Bermusik dari Pinggiran dan Memanfaatkan Medsos sebagai Medium Sirkulasi

·
Bermusik dari Pinggiran dan Memanfaatkan Medsos sebagai Medium Sirkulasi
Khairul Yan. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Pria itu bernama Khairul Yan, lahir pada 30 Januari 1996 silam. Ia bukan hanya seorang penyanyi, melainkan juga seorang komposer dan penulis lirik lagu. Kegemarannya pada musik, khususnya pada genre musik hip-hop dan genre musik rap, muncul sejak ia masih duduk di bangku SMPN 2 Sakti.

“Saat itu saya suka dengar lagu Jay-Z, Linkin Park dan Limp Bizkit,” kata anak kedua dari tiga bersaudara, itu pada sinarpidie.co, pekan lalu.

Bertahun-tahun selanjutnya, karena ketertarikannya pada genre musik tersebut, Khairul mencoba untuk menciptakan lagu pada saat ia duduk di bangku kelas 1 SMAN 1 Sakti.

Sejak merintis karir hingga kini, kebanyakan lagu yang digubah dan dinyanyikan Khairul dalam bahasa Aceh.

“Nulis lagu pertama kelas 1 SMA tahun 2012. Pengen meluapkan yang saya rasakan dengan musik yang lebih luas karena rap kan lebih ke lirik. Liriknya bisa lebih luas,” kata dia.

Kala itu, ia membagikan lagu-lagu gubahannya secara terbatas di kalangan teman-temannya.

“Saat itu belum kenal Youtube. Setalah bikin beberapa lagu baru, sekarang saya bagikan di Youtube,” katanya lagi.

Kata dia, terdapat 20 karyanya yang kini bisa didengar melalui Youtube. “Tapi banyak lagu yang juga tidak saya publikasi karena saya ngerasa belum cocok untuk dipublikasi Jadi lagunya buat didengar sendiri saja,” ungkapnya. “Di akun Youtube saya, Khairul Yan, ada 5 lagu, sedangkan lagu saya lainnya ada yang diupload melalui akun Youtube RivalSanggeueTV."

Karya-karyanya itu membawanya ke pangung-panggung pentas seni dan pergelaran musik.

“Pertama saya tampil di pentas seni sekolah, acara-acara perpisahan. Terus sering  diundang diacara-acara musik yang disponsori brand rokok di kafe-kafe. Dan, acara kebudayaan seperti di Banda Aceh. Kalau sekarang saya sering tampil di banda Aceh,” kata dia lagi.

Baca juga:

Khairul memiliki studio rekaman rumahan yang masih minim peralatan dan teknologi. Ia bercita-cita pada 2020 mendatang dirinya bisa memiliki studio rekaman yang professional.

Lagu-lagu pria yang beralamat di Gampong Lingkok, Kecamatan Sakti, Pidie, itu umumnya mengangkat tema tentang isu-isu sosial. Seperti lagu Aneuk Miet Lawetnyoe, yang menceritakan muda-mudi Aceh atau kampanye tentang anti-Narkoba. Lalu, lagu Peng goeb bercerita tentang para koruptor dan laku aparatur pemerintahan di Aceh.

“Kalau lagu tema cinta mungkin akan saya buat, tapi saya tidak pernah berpikiran menulis lagu cinta,” kisahnya. “Untuk anak muda Sigli yang mau berkarya, silahkan berkarya karena sekarang segala sesuatu lebih mudah dan juga kita akan punya banyak teman baru lewat karya.” []

Loading...