Belajar Cara Singapura, Taiwan dan Hongkong Menangani Virus Corona

·
Belajar Cara Singapura, Taiwan dan Hongkong Menangani Virus Corona
Sejumlah pejabat teras Aceh saat menggelar konferensi pers terkait virus Corona. Sumber foto: detik.com.

Setelah SARS pada 2003, Taiwan mendirikan pusat penerangan untuk wabah SARS. Pada 20 Januari 2020, pusat penerangan tersebut mengoordinasikan dan menyusun daftar 124 tindakan cepat, termasuk kontrol perbatasan, kebijakan sekolah dan kerja, rencana komunikasi publik dan sumber daya rumah sakit.

Oleh Laignee Barron*

sinarpidie.co—Sejak ia belajar tentang wabah Corona, hari-hari Amy Ho menjadi sedikit lebih rumit. Pulang ke rumah, ia membersihkan sepatunya, membasuh tangannya dengan air dan sabun, melepas masker, dan mengganti pakaian.

Warga Hongkong keluar dari rumah hanya untuk hal-hal yang penting. Amy pulang-pergi bekerja. Pergi ke toko makanan seminggu sekali. Hanya itu. Putrinya yang berusia belasan tahun hanya dua kali keluar dari apartemen mereka sejak akhir Januari lalu.

“Hal ini menyebalkan tentunya. Tetapi kesehatan kami paling penting,” kata Amy Ho.

Pada saat Paskah, keluarga ini berencana menghabiskan liburan ke Inggris dan Italia. Namun, karena virus Corona, mereka membatalkan rencana tersebut.

Pencegahan yang dilakukan Amy terdengar berlebihan, tapi bagi warga Hongkong, salah satu Negara yang mula-mula dilanda virus Corona secara global, hal itu lumrah adanya.

Hongkong menjadi rujukan atau contoh karena kemampuannya dalam mencegah Corona, setidaknya untuk saat ini: menghindari mimpi buruk SARS, yang menginfeksi lebih dari 8000 jiwa dan menewaskan 774 jiwa, termasuk 299 warga Hongkong di dalamnya.

Meskipun SARS menghancurkan banyak kota metropolitan di Asia, namun setelahnya beberapa Negara tersebut mempersiapkan diri dengan kesiagaan yang berlipat ganda untuk menghadapi krisis berikutnya.

"Bagi kami SARS sebagai gladi resik," kata Jeremy Lim, co-director Leadership Institute Global Health Transformation dari Universitas National Singapore. “Pengalaman itu sangat mendalam. Setelahnya, sistem yang lebih baik diberlakukan.”

Singapura, Hongkong, dan Taiwan, dipuji karena menggunakan hasil belajar dari pengalaman pahit itu dalam memerangi virus Corona, sejenis SARS.

Masih terlalu dini untuk mengklaim bahwa Negara-negara ini berhasil menangani Corona. Namun, mereka berhasil menekan angka penyebaran virus. Pengalaman-pengalaman mereka dalam menangani virus ini dapat ditiru.

Bertindak cepat

Bagi Singapura, Taiwan, dan Hongkong, virus Corona dapat menjadi bencana yang mengerikan karena virus ini muncul pada saat Tahun Baru Imlek. Jutaan orang berpergian melalui tiga wilayah yang saling berhubungan erat dengan daratan Tiongkok, dengan penerbangan langsung ke Wuhan, pusat penyebaran virus ini di Tiongkok. Namun, bencana itu dapat diminimalisir.

Kedatangan orang-orang dari Wuhan diperiksa secara medis dengan sangat ketat. Pada 1 Februari, Taiwan, Hongkong, dan Singapura menerapkan larangan berpergian ke Tiongkok dan juga sebaliknya.

Setelah SARS pada 2003, Taiwan mendirikan pusat penerangan untuk wabah SARS. Pada 20 Januari 2020, pusat penerangan tersebut mengoordinasikan dan menyusun daftar 124 tindakan cepat, termasuk kontrol perbatasan, kebijakan sekolah dan kerja, rencana komunikasi publik dan sumber daya rumah sakit.

Persiapan mengahadapi wabah ini telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya. Selain persiapan yang matang tersebut, pemberlakuan deteksi virus yang teliti dan proses karantina yang ketat juga diberlakukan. Di samping itu, aktivitas-aktivitas keramaian juga dilarang.

Untuk memastikan setiap warga Negara  tetap waspada tetapi tidak diselimuti kepanikan, para ahli mengatakan komunikasi pemerintah dengan publik sangat penting. Tampaknya, tidak ada yang melakukannya lebih baik daripada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Lee menyampaikan pidato kenegaraan dalam tiga dari empat bahasa resmi Negara tersebut. Pidato tersebut ia sampaikan setelah barang-barang di supermarket-supermarket di Negara tersebut kosong karena kepanikan warga yang memborong barang-barang di sana, sesaat setelah Singapura menyalakan lampu kuning darurat terhadap virus corona, satu tingkat di bawah lampu merah. []

*Artikel ini disadur (juga diterjemahkan) dari artikel yang berjudul What We Can Learn From Singapore, Taiwan and Hong Kong About Handling Coronavirus pada situs Majalah Times--time.com-- yang tayang pada 13 Maret 2020.

Loading...