Asli tapi Palsu (Aspal)

Dengan PAD Aspal sekalipun Target tak Jua Tercapai

·
Dengan PAD Aspal sekalipun Target tak Jua Tercapai
Bangunan pasar daging di Pante Teungoh, Kota Sigli. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co—Pasar daging di Pante Tengoh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, selesai dibangun pada 2013 silam. Sejak saat itu pula, pasar itu tak pernah ditempati hingga pada 2016, saat terjadi gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, bangunan itu ikut terdampak meskipun hanya pada beberapa bagian dan itu sangat kecil kerusakannya. Kini, bangunan tersebut telah menjelma menjadi tempat penjemuran ikan teri.

Para pedagang daging umumnya berdagang di Pasar Peukan Pidie dan Tijue.

Rinaldi, 28 tahun, pedagang daging sapi di Pasar Peukan Pidie, Kecamatan Pidie, mengatakan, lokasi pasar daging di Pante Tengoh, Kecamatan Kota Sigli, tidaklah strategis bagi pedagang daging sapi.

 “Tidak ada orang jualan di situ,” kata Rinaldi, Minggu, 23 Desember 2018. “Tidak bisa jualan kita di situ. Orang tak mau ke situ. Dari dulu-dulu kami sudah jualan di sini.”

Di Pasar Peukan Pidie, kata Rinaldi, dalam sehari dirinya harus menyetor Rp 25 ribu sebagai pajak sewa lapak.

Hal yang sama juga terjadi pada bangunan pasar ikan grosir di Pante Teungoh, Kota Sigli.  Bangunan tersebut terakhir kali difungsikan sebagaimana fungsi yang semestinya sekitar 2014 silam. Kini, bangunan tersebut telah menjadi tempat parkir.

M. Daud, salah seorang pedagang ikan grosir di Pasar Pante Teungoh, Kecamatan Kota Sigli, mengatakan dirinya dan para pedagang ikan grosir lainnya enggan menempati bangunan tersebut karena fasilitas di sana tidak memadai. “Air saja tidak ada di sana,” kata dia, Minggu, 23 Desember 2018.

Kendati demikian, kata M. Daud, “Retribusi yang dikenakan pada kami Rp 5000 per fiber.”

Syarbaini, 45 tahun, warga Gampong Ceurucok Sagoe, Simpang Tiga, Pidie, pedagang sayur di Pasar Pante Teungoh Sigli, bahkan tak bisa membedakan perbedaan bangunan pasar sayur dengan los pasar ayam. “Pedagang lebih memilih berdagang di pinggir jalan karena ramai orang,” kata dia.

 Bangunan pasar ikan grosir tempat parkir. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Bangunan pasar sayur juga telah menjadi tempat parkir.

Objek retribusi beberapa dinas

Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Pidie Idham tak ingin semua karut-marut itu hanya ditimpakan pada instansinya.

“Dinas perikanan juga mengutip retribusi. Dinas kebersihan juga kutip retribusi. Cobalah bersinergi,” kata Idham, Jumat, 28 Desember 2018. “Kemudian, bangunan sudah ada, tapi pedagang sendiri yang tak mau menempati.”

Pihaknya, kata Idham, sudah berkoordinasi dengan dinas dan badan terkait di Pidie untuk menugaskan petugas Satpol-PP di pasar-pasar di Pidie. “Tugas mereka menertibkan pedagang  agar tidak berjualan di sembarang tempat,” kata Idham. “Maka, anggaran untuk penertiban jangan tempatkan di disperindag tapi di Satpol PP.”

Disperindagkop Pidie menargetkan pendapatan daerah (PAD) dari retribusi pelayanan pasar sebesar Rp 1, 8 miliar pada tahun anggaran 2018. Sedangkan PAD dari retribusi pasar grosir atau pertokoan ditargetkan Rp 1 milliar.

Baca juga:

Hingga 13 Desember 2018, berdasarkan laporan realisasi penerimaan pendapatan asli daerah dinas tersebut, realisasi retribusi pelayanan pasar hanya 48, 39 persen atau hanya Rp 885.686.800 dari Rp 1,8 milliar yang ditargetkan. Sementara itu, retribusi dari pasar grosir (jasa usaha) hanya terealisasi sebesar 37.57 persen atau Rp 400 juta dari Rp 1 milliar yang ditargetkan. []

Komentar

Loading...