Dua Tahun Petani di Keumala tak Lagi Budidayakan Kunyit, Ini Penyebabnya

·
Dua Tahun Petani di Keumala tak Lagi Budidayakan Kunyit, Ini Penyebabnya
Pengepul kunyit di Gampong Tunong, Kecamatan Keumala Pidie, Aris, 23 tahun. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Dalam dua tahun terakhir, warga di Kecamatan Keumala, Pidie, enggan membudidayakan tanaman kunyit. Keuchik Gampong Cot Seutui, Kecamatan Keumala, Pidie, Abdul Kadir, mengatakan salah satu penyebab warga enggan menanam komoditas perkebunan tersebut karena adanya gangguan gajah. “Petani kunyit di Keumala, tersebar di tiga gampong, yakni di Gampong Pako, Gampong Tunong dan Gampong Cot Seutui,” kata Abdul Kadir, Sabtu, 18 Juli 2020 kemarin.

Kata Abdul Kadir lagi, di Kecamatan Keumala, terdapat ratusan hektare kebun kunyit yang umumnya terletak di lereng pegunungan. "Saat ini petani kunyit hanya bercocok tanam di sawah saja," kata Abdul Kadir.

Pengepul kunyit di Gampong Tunong, Kecamatan Keumala Pidie, Aris, 23 tahun, mengatakan saat ini jumlah kunyit yang dijual petani juga menurun drastis. “Dulu mencapai dua ton lebih dalam sehari saya beli kunyit dari petani. Sekarang hanya sekitar 500 kilogram kunyit dalam sehari yang saya tampung,” kata Aris.

Dalam sepekan terakhir, harga kunyit di tingkat petani Rp 3 ribu per kilogram, sementara harga kunyit di tingkat pedagang eceran berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 5.500 per kilogram. []

Loading...