Editorial

[Editorial] Murka Agen Sipil BAIS

·
[Editorial] Murka Agen Sipil BAIS
Tempat Kapten Abd Majid ditembak di Jalan Lhok Krincong- Pinto Sa, jalan perkebunan yang masih berbatu, di Gampong Lhok Panah, Kecamatan Sakti, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

Di Pidie, dalam empat bulan terakhir, terdapat dua peristiwa yang berkelindan di tubuh Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Pertama, mobil Toyota Avanza Pemkab Pidie yang digunakan untuk operasional BAIS dibawa kabur oleh “orang dekat” BAIS, Jefri, 45 tahun, warga Gampong Yub Mee, Kecamatan Pidie, Pidie, di garasi Save House BAIS di Gampong Cot Teungoh, Kecamatan Pidie, pada Agustus 2021. Selang beberapa bulan kemudian, baru-baru ini, Komandan Tim Badan Intelijen Strategis (Dantim BAIS) Wilayah Pidie, Kapten Inf Abdul Majid, terkena tembakan.

Peristiwa yang pertama erat kaitannya dengan pelibatan warga sipil di dalam lingkaran BAIS. Warga sipil yang juga berprofesi sebagai wartawan ini merasa ditipu karena honorariumnya sebagai tenaga pembantu operasi atau agen diduga tidak dibayarkan BAIS sehingga dia membawa kabur mobil tersebut.

“Sebagai agen, sebelumnya saya mengantongi honorarium. Tapi memasuki tahun ini, dengan bos yang baru, saya tidak mendapatkan apa-apa. Jadi, saat di lapangan, saya keluarkan uang saya sendiri. Artinya, uang saya habis, tenaga saya habis, tapi tidak dibayar,” kata pria yang kini tengah mendekam di balik jeruji besi, itu.

Peristiwa yang kedua diduga juga tak lepas dari keterlibatan warga sipil dalam operasi intelijen BAIS.

Murdani, salah seorang tersangka penembakan Kapten Abdul Majid, tentu memiliki hubungan yang dekat dengan BAIS sehingga sang kapten bersedia untuk masuk ke dalam kelok-kelok Jalan Lhok Krincong- Pinto Sa, jalan perkebunan yang masih berbatu, di Gampong Lhok Panah, yang terletak 1,5 kilometer dari pemukiman penduduk. Murdani adalah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sebelumnya diduga terlibat dalam kasus-kasus perampokan bersenjata yang dipimpin Fauzi—kini almarhum.

Baca juga:

Yang masih samar-samar adalah pria yang duduk di samping Kapten Abdul Majid di dalam mobil. Berdasarkan informasi yang sinarpidie.co himpun pada saksi mata, sesaat setelah Kapten Inf Abdul Majid tertembak, pria ini mengenakan masker dan mengaku pada warga bahwa dirinya merupakan anggota TNI yang bertugas di Kodim 0102/Pidie. Tapi jika pria ini bukan warga sipil, tentu dialah yang seharusnya menyopiri mobil yang ditumpangi sang kapten. Atau anggota TNI ini memang tidak bisa mengemudi mobil sehingga Kapten Abdul Majid yang harus memegang setir.

Sebagai agen, Murdani, kemungkinan besar, tidak akan membawa Kapten Abd Majid ke sarang perampok bersenjata. Tapi sebagai agen yang telah menunjukkan posisi senjata dan dijanjikan akan menerima sejumlah uang dari senjata yang akan diserahkan, Murdani bisa saja bertindak seperti Jefri, agen yang membawa kabur mobil operasional BAIS karena honorariumnya tidak dibayar, jika apa yang dijanjikan di awal ternyata hanyalah isapan jempol belaka.

BAIS TNI berfungsi menyelenggarakan kegiatan dan operasi intelijen strategis untuk mendukung tugas pokok TNI. Berbeda dengan Badan Intelijen Negara (BIN) yang berada di bawah dan bertanggungjawab pada presiden, BAIS TNI bertanggung jawab kepada Panglima TNI yang, dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, dikoordinasikan oleh Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.

Terlalu berbahaya jika penggunaan warga sipil—terlebih mereka yang tidak berkompeten di bidang ini dan kerap terjadi konflik kepentingan di antara sesama agen—dalam operasi-operasi intelijen tetap dilakukan: tidak hanya bagi TNI tapi juga bagi publik (kestabilan keamanan). Terlebih, agen-agen sipil ini merasa memiliki “hak istimewa” untuk melakukan pelbagai tindak pidana tanpa diproses secara hukum karena mereka adalah bagian dari BAIS.

Peristiwa penembakan Kapten Abdul Majid ini tidak bisa dipandang sebagai peristiwa tunggal. Lantas siapa yang bertanggungjawab untuk--jika memang benar-- operasi yang gagal hanya karena praktik ingkar janji ini?

Loading...