Dedaunan Tanaman Obat dari Tongkat Ali hingga On Sumpeung

·
Dedaunan Tanaman Obat dari Tongkat Ali hingga On Sumpeung
Sudirman Mahmud, 70 tahun, warga Gampong Pulo Seunong, Kecamatan Tangse, Pidie, memetik dedaunan obat di kebunnya. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co—Sudirman Mahmud, 70 tahun, warga Gampong Pulo Seunong, Kecamatan Tangse, Pidie, baru saja pulang dari sawah pada Sabtu, 18 April 2020 pukul 11.30 WIB.

Sesampai di rumah, dia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya. Sejurus kemudian, dia keluar dari rumahnya menuju ke kebunnya yang berjarak 2,5 km dari rumahnya dengan menumpangi sepeda motor Zainal Abidin, 55 tahun, petani dan pekebun di gampong setempat. Lintasan yang dilalui bukanlah jalan beraspal. Jalan itu diapit bukit dan anak sungai. Jalan itu menanjak, berkelok-kelok, dan berlumpur.

Kebun seluas 1,5 hektare miliknya dipenuhi dengan pohon durian, kopi, pisang, pinang, dan bermacam-macam tumbuhan lainnya termasuk sepetak tanah yang ditanami cabai. Ada dua gubuk di kebunnya. Satu berbentuk seperti rumah dengan dinding-dinding seadanya, dan satunya berbentuk balai panggung tak berdinding.

Sudirman menunjukkan tanaman obat yang biasa digunakan sebagai obat malaria, yakni daun dan akar tungkat ali atau eurycoma lonifolia.

“Untuk demam dan malaria yang sudah sangat parah biasa saya buat obat dengan daun dan akar tungkat ali. Pohon tersebut tumbuh di dalam hutan, sangat sulit didapatkan. Rasanya juga sangat pahit,” katanya.

Dia melanjutkan, sebenarnya ada banyak tanaman yang bisa dijadikan obat demam seperti daun sambiloto atau andrographis paniculata dan on sumpueng atau eclipta alba l.

“Tapi itu untuk kadar demam yang tidak parah. Selain tanaman tungkat ali, tanaman geurangsang rimun atau anoectochilussetaceus dan tanaman gajah tunggai juga sangat susah didapatkan,” sebutnya.

Namun kini, semua tanaman tersebut sudah dibudayakan di kebunnya.

Sebelum beranjak pulang ke rumahnya, Sudirman berjalan mengelilingi kebunnya tersebut sambil menunjukkan tanaman-tanaman yang bisa dijadikan obat.

Rumah Sudirman berkonstruksi kayu seukuran 7 x 4 meter. Ada tiga kamar di sana dan sebuah dapur. Di rumah itu, Sudirman tinggal bersama istri, seorang anak dan seorang cucunya.

Sudirman mengeluarkan buku-buku dan kitab yang mengulas tentang resep obat tanaman dari dalam kamarnya. “Ini koleksi buku saya,” kata dia menunjukkan buku-buku tersebut. ”Hanya sebagian. Sisanya masih banyak di kamar.”

Dia menceritakan cara memproduksi obat dengan baku tanaman. Sudirman memetik dedaunan yang segar dan tidak rusak. Setelah dipetik dedaunan tersebut dicuci di sungai di dekat kebunnya.

“Daun yang saya pakai adalah daun yang tidak muda dan tidak tua dan hanya daun-daun yang bagus saya ambil agar khasiatnya terjaga dan tidak menimbulkan efek lainnya,” tuturnya.

Daun-daun tersebut dijemur sekitar empat hari hingga benar-benar kering. Setelah kering, daun-daun tersebut digiling sampai halus. []

Loading...