui, Kementerian PU PR, bersumber dari APBN, juga membangun Bendungan Rukoh dan Tiro di Kabupaten Pidie. Baik jalan tol maupun dua bendungan tersebut masuk ke dalam proyek strategis nasional atau PSN.

Yang lebih ironis lagi: Pidie, sebagai salah satu lumbung pangan bagi Aceh, justru belum memikirkan sebuah Peraturan Daerah (Perda) atau Qanun tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Tak heran jika Pemerintah Kabupaten Pidie kelimpungan saat ditanyai berapa luas LP2B di Padang Tiji yang akan dialihfungsi menjadi jalan tol. []

Komentar

Loading...