Laporan mendalam

Bibit DLHK yang Berserak di Aceh

·
Bibit DLHK yang Berserak di Aceh
Muslem Ibrahim, 44 tahun, Ketua Kelompok Tani Beuna Usaha Gampong Blang Sukon, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Anggota Kelompok Tani Alue Kala, Gampong Babah Jurong, Kemukiman Lala, Kecamatan Mila, Pidie, digemparkan dengan mobil pengangkut bibit yang terbalik di gampong setempat pada 29 September 2018 lalu.

Abubakar Pakeh, 51 tahun, salah seorang anggota Kelompok Tani Alue Kala dan 19 anggota dalam  kelompok tersebut, mendapati bibit tersebut telah rusak dan bahkan ada yang sudah mati. Yang membuat mereka lebih tercengang, kata Abubakar Pakeh, bibit bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, tahun anggaran 2018, itu, tidak sesuai spesifikasi.

“Jenis bibit serbaguna (MPTS-red) itu terdiri dari bibit durian sekitar 200 batang lebih, rambutan 200 bibit, manggis 200 bibit dan duku 200 bibit. Itu hanya untuk Poktan Alue Kala. Saat bibit itu dibawa, tidak ada pihak pengawas dan pihak kontraktor di situ. Semestinya bibit-bibit tersebut hasil dicangkok, namun nyatanya bibit-bibit tersebut disemai dalam polybag,” kata dia, Kamis, 4 Oktober lalu. “Ada banyak bibit tidak mencapai 30 cm.”

Ketua Kelompok Tani Alue Kala Tgk Juliadi juga mengatakan, bibit-bibit yang semula disalurkan banyak yang tidak sesuai dengan usulan kelompok.

“Kami mengusulkan bibit pinang dan coklat tapi yang dibawa bibit manggis, duku, durian dan rambutan,” kata dia.

Pengadaan bibit MPTS di Pidie dimenangkan oleh CV. Cospinzel dengan nilai kontrak Rp 487.500.000. Bibit-bibit tersebut disalurkan pada tujuh kelompok tani di Pidie di antaranya Koptan Buket Keutapang, Koptan Blang Lam Kaca, Koptan Alue Kala, Koptan Bukit Barisan, Koptan Cot Keumiki, Koptan Blang Tanoh Adang dan Koptan Alue Baroh. Jumlah keseluruhan bibit yang disalurkan ke Pidie: 65 ribu batang.

Kepala Dinas DLHK Aceh Ir Syahrial mengatakan, pihaknya telah membatalkan penyaluran bibit ke Koptan Alue Kala, Pidie. “Kita tidak menyediakan bibit yang sifatnya cangkok. Mereka meminta cangkok dan sambung. Karena tujuan kita bukan membangun perkebunan, tapi di sela hutan kita siapkan tanaman keras kayu yang berbuah,” kata dia pada sinarpidie.co, Senin, 22 Oktober 2018.

Abubakar Pakeh, 51 tahun, salah seorang anggota Kelompok Tani Alue Kala memperlihatkan kondisi bibit yang disalurkan. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Kita salurkan ke Koptan lain yang sebelumnya juga mengajukan proposal. Sedangkan proposal Koptan Alue Kala kita serahkan ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.”

Selain Pidie, Bireun, Aceh Besar, dan Bener Meriah juga menjadi kabupaten di mana bibit MPTS sebanyak masing-masing 65 ribu batang disalurkan tahun ini.

Di samping bibit MPTS, ada pula sedikitnya 92 paket pengadaan yang terdiri dari bibit jengkol, jernang, aren, sengon, yang penyedia jasanya dipilih melalui pengadaan langsung (PL).

Muslem Ibrahim, 44 tahun, Ketua Kelompok Tani Beuna Usaha di Gampong Blang Sukon, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, mengatakan, pihaknya mengusulkan bibit jengkol pada tahun 2017 lalu.

Infografis sinarpidie.co

“Bibit jengkol ini sudah seminggu diantar ke kampung kami. Saat diantar ada datang juga Pak Fitriadi bidang pengawasan. Bibit diturunkan di halaman rumah saya 8000 batang dan diturunkan di kebun 7000 batang. Bibit jengkol ini untuk kelompok tani yang beranggotakan 15 orang,” kata dia pada sinarpidie.co, Senin, 22 Oktober 2018.

Amatan sinarpidie.co tinggi bibit jengkol ada yang melebihi 50 cm dan ada juga beberapa batang yang tidak mencapai 30 cm. Pagu anggaran untuk pengadaan bibit untuk Kelompok Tani Beuna Usaha di Gampong Blang Sukon, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya ialah Rp 150 juta.

Hal yang sama juga terjadi pada bibit jengkol yang diterima Kelompok Tani di Gampong Kret Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie.

Hasan, 40 tahun, salah seorang anggota kelompok tani penerima bibit jengkol mengatakan, selain bibit jengkol, pihaknya juga menerima ribuan bibit duku dan rambutan, yang akan dibagikan untuk dua kelompok tani, yaitu kelompok Cot Merpati dan kelompok Blang Paloh.

“Paling ada satu dua bibit yang tidak sesuai ukuran, itu biasalah, karena bibit dibawa dalam jumlah banyak. Saya sendiri kalau memang bibitnya tidak sesuai spesifikasi tidak akan terima juga, tetapi ini saya lihat bibitnya lumayanlah,” kata dia, Minggu, pertengahan Oktober 2018 lalu.

Sementara Sekretaris Gampong Kret Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie M Ikbal mengatakan, bibit jengkol telah pihaknya diterima sekitar 3000 batang dan bibit duku serta bibit rambutan sekitar 1500 batang.

“Memang bibit duku dan rambutan ini bukan bibit unggul hasil cangkok atau sambung,” kata dia pertengahan Oktober lalu.

Amatan sinarpidie.co, semua bibit yang pengadaannya dilakukan di DLHK Aceh tak berlebel atau bersertifikat.

“Kita tidak diharuskan menyalurkan bibit yang tersertifikasi. Tapi kalau bibitnya memang berasal dari pengada bibit yang terdaftar. Pengadanya bersertifikat tapi bibitnya tak ada satu keharusan mereka berlebel,” kata Kepala DLHK Aceh Syahrial.

Baca juga:

Ditanyai alasan paket dipecah dan di-PL meskipun Koptan berada di kabupaten yang sama, dirinya menyebutkan, “Saya tidak paham tentang hal itu karena saat saya menjabat sebagai Kepala Dinas DLHK Aceh, paket-paket tersebut sudah ada dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran.”

Pasal 6 huruf c Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  nomor p.49/menlhk/setjen/das.2/5/2016 tentang  Pedoman Penyelenggaraan Kebun Bibit Rakyat menyebutkan, jenis tanaman kbr berupa kayu-kayuan dan tanaman serba guna (MPTS) dengan ketentuan benih atau bahan tanaman untuk membuat bibit dapat berasal dari generatif (biji) maupun vegetatif (stek, cangkok, okulasi, dan kultur jaringan). []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Firdaus

Loading...