Bertahan di Rumah Tanpa Atap usai Terjangan Puting Beliung

Bertahan di Rumah Tanpa Atap usai Terjangan Puting Beliung
Marzuki, 37 tahun, warga Gampong Seuriweuk, Kecamatan Pidie, Pidie, berdiri di depan rumahnya yang diterjang angin puting beliung pada Senin, 19 April 2021 sore. Foto direkam Senin, 24 Mei 2021. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Marzuki, 37 tahun, tinggal di rumah panggung berkerangka dan berdinding kayu yang sudah lapuk, yang memiliki atap seng. Rumah itu berukuran enam kali delapan meter dan terletak di Gampong Seuriweuk, Kecamatan Pidie, Pidie. Seumur hidupnya, Marzuki tidak pernah meninggalkan rumah tersebut dalam waktu yang lama. Selama bertahun-tahun, Marzuki tidur di ruang tengah, sementara satu-satunya kamar di rumah itu adalah kamar kedua kakak perempuannya.

Di rumah tersebut, Marzuki, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan, tinggal bersama ibunya Jariah Hasan, 82 tahun, dan kedua kakaknya: Salamiah, 39 tahun, dan Nurhayati, 41 tahun.

Kini, pria yang masih melajang ini tinggal di rumah panggung yang sama; setengah atap rumah telah lenyap, dan itu bukanlah sebuah kemajuan.

Senin, 19 April 2021 sore, udara terasa dingin, langit tampak gelap, lalu tiba-tiba angin dari laut bertiup begitu kencang dan merengsek ke barat. Marzuki baru saja menunaikan salat Asar ketika angin puting beliung menyapu atap rumah panggungnya.

Marzuki harus mengendalikan rasa terkejutnya saat ia melihat angin menerbangkan sebagian atap rumahnya, dan beberapa saat kemudian, atap itu kembali dan jatuh tepat di rumah tetangganya.

Belakangan ia tahu, atap itu sempat melayang ke meunasah yang berjarak 100 meter dari rumahnya sebelum jatuh menimpa halaman rumah tetangganya.

Dari sekitar 50 hektare luas Gampong Seuriweuk, 30 hektare di antaranya adalah tambak ikan.

Marzuki merasa takut tapi masih bisa menguasai diri. Ia turun ke dapur untuk menyelamatkan ibunya yang bersembunyi di salah satu sudut di dapur yang berukuran 4 kali 10 meter dan memiliki lantai semen kasar.

"Saya membawa Ibu ke rumah kerabat kami yang berjarak 20 meter dari rumah kami agar dirinya lebih aman,” kata Marzuki, Senin, 24 Mei 2021.

Satu bulan setelah hari nahas tersebut, setengah atap rumahnya masih telanjang.

Rintik hujan membuat lubang-lubang kecil di tanah dan membasahi punggung Marzuki yang, pada Senin, 24 Mei 2021 sore, terbungkus kemeja biru dan celana jins. Ia sedang memperbaiki becak motornya di bawah kolong rumah panggungnya.

Lantai-lantai dan dinding rumah panggung yang terbuat dari kayu itu sudah semakin lapuk karena terus-terusan dibasahi hujan dan disengat sinar matahari.

Marzuki memang telah memperbaiki beberapa bagian atap rumah itu sekadarnya.

Kapolres Pidie, AKBP Zulhir Destrian SIK MH, tahu bahwa yang dibutuhkan sebuah rumah panggung yang atapnya disapu angin puting beliung adalah atap seng. Itu sebabnya bantuan yang Marzuki peroleh dari Polres Pidie adalah 40 lembar seng.

Marzuki berterima kasih untuk bantuan seng yang diserahkan pada Rabu, 21 April 2021 itu. Tapi sebulan kemudian ia menjadi ragu, apakah harus bergembira atau bersedih. “Saya belum punya biaya untuk memperbaikinya,” kata dia. “Biaya untuk membeli reng kayu dan papan.”

Pria yang menjadi tulang punggung keluarga itu sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai tukang bangunan. “Hanya ada beberapa kali pekerjaan untuk mengantar barang menggunakan becak motor saya,” tuturnya.

Bantuan yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie, melalui Dinas Sosial (Dinsos), adalah sembako dan baju koko. Marzuki dengan senang hati menerima bantuan sembako dari Dinsos Pidie, tapi bantuan baju koko untuk atap rumah yang disapu angin puting beliung membuatnya terkejut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie mencatat terdapat 12 rumah yang terdampak angin puting beliung bulan lalu, sembilan rumah di Seriuweuk dan dua rumah di Gampong Rawa, Kecamatan Pidie. “Kita sudah mengusulkan bantuan berupa material bangunan pada BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh),” kata Kepala Pelaksana BPBD Pidie, Ir Dewan Ansari, Rabu, 26 Mei 2021.

Hujan mengguyur Pidie, Rabu, 26 Mei 2021 sore, dan Marzuki, ibu, dan dua kakak perempuannya, melewati hari-hari di rumah dengan atap yang menyedihkan tersebut seperti waktu-waktu sebelumnya, setelah kedatangan angin puting beliung, dan pada waktu-waktu yang akan datang. “Selain rumah saya, ada dua rumah lainnya di Gampong Seuriweuk yang juga atap mereka rusak parah karena angin puting beliung,” kata Marzuki, yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Gampong Seuriweuk. []

Loading...