Sejarah

Dua Nisan di Kuta Pangwa

·
Dua Nisan di Kuta Pangwa
Makam yang disebut-sebut sebagai makam keluarga Sultan Iskandar Muda di Masjid Kuba Pangwa, Gampong Meunasah Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.coDUA NISAN yang saling berhadapan terpancang di salah satu sudut tanah di Gampong Meunasah Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya. Pada satu nisan terpatri: Teuku Panglima Prang Syak Nyak Dhan bin Teuku Bintara Raknawangsa Adoe Ummi Sultan Iskandar Muda. Pada nisan satunya lagi, terpatri nama sang anak: Teuku Panglima Prang Gelanggang bin Teuku Nyak Dhan Aneuk Kumun Sultan Iskandar Muda.

Kendaraan yang lalu-lalang menderu, terdengar begitu nyaring hingga ke Masjid Kuba Pangwa yang terletak di pinggir jalan, tempat di mana makam tersebut berada di antara makam-makam masyarakat lainnya, Minggu, 20 Januari 2019.

Melihat makam tersebut, ingatan seperti memasuki labirin masa lalu sebuah teritori yang kini disebut dengan Aceh.

NUN JAUH pada abad ke-15, Kerajaan Aceh masih serupa bayi yang merangkak perlahan-lahan dengan kuku-kuku tajam yang belakangan mencengkram wilayah manapun yang berada di sekelilingnya, baik lewat politik maritimnya maupun invasi darat.

Jejaknya, setidaknya bisa ditelusuri dari sang pendiri Kerajaan Aceh, Ali Mughayat Syah.

Semasa hidup, Ali Mughayat Syah telah menaklukkan Deli, Daya, Pedir dan Pasai pada Mei 1524. Sebelumnya, pada 1521, ia mengalahkan armada Portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas.

Kala ia wafat, tampuk pimpinan dipegang sederet keturunannya yang belakangan, pada satu titik yang tak bisa dibendung, terjadi perang saudara yang berakhir dengan musnahnya garis keturunan para raja-raja tersebut.

“Zainal 'Abidin (Zain ul-Abidin) mati terbunuh, lalu takhta diduduki ‘orang luar’, 'Ala'ad-Din (Ala ud-Din) dari Perak. Bahwa seorang raja yang berasal dari Semenanjung Melayu bisa naik takhta membuktikan betapa cakrawala Aceh yang dahulu masih terbatas, telah melebar,” tulis sejarawan terkemuka, Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda.

Sejak saat itu, siapa yang menjadi Raja Kerajaan Aceh ditentukan oleh para oligarki cum bangsawan (orang kaya) yang memonopoli komoditas ekspor-impor di Kerajaan Aceh hingga 'Ala ad-Din Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil (Ala ud-Din Riayat Sah Sayid al-Mukamil), sang kakek Sultan Iskandar Muda, dinobatkan sebagai raja (hingga 1604).

Pada suatu ketika usai dinobatkan, disebut-sebut tak kurang 1000 orang kaya, bangsawan di istana, dibantai oleh Kakek Sultan Iskandar Muda, Ala ad-Din Ri'ayat Syah. Iskandar Muda sendiri disebut Denys Lombard, dalam buku Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda, “anak dari salah seorang putrinya yang sangat disayanginya, cucu yang bakal menjadi Iskandar Muda.”

“Tetapi pemerintahannya (Ala ad-Din Ri'ayat Syah, Kakek Sultan Iskandar Muda-red) yang berawal semantap itu, berakhir dengan kurang baik. 'Ala ad-Din Ri'ayat Syah mempunyai dua putra yang sudah siap mempertengkarkan penggantiannya; mereka memberontak sebelum ayah mereka wafat.

Ayah itu mereka kurung dan mungkin orang tua itu meninggal dunia di penjara. Putranya yang sulung, Sultan Muda, mengambil gelar 'Ali Ri'ayat Syah dan memegang pemerintahan Aceh; adiknya menarik diri sebagai gubernur di Pidir,” tulis Denys Lombard dalam buku Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda. “Iskandar Muda yang masih muda, yang pada masa kanaknya dimanja kakeknya, berumur kira-kira 21 tahun waktu kejadian-kejadian tadi. Paman-pamannya tidak memikirkannya waktu membagi kekuasaan; akan tetapi karena permainan yang lihai tak lama kemudian ia berhasil memecah-belah mereka dan pada akhirnya menyingkirkan mereka.”

Dikutip dari Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda, Iskandar Muda melancarkan manuver politiknya dengan membangun fraksi-fraksi di dalam istana.

“Mula-mula ia bertengkar dengan Sultan Muda dan mencari perlindungan pada gubernur Pidir. Lalu gubernur itu dihasutnya sampai memberontak dan menyerbu ibukota dengan memimpin tentera pemberontak. Tetapi pamannya di Aceh bereaksi sebelum terlambat, menyambutnya, mengalahkan pasukan-pasukannya dengan seru dan menawannya; Iskandar Muda dibawa kembali ke Aceh dengan kaki dirantai. Maka bangsa Portugis yang pasti telah mendapat kabar tentang perang saudara itu, menyiapkan armada, berlayar ke Aceh, membuang sauh di pelabuhannya dan melancarkan serangan. Saatnya genting, dan si paman yang mengetahui kepandaian keponakannya di bidang militer, mengeluarkannya dari penjara dan memberinya kedudukan sebagai panglima.

Iskandar bertindak dengan berani dan memukul mundur musuh yang sudah mendarat. Malam itu juga si paman kebetulan meninggal, suatu kebetulan yang meresahkan, dan pahlawan hari itu dinyatakan Sultan menggantikan pamannya. Tinggal pamannya di Pidir; Iskandar mengirim pembunuh-pembunuh sewaan untuk membunuhnya sehingga dia seorang diri menguasai Aceh,” tulis Denys Lombard.

Usai penobatannya, hal pertama yang Sultan Iskandar Muda lakukan adalah apa yang dulunya dilakukan oleh sang kakek: “membersihkan” para orang kaya di dalam istana, yang sejak 1604 ikut bersekongkol dan berkomplotan dengan kedua pamannya. Hal itu ia lakukan agar tak ada oposisi di dalam istana, yang menurutnya akan bermanfaat untuk kestabilan politik, pembangunan, dan keamanan.

KENDARAAN masih menderu. Desau angin dari sawah-sawah di sekeliling Masjid Kuba Pangwa berkelindan. Agak jauh ke belakang, dua nisan di sana masih menyimpan misteri: romantisme masa lalu di zaman Sultan Iskandar Muda, sekaligus tragedi-tragedi yang menyertai kokohnya kekuasaan Kerajaan Aceh pada masa kepemimpinannya. []

Komentar

Loading...