Cerita di Balik Lapak Musiman Para Penjual Semangka di Teupin Peuraho

·
Cerita di Balik Lapak Musiman Para Penjual Semangka di Teupin Peuraho
Iskandar, 31 tahun, salah seorang penjual semangka di sebuah banguan berkonstruksi kayu di kilometer (KM) 153 Jalan Banda Aceh Medan di Gampong Teupin Peuraho, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/M Rizal).

sinarpidie.co – Di kilometer (KM) 153 Jalan Banda Aceh-Medan, di Gampong Teupin Peuraho, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, sedikitnya, terdapat 15 lapak penjual semangka berjajar. Sekilas, pemandangan itu tampak lazim. Tapi di balik kelaziman yang rapuh tersebut, lapak-lapak di sana sebenarnya menyimpan sebuah cerita: para petani semangka, dengan mendirikan lapak musiman, menolak harga semangka yang ditetapkan tengkulak

Semangka yang dijual di sana merupakan semangka yang tidak memiliki biji dan semangka dengan daging kuning.

Iskandar, 31 tahun, bukanlah petani semangka. Ia adalah salah seorang penjual semangka di sebuah banguan berkonstruksi kayu di pinggir jalan KM 153. Katanya, dalam beberapa waktu belakangan, semangka-semangka di Gampong Teupin Peuraho telah dipanen

"Karena sudah mulai panen raya, harga semangka mulai turun. Semangka yang saya beli dari petani Rp 2.000 dan Rp 2.200 per kilogram. Saya menjual mereka kembali antara Rp 3.500 dan Rp 4.000 per kilogram," katanya pada sinarpidie.co, Kamis, 3 Juni 2021 kemarin.

Sebelumnya, kata dia, harga semangka yang ia beli dari petani adalah Rp 4000 per kilogram. Dalam satu pekan terakhir, Iskandar menjual 100 kilogram semangka per hari. Rata-rata pembeli adalah para pengguna jalan yang melintasi Jalan Banda Aceh-Medan.

"Tapi, sebelum para petani mendirikan pondok mereka masing-masing, semangka yang saya jual bisa laku 300 kilogram dalam sehari," katanya lagi. “Awalnya di sini hanya kami (kedai kayu) yang menjual semangka.” 

Murahnya harga semangka yang dibeli pada petani baru bisa berbanding lurus dengan anjloknya hasil penjualan semangka yang dijual Iskandar, misalnya, setelah sebagian petani memilih untuk menjual sendiri hasil panen mereka dengan mendirikan lapak sendiri.

Dewi, 29 tahun, adalah petani semangka cum penjual semangka musiman. Ia dan suaminya menanam semangka non-biji di sawah yang memiliki luas 24 are atau 1,5 naleh. “Panen pertama dalam satu naleh mencapai 6,5 ton. Saat panen, per kilogram semangka dibeli agen hanya Rp 2.200. Maka kami memilih untuk menjual semangka kami sendiri," kata Dewi. 

Dewi merupakan salah satu petani di Gampong Teupin Peuraho yang tidak menanami padi di sawah mereka pada musim tanam rendengan yang baru beberapa bulan berlalu. Kedainya adalah tiang-tiang bambu yang memiliki atap terpal plastik biru.

Gampong Teupin Peuraho, yang berada di dalam kecamatan yang menjadi ibukota Kabupaten Pidie Jaya, memiliki luas 2.49 kilometer persegi. Gampong ini merupakan lintasan Krueng Beuracan sehingga ia kerap direndam banjir setiap tahun. Satu-satunya kebanggaan 927 penduduk di gampong ini adalah bangunan kuno Masjid Beuracan.

Kata Dewi, menjual semangka yang mereka telah panen di sawah dengan cara seperti ini jauh lebih menguntungkan daripada menyerahkan nasib harga semangka pada tengkulak.

Tapi, tidak semua semangka yang mereka telah panen bisa dijual dengan cara demikian karena jumlah semangka yang terlalu banyak.

“Semangka yang kami jual pada agen dihargai Rp 2.200 per kilogram, sedangkan harga semangka yang kami jual pada pengguna jalan Rp 4000 per kilogram. Tapi tidak mungkin kan semua semangka yang sudah kami panen bisa laku semua. Jika terlalu lama tidak dimakan, semangka bisa busuk," tutur Dewi. “Oleh sebab itu, mau tidak mau, sebagian semangka harus kami lepas untuk agen daripada membusuk.” []

 

Loading...