Dalam 7 Tahun Terakhir, tak Ada Petani di Pijay yang Gagal Panen 100 Persen

·
Dalam 7 Tahun Terakhir, tak Ada Petani di Pijay yang Gagal Panen 100 Persen
Petani di Gampong Reului Mangat, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/M Rizal).

sinarpidie.co--Dalam tujuh tahun terakhir, tidak ada petani tanaman padi yang gagal panen 100 persen di Pidie Jaya. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, drh Muzakir Muhammad MM, pada sinarpidie.co, Rabu, 11 September 2019. Dua penyebab gagal panen tanaman padi di Pidie Jaya, sebutnya lagi, umumnya dikarenakan kemarau berkepanjangan dan serangan penyakit atau hama.

“Kalau ada cuma satu hektare dan dua hektre sawah saja jika diakumulasikan semuanya, " kata dia.

Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu alasan mengapa petani di Pidie Jaya enggan mendaftarkan diri pada Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) Kementerian Pertanian (Kementan).

“Program tersebut merupakan program Kementerian. Diberi peluang untuk petani melakukan asuransi dengan cacatan harus membayar premi. Kalau saya tidak salah, premi dalam satu Rp 36 ribu per hektare untuk sekali musim tanam. Apabila gagal panen pihak asuransi membayar ganti rugi kepada petani per hektre sekitar Rp 6 juta," kata dia.

Kendati demikian, sebutnya lagi, pihaknya terus melakukan sosialisi kepada masyarakat, agar usaha tani mereka didaftarkan dalam program asuransi tersebut.

Program asuransi pertanian dimulai sejak tahun 2015 lalu dengan target 1 hektare (ha) tanaman padi. Petani hanya membayar premi Rp 36 ribu per 1 ha dari total premi Rp180 ribu, sebab sisanya dibayarkan oleh pemerintah sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 40 Tahun 2015.

PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo, yang merupakan BUMN, ditunjuk sebagai pelaksana. Risiko yang dijamin asuransi ini adalah bencana alam (banjir, kekeringan, gempa bumi) dan serangan hama yang mencakup wereng cokelat, walang sangit, tikus, penggerek batang, dan ulat grayak. []

Komentar

Loading...