Banner Stunting
Klik Tambang

Editorial

[Editorial] OTT Irwandi dkk dan Bola di Lapangan tanpa Tiang Gawang

·
[Editorial] OTT Irwandi dkk dan Bola di Lapangan tanpa Tiang Gawang
Sumber foto: Antara.

Di sebuah kota nun jauh, di Kota Casablanca, Maroko, Murad, seorang pegawai di Kementerian Pekerjaan Umum, setiap harinya mencermati seluruh berkas perusahaan yang mendaftar untuk pelelangan proyek di Kementerian PU. Tanda tangannya adalah penentu menang atau tidaknya sebuah perusahaan dalam sebuah proyek.

Setiap pagi dia ke kantor naik bus. Bajunya lusuh dan sepatunya bisa dikatakan menyedihkan. Sebaliknya, Haji Hamid, asisten Murad, hidup dengan kemewahan yang berlimpah meskipun gaji Haji Hamid lebih sedikit dibandingkan gaji Murad.

“Asistenmu itu, dialah laki-laki sejati! Gajinya kurang dari gajimu, tapi dia tinggal di vila yang indah, punya dua mobil, dan anak-anaknya bersekolah di sekolah kedutaan Prancis, tambah lagi dia menghadiahi istrinya liburan ke Roma! Dan kamu menghadiahiku alat kontrasepsi dan kita hanya makan daging dua kali seminggu. Ini bukan hidup namanya. Waktu liburan kita hanya pergi ke rumah ibumu, di rumah tuanya di perkampungan kumuh Fes. Apa kamu sebut itu liburan? Kapan kamu akan sadar bahwa keadaan kita ini menyedihkan?”

Omelan itu setiap hari keluar dari mulut istri Murad, Hilma. Tak hanya Hilma, mertua Murad juga menghina pria yang memiliki gelar sarjana ekonomi dari Universitas Mohamed V di Rabat, serta gelar insiyur dari sekolah di Perancis, itu. 

Mulanya, Murad bertahan dengan prinsipnya. Tak tergoyahkan. Ia tak peduli pada lingkungannya yang korup. Ia adalah ironi bagi keluarga dan lingkungan kerjanya. Sosok yang bersih.

Merasa gerah dengan suasana rumah bersama Hilma dan kebutuhan hidup yang semakin banyak seiring dengan anak-anaknya yang beranjak dewasa, Murad mulai mencari kenyamanan baru.

Dan Nadia, janda beranak satu yang tak lain adalah sepupunya, adalah kenyamanan bagi Murad yang akhirnya ditemukannya.

Pada pertemuan-pertemuan di malam-malam yang mengesankan, Murad ternyata sudah melepaskan prinsipnya. Ia mulai menerima fee proyek. Murad beranggapan, jika ia ingin menikahi Nadia dan hidup bahagia, maka ia harus memiliki banyak uang. Hidup pas-pasan bersama Hilma menjadi cerminannya.

Lucunya, uang hasil fee proyek disimpannya dalam buku filsafat yang sudah ia baca berulang-ulang, buku yang menjadi rujukannya untuk tetap berpegang teguh pada prinsipnya, tiap kali H Hamid beli mobil baru, beli villa baru, dan naik haji lagi.

Sebaliknya, di lain pihak, Nadia jatuh cinta pada Murad justru karena prinsip dan integritas yang dimiliki Murad. Pupuslah cinta Nadia pada Murad. Dengan kata lain, nelangsalah perasaan Murad ujung-ujungnya.

Cerita tersebut adalah rangkuman novel Tahar Ben Jelloun yang berjudul Korupsi.

L’Homme rompu’ adalah judul asli novel karya sastrawan terkemuka Prancis kelahiran Maroko, yang juga peraih Prix Goncourt ini. Novel tersebut disebut-sebut terinspirasi dari Novel “Korupsi” karya Pramoedya Ananta Toer,  sastrawan terkemuka Indonesia.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana seorang manusia memiliki kontradiksi dalam dirinya sendiri. Seseorang yang dianggap sebagai penyebar slogan “hana fee”, misalnya, bisa terjaring OTT KPK, atau apa yang disebut Media Indonesia dalam editorialnya dengan satu frase yang mengesankan: “Agung di janji, lancung dalam aksi”.

Sebagian orang masih berat menerima kenyataan bahwa Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf telah menjadi tersangka  dugaan kasus suap proyek DOKA 2018, sama halnya dengan masyarakat internasional yang mulanya sulit menerima kenyataan, salah seorang peraih nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi, tidak melindungi minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Ekpektasi yang besar pada seseorang, yang kerap dibarengi dengan pengkultusan, memang tak jarang berakhir dengan kekecewaan.

Bola berpindah dari satu kaki ke kaki yang lain. Digiring ke sana, ke mari. Namun, tak satupun pemain dari kedua kesebelasan tahu, di mana letak tiang gawang. Terlebih lagi, celakanya, seluruh pemain tidak sempat melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tahu-tahu, bola kempes dengan sendirinya dan seluruh pemain menderita hernia, sebab lapangan tempat si kulit bundar digiring bukanlah lapangan sepak bola, melainkan lapangan golf.

Pada media massa, di hari pertama menginjakkan kaki di Gedung KPK pasca terjaring OTT, Irwandi Yusuf pernah berkata, ia tak mengetahui perihal uang Rp 500 juta dari bagian Rp 1,5 miliar permintaan Irwandi atas ijon proyek DOKA 2018, yang diberikan Bupati Bener Meriah, Ahmadi.

Ia bahkan mengaku tak tahu menahu nama-nama pihak swasta yang terlibat dalam kasus suap tersebut. "Saya nggak tahu. Sama mereka nggak pernah komunikasi, lalu saya nggak terima uang," kata Irwandi, Kamis 5 Juli 2018.

Kala itu, blitz kamera wartawan seperti kilat dan tak ada satu lengan pun mampu menangkis kilat tersebut.

Di lain pihak, salah seorang tersangka lainnya, Hendri Yuzal, yang merupakan staff khusus Irwandi, sempat mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di samping itu, hal yang sama juga konon akan dilakukan Ahmadi. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait wacana Hendri Yuzal dan Ahmadi yang ingin menjadi JC.

Satu hari setelahnya, dikutip dari cnnindonesia.com, Irwandi berkata pada awak media, "Sebetulnya damainya Aceh dengan NKRI, saham saya besar di situ. Saya ikut mendamaikan, ikut mengumpulkan senjata, ikut berunding, dan akhirnya kayak sekarang.”

Juru Bicara KPK Febri Diansyah ketika diminta pandangannya oleh sinarpidie.co mengenai ketidakkonsistenan keterangan para tersangka dugaan suap dana DOKA di Kabupaten Bener Meriah di media massa, menjawab, “Penyidikan masih berjalan. Sejauh ini, sejumlah keterangan para pihak memperkuat kasus yang sedang ditangani. Namun setiap keterangan tentu akan dilihat kesesuaian dengan bukti-bukti lain.”

Sementara itu, di Aceh, ada pihak yang menyebar isu bahwa OTT KPK hanyalah bagian dari konspirasi.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah tak merespon pertanyaan tersebut ketika ditanyai. Ia hanya memberikan up date perkembangan kasus terkini yang secara tidak langsung menangkis isu tersebut.

“Menjawab sejumlah pertanyaan tentang kaitan para saksi yang dicegah ke luar negeri, kami sampaikan bahwa Pencegahan ke LN terhadap sejumlah saksi tersebut perlu dilakukan untuk kebutuhan pemeriksaan bagi saksi-saksi nantinya. Terhadap pejabat ULP dan PUPR, kami perlu memperdalam proses pengadaan yang dilakukan. Pengadaan yang terkait dengan penggunaan dana DOKA. Sedangkan terhadap saksi ke-3, ada informasi terkait aliran dana yang perlu diklarifikasi dan pertemuan-pertemuan dengan tersangka yang relevan dengan perkara ini,” kata dia, Minggu, 7 Juli 2018.

Pada Sabtu 7 Juli 2018, KPK melakukan penggeledahan rumah para tersangka kasus korupsi Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018.

Selain itu, KPK melakukan pencegahan ke luar negeri terhadap 4 orang selama 6 bulan terhitung Jumat, 6 juli 2018, yaitu Nizarli, Rizal Aswandi, Fenny Steffy Burase, dan Teuku Fadhilatul Amri.

KPK, melalui Jubir Febri Diansyah, secara konsisten sejak OTT ini mencuat ke publik menyampaikan, “Perlu kita pahami bersama, yang dilakukan saat ini adalah proses hukum. KPK diberi tugas untuk melakukan penanganan kasus korupsi. Penanganan kasus korupsi tersebut perlu mendapat dukungan dari masyarakat karena yang dirugikan akibat korupsi adalah masyarakat itu sendiri.”

Mengulangi apa yang disebutkan Febri Diansyah, "terhadap pejabat ULP dan PUPR, kami perlu memperdalam proses pengadaan yang dilakukan. Pengadaan yang terkait dengan penggunaan dana DOKA", hal ini beririsan dengan pertanyaan sinarpidie.co sebelumnya, akankah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendalami dugaan bancakan terhadap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018 di kabupaten/kota lainnya di Aceh, selain Kabupaten Bener Meriah?

Kembali pada Novel Korupsi karya Tahar Ben Jelloun. Dalam kata pengantarnya pada novel tersebut ia menuliskan, “Di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama.”

Singkatnya,  setan sebagai tamsil praktik untuk memperkaya diri dengan cara yang tak senonoh.[]

Komentar

Loading...