Berharap Adanya Amnesti Kedua untuk Nyak Din RBT

·
Berharap Adanya Amnesti Kedua untuk Nyak Din RBT
Kolase. Dok sinarpidie.co.

sinarpidie.co — Di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli, Selasa, 13 April 2021 sore, Nasruddin, 43 tahun, keluar dari sel tahanan menuju ke sebuah balai di dalam rutan tersebut. Balai itu terletak di tengah-tengah sebuah taman yang memiliki kolam ikan. Untuk bisa duduk di balai kayu tersebut, Anda harus melewati titian kecil di taman itu. Di sisi kiri dan kanan balai itu, mural-mural pepohonan terpatri di dinding sel tahanan. Nasruddin mengenakan kaus oblong dan kain sarung sore itu.

Ia ditangkap polisi pada Selasa, 27 Oktober 2020 karena dugaan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan ujaran kebencian melalui media sosial. Penangkapan Nasruddin dilakukan setelah sebelumnya polisi membekuk Zulkifli, 35 tahun. Proses persidangan keduanya di Pengadilan Negeri Sigli sudah digelar sebanyak 11 kali. Selasa, 20 April 2021 mendatang, sidang dengan agenda pembuktian akan digelar. Nasruddin dan Zulkifli telah ditahan di Rutan Kelas II B Sigli sejak 13 Januari 2021.

Ayah tiga anak ini merupakan tamatan MTSN Kembang Tanjong. Pendidikannya di SMAN 2 Banda Aceh tak selesai.

Suatu hari pada awal 2003, pria yang akrab disapa Nyak Din, ini, turun dari gunung karena malaria tropika sedang ganas-ganasnya di kawasan Kaye Lhon, Teupin Raya. Ia turun ke Gampong Pasi Lancang untuk mencari obat pada Mantri Amat (kini almarhum), yang tinggal di gampong setempat. Tak dinyana, Nyak Din ditangkap saat sedang berada di rumahnya, yang juga terletak di Gampong Pasi Lancang, Kecamatan Kembang Tanjong.

“Saat itu, saya berada di bawah Komandan Leman di Sagoe Teungku Chik Dipasi. Beliau sudah almarhum. Frekuensi radio kami saat itu Rimueng Meuaneuk,” kata Nasruddin, mengisahkan perjalanan hidupnya.

Di balai di Rutan Kelas II B Sigli, Nasruddin ditemani Zulkifli. Mereka duduk bersila. Zulkifli, pria berkulit gelap dan berbadan tegap, tak bicara sepatah kata pun. Tatapannya kosong. Hanya senyuman yang sesekali tersungging di bibirnya.

Keterlibatan Nasruddin di dalam Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dipengaruhi oleh sang nenek, Umi Salamah, 70 tahun. “Nenek saya dulu menampung anggota Aceh Merdeka atau AM bersembunyi di Pasi Lancang Kembang Tanjong,” katanya.

Umi Salamah pernah disekap di Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) di Asrama Tentara di Kota Bakti atau Lameulo, Pos Sattis di Rumoh Geudong di Gampong Bilie Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, dan Pos Sattis di Rancong, di Kompleks Exxon Mobil di Lhokseumawe.

Pada 2003, Nasruddin ditangkap oleh tentara dari Divisi Siliwangi, yang saat itu bermarkas di Kantor Kecamatan Kembang Tanjong. “Komandannya saat itu Putra Sandiago,” tuturnya.

Dari Kantor Kecamatan Kembang Tanjong, Nasruddin digelandang ke Kodim 01/02 Pidie lalu ke Kantor Polisi Militer (PM) yang saat itu masih berkantor di Blok Sawah, Kecamatan Kota Sigli. “Kuku kaki saya dicopot. Tangan saya dicelupkan ke dalam kuah yang mendidih. Kemudian saya dibawa ke Polres Pidie. Setelah di Polres, saya ditahan di sini (Rutan Kelas II B Sigli),” kenang Nasruddin.

Keterangan bebas karena pemberian amnesti. Dok sinarpidie.co.

Nasruddin menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sigli saat itu. “Cuma sekali sidang langsung diputuskan. Lalu, saya dipenjara di Magelang,” katanya.

Kala itu, Nasruddin divonis tiga tahun karena tindak pidana makar. Ia sempat menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Magelang, Jawa Tengah. 

Nasruddin  merupakan salah seorang narapidana politik (Napol) Aceh yang dibebaskan pasca-penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah Indonesia dan GAM di Finlandia pada 15 Agustus 2005. Ia bebas pada 31 Agustus 2005 karena mendapat amnesti.

Sejak bebas dan kembali ke Pidie, Nasruddin bekerja sebagai RBT, singkatan dari Rakyat Banting Tulang, atau yang lazim disebut tukang ojek dalam Bahasa Indonesia.

Nyak Din mengaku kecewa dengan kondisi Aceh hari ini.  Hal itu diutarakannya di dalam nada bicara yang datar tapi tegas.

Minggu, 11 Oktober 2020 sore, Nasruddin, Zulkifli, dan M Jafar membentangkan spanduk yang bercorak Bendera Bulan Bintang di Glee Gapui dan di Gedung Fakultas Teknik Unigha di Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya. Kata-kata di spanduk tersebut adalah Kamoe simpatisan ASNLF, meununtut Acheh pisah deungoen indonesia, Acheh Merdheka (Kami Simpatisan ASNLF, menuntut Aceh pisah dengan Indonesia, Aceh Merdeka). M Jafar kini masih tercatat sebagai DPO.

Baca juga:

Pemasangan spanduk tersebut dilakukan atas perintah Nasir Usman, 55 tahun. Nasir meminta Nasruddin merekam proses pemasangan spanduk lalu mengirimkan hasil rekaman tersebut pada Asnawi Ali, 45 tahun. Rekaman video pemasangan spanduk tersebut selanjutnya diunggah oleh Asnawi Ali melalui akun youtube Asnawi Ali dengan judul “SPANDUK ACEH MERDEKA DIPAJANG DI UNIGHA”.

Nasruddin dan Zulkifli dipersangkakan Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 106 KUHP jo Pasal 87 KUHP jo Pasal 53 (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 160 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP Ke-1 KUHP, Pasal 45A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, dengan ancaman pidana penjara seumur hidup. []

Loading...