Dugaan Pencemaraan Lingkungan dan Dugaan Izin Lingkungan Bodong PT Pelita Jaya Nad

·
Dugaan Pencemaraan Lingkungan dan Dugaan Izin Lingkungan Bodong PT Pelita Jaya Nad
Di dalam pabrik AMP dan pemecah batu milik PT Pelita Jaya Nad. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Keberadaan pabrik asphalt mixing plant (AMP) dan pemecah batu milik PT Pelita Jaya Nad di Gampong Pulo Drien, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, diduga telah menganggu lingkungan penduduk di tiga gampong, yakni Gampong Pulo Drien, Gampong Gampong Baro, dan Gampong Simbe.

“Mereka (pabrik-red) sudah menganggu di segala lini. Kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, sangat terancam. Kalau mereka sedang beroperasi, hitam semua. Gelap gampong jadinya. Di loteng warung, di atas meja kedai kopi, jatuh butiran-butiran kecil aspal,” ujar Bahtiar, 38 tahun, warga Gampong Pulo Drien, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Sabtu 30 September 2017.

Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu, selama ini keluhan masyarakat Gampong Pulo Drien dan sekitarnya tidak digubris oleh keuchik masing-masing gampong tersebut.

“Kalaupun keuchik-keuchik itu ada diberi sesuatu, ya terserah. Masalahnya, ini sudah berimbas pada kepentingan umum, ya belalah masyarakat. Kami ini orang makan abu pabrik,” ungkapnya lagi.

Habsah, 48 tahun, mengaku, ia sering mengalami sesak napas dalam beberapa tahun terakhir. “Saya takutnya anak-anak juga sakit nanti,” ungkap Habsah.

Sementara itu, Keuchik Gampong Pulo Drien, Zakaria Syamaun, enggan berkomentar banyak dan enggan diwawancarai sinarpidie.co.

“Coba temui bendahara gampong saja,” kata dia via telepon selular, Minggu 1 Oktober 2017.

Keberadaan pabrik tersebut, menurut keterangan warga setempat, sudah 20 tahun lebih lamanya.

Amatan sinarpidie.co, pabrik tersebut terletak di kawasan padat pemukiman. Di kiri-kanan dan di depan, terdapat rumah dan kedai-kedai masyarakat setempat. Di dalam pabrik tersebut terdapat sejumlah alat berat yang sedang beroperasi. Truk pengangkut pasir datang silih berganti.

“Ke kantor saja, di situ lengkap. Di Jalan Prof A Majid Ibrahim nomor 10, Sigli,” kata Miswar, pengelola pabrik tersebut, ketika ditanyai tentang aktivitas pabrik tersebut, Minggu 1 Oktober 2017.

Ditanyai tentang ke mana limbah pada pabrik tersebut bermuara, Miswar menjawab, “Limbahnya masuk ke dalam peredam, kemudian ke tempat penampungan. Kami simpan, lalu kami aduk untuk base. Untuk jalan."

Tidak Pernah Melaporkan Pelaksanaan UKL-UPL

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pidie, Muslim, mengatakan PT Pelita Jaya Nad, yang telah mengantongi izin lingkungan pada 2012 silam, belum pernah sekalipun melaporkan laporan pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).

“Sampai hari ini, kami belum menerima laporan pelaksanaan UKL-UPL meskipun sudah beberapa kali saya minta secara tertulis. Malahan mereka (pemilik pabrik-red) sudah pernah dipanggil ke Polda,” kata dia, Minggu 1 Oktober 2017, via telepon selular.

Melanggar PP No 27 tahun 2012

Penerbitan Izin lingkungan untuk PT Pelita Jaya Nad, diduga melanggar Peraturan Pemerintah RI nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Pasal 14 ayat 2 PP tersebut berbunyi:Lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib sesuai dengan rencana tata ruang. Dan, ayat tiga berbunyi: Dalam hal lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan tidak sesuai dengan rencana tata ruang, UKL-UPL tidak dapat diperiksa dan wajib dikembalikan kepada Pemrakarsa.

Kawasan peruntukan untuk pengembangan industri menengah, berdasarkan Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie tahun 2014-2034 adalah Kecamatan Simpang Tiga, Kembang Tanjong, dan Kota Sigli.

Akan menyampaikan UKL-UPL

Di lain pihak, Direktur Utama PT Pelita Jaya Nad Amirullah Basyah, mengatakan, perusahaan miliknya bukanlah satu-satunya perusahaan AMP dan pemecah batu di Pidie, yang bermasalah dalam hal pelaporan UKL-UPL. “Pabrik itu sudah ada sejak 1998. Laporan lingkungan, semua (perusahaan-red) di Pidie belum pernah kasih. Saya mau buat. Akan saya serahkan,” kata dia, di Sigli, Selasa 3 Oktober 2017. “Yang tidak setuju dengan pabrik saya, itu orang yang tidak senang dengan saya. Saya bisa tunjukkan, masyarakat-masyarakat yang setuju.”[]

Loading...