Teater

Cikal-Bakal Terbentuknya Lamuri Ada di dalam Penjara

·
Cikal-Bakal Terbentuknya Lamuri Ada di dalam Penjara
Novel Kura-Kura Berjanggut, karya Azhari Aiyub, diadaptasi ke dalam teater, tari, dan musik. Pergelaran seni yang diproduseri oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh ini bertajuk “Suatu Ketika di Bandar Lamuri”. Foto IST.

sinarpidie.co —Novel Kura-Kura Berjanggut, karya Azhari Aiyub, diadaptasi ke dalam teater, tari, dan musik. Pergelaran seni yang diproduseri oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh ini bertajuk “Suatu Ketika di Bandar Lamuri”. Pertunjukkan tersebut dapat disaksikan melalui melalui kanal youtube BPNB Aceh, yang diunggah Minggu, 27 Desember 2020 kemarin.

“Kami berharap pergelaran seni ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat luas,” kata Kepala BPNB Aceh, Irini Dewi Wanti SS MSP.

Penulis naskah teater ini adalah Azhari Aiyub, Fauzan Santa, dan Thomson HS. Thomson HS, Direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt), juga bertindak sebagai stage manager dalam pertunjukkan teater tersebut.

Sedikitnya, 10 aktor, 11 penari, dan 7 pemusik, terlibat dalam pementasan tersebut. Gesekan biola dan pembacaan hikayat oleh Fuady Keulayu, penampilan musik APACHE 13,  serta tarian-tarian penari dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh juga menyertai pertunjukkan teater dengan durasi sekitar 60 menit ini. Adapun musik ditata oleh Alief Maulana, dan panggung ditata oleh Iswadi. Koreografer teater ini adalah Sabri Gusmail.

Penjara dan peta langit

Cikal-bakal terbentuknya Kerajaan Lamuri yang gilang-gemilang terjadi di dalam Penjara Jalan Lurus tatkala si Anak Haram atau Nuruddinsyah, yang diperankan Fauzan Santa, dijebloskan ke dalam penjara tersebut. Di dalam penjara tersebut, Astakona, sang penyembah kerang, yang diperankan oleh Nazar Syah Alam dan Marabunta, yang diperankan oleh Djamal Sharief, mengolok-olok si Anak Haram.

Asokaya yang sudah renta, musuh politik yang paling berbahaya bagi Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam, menyanggah olok-olok Astakona dan Marabunta. “Dia calon sultan,” kata Asokaya.

Asokaya, yang diperankan Thomson HS, melanjutkan kata-katanya, “Dia adalah masa depan kita di tepian barat dan timur Selat Malaka.”

Tubuh Asokaya berdarah-darah karena penyiksaan yang dia terima di dalam penjara. Batuk kerap terdengar saat ia mengeluarkan kata-kata yang terbata-bata. Nurruddin si Anak Haram sebagai calon Sultan Lamuri, kata Asokaya, telah diguratkan di dalam Peta Langit.

Tapi Asokaya keburu mati. Ia tak sempat melihat Si Anak Haram merebut kekuasaan. Adalah Nenek Apiun, perempuan renta yang mulutnya tak pernah lepas dari pipa candu apiun, yang belakangan mengupayakan kata-kata Asokaya menjadi kenyataan. Nenek Apiun, yang diperankan Ramdiana, merupakan adik kandung Asokaya.

Si Anak Haram

Nurruddin lahir dari budak Abesy yang berkulit hitam, Ramla, yang tiba di Bandar Lamuri bersama  Kamaria. Oleh Sultan Maliksyah, Ramla dan Kamaria dibawa ke dalam istana. Kerajaan Lamuri, yang didekte oleh para oligarki Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam, yang dapat menunjuk dan menyingkirkan sultan di Lamuri sesuai kepentingan mereka di bidang jalur perdagangan dan monopoli merica, mendorong Maliksyah untuk memperistri Ramla yang masuk ke istana dalam keadaan hamil. Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam bisa saja menunjuk sultan lain untuk menduduki pucuk pimpinan di Lamuri karena Maliksyah dan saudaranya yang berstatus sebagai putra mahkota, Salmansyah, mandul, dan itu menjadi momok tersendiri bagi Maliksyah.

Salmansyah, yang punya orientasi homoseksual, "disingkirkan" oleh Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam. Kongsi Dagang menunjuk Maliksyah sebagai Sultan Lamuri. Saat Maliksyah berkuasa, istrinya, Ramla, yang keras kepala lebih berperan di belakang layar. Kongsi Dagang melihat Ramla sebagai ancaman sehingga perempuan itu diracun, dan anaknya, Nurruddin, dijebloskan ke dalam penjara. Setelah pembunuhan Ramla, Kamaria menyingkir ke lembah, tempat di mana ia bertemu dengan Nenek Apiun. Ramla dan Nenek Apiun mengorganisir pemberontakkan. Dengan bantuan para tetua Dua Puluh Tiga Kaum yang berpusat di lembah, pemberontakkan dimulai. Yang mula-mula mereka lakukan adalah meruntuhkan tembok penjara untuk membebaskan si Anak Haram.

Jalannya pertunjukkan yang mengambil tempat di Pantai Lampuuk, Aceh Besar, ini, dilanjutkan dengan kedatangan tiga kapal para pelaut Zeeland atau Belanda, tatkala si Anak Haram telah naik tahta sebagai Sultan Kerajaan Lamuri dan membasmi Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam beserta keluarga mereka.

Jan Pieter, yang diperankan Dendi Swaran Danu, dan Lodwijk Abroho yang diperankan Muhammad Jefri, mendarat di Lamuri. Mereka disambut Sultan Nurrudinsyah beserta para wazir Astokana dan Marabunta, sekutu Nurruddin saat ia melancarkan pemberontakkan dan menggulingkan kekuasaan sebelumnya.

Pelaut Belanda tersebut datang saat Lamuri kesulitan menjual merica  yang menumpuk di gudang-gudang, karena selama ini pemasaran merica dimonopoli Kongsi Dagang Ikan Pari Hitam, dan kongsi dagang ini telah berakhir di Lamuri di tangan sang sultan yang baru. Sultan menyambut mereka dengan permainan catur. Adu mulut dan saling ejek mengisi permainan catur, yang pada babak pertama, dimenangkan oleh sultan, lalu kerusuhan pun terjadi. Lagi-lagi, Jan Pieter dan Abroho kalah.

Novel Kura-Kura Berjanggut

Kura-Kura Berjanggut terbit pada 2018 silam dengan tebal 960 halaman. Novel ini terdiri dari tiga bagian: dari abad ke-16 hingga awal abad 21. Azhari menggarap novel ini sejak 2006 silam. Pada 2018, novel ini diganjar penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa. []

Loading...