DPRK Pidie Ogah Bentuk Pansus Pengelolaan Limbah B3 Infeksius di RSUD TCD, Ada Apa?

·
DPRK Pidie Ogah Bentuk Pansus Pengelolaan Limbah B3 Infeksius di RSUD TCD, Ada Apa?
Cerobong asap insinerator sepanjang 17 meter yang mengeluarkan emisi saat pembakaran limbah B3 infeksius. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).
  • Namun, insinerator RSUD TCD—Tesena TSN96XX IC series 9610IC— hanya memiliki satu ruang bakar atau chamber, yang patut diduga tidak memenuhi spesifikasi teknis insinerator yang dapat dioperasionalkan sebagaimana bunyi surat KLHK nomor S.698/VPLB3/PPLB3/PLB.3/08/2020 tertanggal 25 Agustus 2020 itu sendiri.
  • Spesifikasi teknis insinerator yang dapat digunakan, meski di tengah-tengah pandemi Covid-19 sekali pun, adalah insinerator dengan dua ruang bakar atau chamber: temperatur pada ruang bakar utama (primary chamber) minimum 800 derajat celcius dan temperatur pada ruang bakar kedua (secondary chamber) minimum 1000 derajat celcius dengan waktu tinggal minimum dua detik.

sinarpidie.co - DPRK Pidie terkesan menutup mata dan tidak melakukan pengawasan terhadap tata kelola limbah B3 infeksius di RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli. Penyimpanan sementara limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli dilakukan di TPS Limbah B3 yang terbuka tanpa alat pendingin atau cold storage atau freezer agar temperatur untuk penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, memenuhi standar pengelolaan limbah B3 kategori satu atau limbah B3 yang berdampak akut dan langsung terhadap manusia.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor: P.56/Menlhk-Setjen/2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengatur bahwa penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam paling lama 2 hari pada temperatur di atas nol derajat celcius atau 90 hari pada temperatur lebih kecil dari nol derajat celcius di ruang berpendingin.

Meski belum mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemusnahan limbah B3 di rumah sakit ini dilakukan melalui insinerator. Hal ini didasari alasan pandemi Covid-19. Persetujuan ini diberikan lewat surat KLHK nomor S.698/VPLB3/PPLB3/PLB.3/08/2020 tertanggal 25 Agustus 2020.

Namun, insinerator RSUD TCD—Tesena TSN96XX IC series 9610IC— hanya memiliki satu ruang bakar atau chamber, yang patut diduga tidak memenuhi spesifikasi teknis insinerator yang dapat dioperasionalkan sebagaimana bunyi surat KLHK nomor S.698/VPLB3/PPLB3/PLB.3/08/2020 tertanggal 25 Agustus 2020 itu sendiri.

Spesifikasi teknis insinerator yang dapat digunakan, meski di tengah-tengah pandemi Covid-19 sekali pun, adalah insinerator dengan dua ruang bakar atau chamber: temperatur pada ruang bakar utama (primary chamber) minimum 800 derajat celcius dan temperatur pada ruang bakar kedua (secondary chamber) minimum 1000 derajat celcius dengan waktu tinggal minimum dua detik.

Baca juga:

Sebagian limbah B3 infeksius di RSUD TCD dimusnahkan dengan mesin insinerator dalam dua hari sekali, sementara sebagian lainnya diangkut dan dimusnahkan oleh pihak ketiga.

Untuk pengangkutan limbah B3, RSUD TCD bekerjasama dengan PT Cahaya Tanjung Tiram Perkasa. Pemusnahan limbah B3 RSUD TCD dilakukan PT Wastec International.

Ketua Komisi IV DPRK Pidie, T Mirza Jamil, mengatakan pihaknya baru akan membentuk Panitia Khusus (Pansus) terkait pengelolaan limbah B3 infeksius di RSUD TCD setelah turun ke lapangan terlebih dahulu.

“Jika limbah pengelolaan limbah B3 berefek pada lingkungan warga yang tinggal di kawasan tersebut, pihak RSU TCD harus cepat-cepat mengambil tindakan,” kata T Mirza Jamil, Selasa, 30 Maret 2021. “Setelah turun ke lapangan nanti baru kami akan mengambil satu kesimpulan, apakah akan membentuk pansus atau tidak.”

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan tindak pidana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli memasuki tahap penyelidikan di Polda Aceh.

Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), M Rizal Fahlevi Kirani, mengatakan pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) infeksius di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Limbah B3 RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli, yang tidak memenuhi standar, mengandung unsur pidana.

“Kita ingin proses hukum terkait dugaan tindak pidana pengelolaan limbah medis di rumah sakit ini on the track. Dan sudah saatnya, teman-teman di DPRK Pidie memberi warning pada bupati agar RSUD Teungku Chik Ditiro mengelola limbah B3 sesuai standar dan prosedur yang telah ditetapkan. Limbah B3 infeksius bukanlah sembarangan limbah. Dampaknya langsung ke manusia, bukan hanya ke lingkungan. Apalagi, TPS Limbah B3 tersebut sangat dekat dengan pemukiman penduduk,” kata M Rizal Fahlevi Kirani pada sinarpidie.co, Sabtu, 27 Februari 2021.

Hal senada diutarakan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul SH MH. LBH Banda Aceh mendorong penanganan kasus ini tidak berlarut-larut, mengingat limbah rumah sakit adalah limbah yang sangat berbahaya. “Jika ini diperlambat proses hukumnya, maka publik akan melihat ada upaya pengabaian dalam penegakan yang sedang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Secara kewenangan, jelas pihak kepolisian memiliki kewenangan untuk mengusut ini. Secara personel, logikanya tidak mungkin di tingkat Mapolda kekurangan sumber daya manusia atau SDM penyidik,” tutur Syahrul. []

Loading...