Daftar Panjang Buronan Kasus Narkoba

·
Daftar Panjang Buronan Kasus Narkoba
Papan informasi tentang bahaya narkoba di Gampong Mee Keurukon, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--HAM, 37 tahun, warga Gampong Meunasah Jambee, Kecamatan Delima, Pidie, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir, ditangkap pada Rabu, 3 Juli 2019 malam  di Gampong Meunasah Jambee, Kecamatan Delima, Pidie. Hari itu, sekitar pukul 10.30 WIB pagi, HAM semula menghubungi seorang pria yang HAM akui bernama Nurdin—kini masih DPO— untuk membeli sabu seharga Rp 800 ribu. Usai mengakhiri pembicaraan melalui telepon selular, keduanya sepakat untuk melakukan transaksi di sebuah warung kopi di Gampong Lala, Kecamatan Mila, Pidie. HAM sampai ke warung tersebut sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah menyerahkan uang sebesar Rp 800 ribu dan menerima satu paket sabu dari Nurdin, HAM meninggalkan warung tersebut dan sampai ke rumahnya sekira pukul 12.00 WIB.

Hanya selang beberapa jam, sekitar pukul 22.00 WIB, saat sedang minum kopi di sebuah warung kopi di Gampong Meunasah Jambee, Kecamatan Delima, Pidie, HAM dibekuk Satuan Reserse Narkoba Polres Pidie.

Dalam salinan Putusan Pengadilan Negeri Sigli Nomor 254/Pid.Sus/2019/PN Sgi, tercatat bahwa HAM dua kali membeli narkoba jenis sabu pada pada Nurdin.

HAM dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun dan enam bulan oleh Majelis Hakim PN Sigli pada pada 13 November 2019.

SELASA, 23 Juli 2019, adalah hari nahas bagi IW, 37 tahun, warga Gampong Lhok Keutapang Kecamatan Tangse, Pidie. Saat sedang duduk di tepi sungai di Gampong Lhok Keutapang, seorang pria yang diakuinya bernama Jamal—kini juga DPO— memberikan ganja secara cuma-cuma padanya. Usai melinting dan menghisap ganja yang terbungkus dalam kertas koran bekas, IW membungkus kembali sisa-sisa ganja tersebut dan menyimpan barang haram itu di dalam saku celananya.

Dua hari berselang, saat sedang tiduran di samping rumah, IW dibekuk anggota kepolisian dari Satuan Narkoba Polres Pidie bersama 2,65 gram ganja yang ia peroleh secara cuma-cuma dari Jamal.

Majelis Hakim PN Sigli, sebagaimana termaktub dalam salinan putusan Nomor 254/Pid.Sus/2019/PN Sgi, menjatuhi IW hukuman pidana penjara selama satu tahun dan enam bulan pada Rabu, 13 November 2019.

PENANGKAPAN HEN, 35 tahun, warga Gampong Garot Cut, Pidie, pada Jumat, 20 September 2019, juga menimbulkan pertanyaan: bagaimana Bang Amad, orang yang disebut-sebut menjual sabu pada HEN sehari sebelum penangkapan, bisa tak tersentuh hukum.

Bang Amad, yang hingga kini juga masih DPO, ditemui HEN di pangkalan RBT di Terminal Garot, Kecamatan Indrajaya. Pada pria yang masih DPO ini HEN membeli paket sabu seharga Rp 90 ribu. Majelis Hakim PN Sigli, sebagaimana termaktub dalam salinan putusan nomor 277/Pid.Sus/2019/PN Sgi tertanggal 10 Desember 2019, memutuskan Hendra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika golongan I bagi diri sendiri dan menjatuhkan pidana penjara selama satu tahun.

Tiga nama yang masuk ke dalam DPO pascaserangkaian penindakan hukum para pelaku penyalahgunaan narkoba di atas hanyalah tiga dari 405 salinan putusan Pengadilan Negeri Sigli untuk tindak pidana khusus (Pidsus) Narkotika dan Psikotropika yang dihimpun sinarpidie.co—putusan dari 2014 hingga 2019. Rata-rata, selalu tertera ‘DPO’ (nama panggilan) dalam 405 putusan tersebut.

Kapolres Pidie AKBP Andy NS Siregar SIK, melalui Kasat Resnarkoba Polres Pidie, Iptu Yusra Aprilla SH MH, mengatakan saat ini tiga DPO tersebut— Nurdin, Jamal, dan Bang Amad—masih belum dapat ditangkap, dan proses penyelidikan untuk tiga nama tersebut masih berjalan. “Tetap dilakukan pencarian,” kata Iptu Yusra SH MH, Senin, 20 Januari 2020 di Mapolres Pidie.

Kata Yusra lagi,  dalam 2018 hingga 2019 terdapat 201 DPO kasus narkoba. “Untuk pengungkapan kasus narkoba yang kita tangani mengalami peningkatan dari tahun 2018 ke 2019, yakni dari 146 kasus menjadi 182 kasus,” kata dia.

Dia juga menjelaskan bahwa pelaku penyalahgunaan narkotika yang ditangkap kerap memberikan keterangan palsu terkait darimana narkoba yang mereka kuasai berasal. “Nama-nama yang diberikan sulit kita telusuri. Bahkan kadang-kadang hanya nama panggilan saja yang diberikan,” sebutnya.

Direktur YBLHI LBH Banda Aceh Syahrul SH MH mengatakan pihaknya menduga, penindakkan hukum terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba tidak pada pemutusan rantai peredaran narkoba tapi hanya sebatas penindakan terhadap pemakai dan kurir.

“Logikanya, saat memperoleh informasi tentang adanya transaksi narkoba, mengapa yang ditangkap terlebih dahulu orang yang beli, bukan orang yang menjual. Yang dominan terjadi ialah upaya pemutusan rantai untuk menangkap bandar narkoba,” kata Syahrul, Senin, 20 Januari 2020. “Dalam beberapa kasus, yang kena tembak itu kan kurir. Dengan begitu, kasus tidak perlu dikembangkan lagi.” []

Komentar

Loading...