Belajar dari Youtube, Pemuda Ini Berhasil Budidayakan Sayuran Hidroponik di Kota Sigli

·
Belajar dari Youtube, Pemuda Ini Berhasil Budidayakan Sayuran Hidroponik di Kota Sigli
Muhammad Arief Qautsar, 23 tahun, pemuda Gampong Kramat Luar, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, membudidayakan tanaman sayuran hidroponik.

sinarpidie.co -- Muhammad Arief Qautsar, 23 tahun, pemuda Gampong Kramat Luar, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, membudidayakan tanaman sayuran hidroponik, metode penanaman sayuran dan buah tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah, sejak awal tahun 2020.

Arief membudidayakan 1.100 batang selada hidroponik di tempat yang ia namai green house, yang berukuran 7,5 x 7,5 meter, di Gampong Kramat Luar.

"800 batang selada dibudidayakan dengan sistem hidroponik kulah rakit apung, dan 300 batangnya lagi dilakukan dengan sistem hidoponik DFT atau yang lebih dikenal dengan sistem instalasi pipa paralon," kata Arief pekan lalu.

Ide menanam sayuran hidroponik ini, kata dia, diperoleh dari konten Youtube.

Selain itu, ia juga berdiskusi dengan sejumlah praktisi yang mempunyai pengalaman di bidang budidaya sayuran hidroponik.

“Kendala pertama yang saya hadapi saat memulai usaha ini ialah soal biaya. Jumlah biaya yang harus saya keluarkan untuk usaha ini lumanyan besar, mencapai Rp 50 juta. Saya mendesain sendiri tempat ini setelah melihat contoh dari Youtube,” kata Arief lagi.

Pada tahap awal, Arief membangun green house dengan menggunakan tiang-tiang dari bambu dan memasang atap dari plastik UV yang tahan sinar matahari dan hujan deras.

Dinding di sekeliling green house tersebut menggunakan jaring insect net untuk menahan udara ke dalam.

Arief membuat sejumlah kulah atau wadah rakit apung yang berukuran 1 x 3 meter dengan tinggi 80 sentimeter. Kulah rakit apung ini dibuat menggunakan bahan styrofoam atau gabus yang dilapisi dengan kertas alumunium foil dan netpot yang digunakan sebagai media tanam.

“Jumlah kulah rakit apung di dalam green house saya ini sebanyak 10 unit. Satu kulah rakit apung dapat memuat 80 netpot atau 80 lubang netpot. Jarak antara satu lubang dan lubang lainnya itu sekitar 18 sentimeter,” sebut Arief.

Menurut Arief, kelebihan sayuran selada yang ditanam dengan sistem hidroponik lebih sehat dan bebas hama dan penyakit. Selain itu, tanaman yang dibudidayakan dengan sistem ini juga tidak menggunakan pestisida.

Baca juga: 

"Sayuran hidroponik ini hanya diberikan nutrisi yang dilarutkan ke dalam air sesuai dengan takaran. Hama dan penyakit sudah diminimalisir, sebab tempatnya tertutup,” kata dia.

Arief membutuhkan waktu selama enam minggu untuk bisa memanen tanaman seladanya dengan menetapkan metode tiga tahap. "Pertama, tahap penyemaian yang dilakukan selama dua minggu sekali; kedua, tahap peremajaaan, juga dilakukan dalam dua minggu sekali. Terakhir, tahap panen, yang juga dilakukan dua minggu sekali. Dalam dua minggu saya menargetkan bisa panen selada sebanyak 200 kilogram lebih,” kata Arief.

Menurut Arief, tanaman selada yang dibudidayakan secara sistem hidroponik ini juga menghasilkan sayuran yang unggul dibandingkan dengan tanaman selada yang menggunakan wadah tanah pada umumnya.

“Dalam satu batang tanaman selada hidroponik menghasilkan 1,5 ons sampai 2 ons. Berbeda dengan tanaman selada yang ditanam di tanah yang hasilnya sekitar 0,5 ons atau satu ons paling banyak,” kata Arief lagi.

Arief memasarkan hasil panen selada hidroponiknya ini pada penjual kebab dan burger yang ada di Kota Sigli. Harganya Rp 30 ribu per kilogram. "Padahal, harga sayuran hidroponik di Pulau Jawa mencapai Rp 40 ribu sampai 45 ribu per kilogram," tutupnya. []

Loading...