15 tahun tsunami

Bayang-Bayang Tsunami, Abrasi, dan Ketiadaan Jalur Evakuasi

·
Bayang-Bayang Tsunami, Abrasi, dan Ketiadaan Jalur Evakuasi
Sumiadi, 48 tahun, warga Gampong Pasi Jeumeurang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. (sinarpidie.co/DIky Zulkarnen).

sinarpidie.co--AIR LAUT yang tenang menghadap ke deretan rumah warga yang rata-rata berukuran 6 x 6 meter atau rumah tipe 36, jalan aspal yang berlubang sana-sini selebar 3 meter, kedai-kedai kayu yang oleng, pohon waru yang tumbuh agak berdekatan, satu-dua pohon cemara laut, dan deretan balai reot yang didirikan di samping setiap kedai di sana. Di laut lepas, semua serba lenggang. Sebaliknya, tepi pantai itu sesak dengan bangunan yang berdiri saling berhimpitan.

“Sebelum tsunami, jarak antara laut dan tepi pantai 30 meter. Sekarang sudah 10 meter,” kata Sumiadi, 48 tahun, warga Gampong Pasi Jeumeurang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Untuk menuju ke gampong tersebut dari Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie, memakan waktu sekitar 35 menit berkendara.

Ayah empat anak itu merupakan pemilik kedai kopi di pinggir jalan di gampong tersebut. Ia telah dua kali berpindah kedai. Jaraknya hanya sekira sepuluh langkah kaki. Pada 26 Desember 2004, tsunami meratakan kedai kopinya. Pada 2017, abrasi mengikis kedai keduanya sehingga ia terpaksa membongkar kedai tersebut lalu memindahkannya ke sebelah badan jalan. “Hanya beberapa papan dan seng yang selamat. Sisanya telah hanyut ke laut,” tuturnya.

Rabu, 25 Desember 2019, Sumiadi sedang berselonjor di balai kayu di depan kedai kopinya. Ditemani istrinya, Lindawati, 38 tahun, dan dua warga lainnya, Sumiadi berkali-kali mengutuk rencana pembangunan tanggul di tepi pantai di gampong tersebut yang tak kunjung direalisasikan.

“Yang survei, foto, tinjau ke gampong, sudah beberapa kali. Namun, tanggul pemecah ombak yang warga inginkan sepanjang 2 kilometer hingga ke Gampong Arusan tidak dibangun-bangun,” kata dia.

Sang istri, Lindawati, mendengar ocehan suaminya itu sembari mengiris bawang merah. Seorang perempuan lainnya menyiangi ikan tongkol dengan cekatan. Ia membelah ikan tersebut menjadi beberapa bagian lalu memotong setiap bagian ikan itu menjadi seukuran jempol kaki.

Beberapa ekor kambing yang lalu-lalang di sekitar balai itu sesekali mengembik.

Tatkala menjelaskan tentang rencana pembangunan pengaman pantai, sesekali, Sumiadi mengusap-usap kepalanya yang telah dipenuhi uban. Tak hanya itu, pria yang memiliki kulit sawo matang dengan tinggi semampai itu pun mempermasalahkan laku pihak Kecamatan Kembang Tanjong yang hanya sekadar datang, mendata bangunan-bangunan yang terkena abrasi, memotret mereka tetapi tak kembali lagi bahkan untuk sekadar membawa bantuan tanggap darurat.

PAGI ITU, Minggu, 26 Desember 2004, usai gempa, Sumiadi pulang ke rumahnya yang terletak hanya beberapa langkah kaki dari kedai kopi miliknya. Setelah memastikan keluarganya baik-baik saja, ia keluar dari rumah. Ia berencana memanen udang di tambak ikan yang terletak di belakang rumahnya itu.

Mendapati air laut surut dan ikan menggelepar, Sumiadi takjub dan cemas sekaligus, sebab pemandangan seperti itu belum pernah ia saksikan sebelumnya. Suara ledakan dari arah laut lantas membuatnya sadar. Air laut setinggi lutut mula-mula mengalir ke arahnya.

Ia kembali melangkahkan kaki ke rumah dan meminta seluruh anggota keluarganya keluar dari rumah. “Pada gelombang kedua dan ketiga airnya sudah kencang dan setinggi 4 meter,” kenangnya.

Ia dan keluarganya sempat terbawa arus. Mereka selamat setelah berpegangan pada dahan kedondong yang tumbuh di atas pematang tambak ikan yang agak tinggi. “Banyak mayat yang ditemukan di tambak,” kisahnya.

Warga Gampong Pasi Jeumeurang memilih menyelamatkan diri dengan berlari melalui pematang tambak ke arah Glumpang Baro. Mengikuti jalan ke Keude Kembang Tanjong yang jauhnya sekitar 9 kilometer akan sia-sia karena sepanjang jalan 9 kilometer tersebut merupakan tepi pantai.

Setelah air raya menghantam gampong, sementara warga Pasi Jeumerang selama 8 bulan menetap di barak pengungsian di lapangan Gampong Arusan, Kecamatan Kembang Tanjong, Sumiadi dan keluarganya justru memilih membangun gubuk dari sisa-sisa rumahnya yang telah rata dengan tanah dua hari setelah bencana tersebut terjadi.

Mantan Keuchik Gampong Pasi Jeumeurang Muhammad Husen Abu, 48 tahun, mengatakan, 42 warga gampong tersebut meninggal dunia dalam bencana itu. “Dua di antaranya anggota marinir,” tuturnya, Rabu, 25 Desember 2019.

Setiap gempa dengan kekuatan yang agak tinggi skalanya mengguncang, misalnya, gempa pada 2012 dan 2016, warga Gampong Pasi Jeumerang berebut ruang di jalan yang sempit dan berlubang sana-sini itu untuk menuju ke arah Glumpang Baro.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Dewan Ansari mengatakan, tak satu pun daerah rawan tsunami di Pidie memiliki rambu-rambu jalur evakuasi.

“Peta jalur evakuasi juga belum disusun. Yang ada hanya peta rawan bencana,” kata dia, Rabu, 25 Desember 2019.

Dewan Ansari juga mengatakan, selama bertahun-tahun, tak pernah ada satu pun program mitigasi gempa dan tsunami yang dilaksanakan BPBD Pidie. “Alasannya tidak cukup anggaran untuk program tersebut. Mungkin nanti pada anggaran perubahan 2020 akan diusul kembali untuk kegiatan mitigasi bencana,” kata dia. []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Firdaus

Komentar

Loading...