Cerita pendek

Bau Asap

·
Bau Asap
Sumber ilustrasi: beritamerdeka.net.

Tubuh Syahkubat terkulai pada sandaran kursi kayu yang berlengan dan berpunggung di salah satu ruangan di kantor camat. Tangannya terikat di belakang punggungnya dengan tali nilon sebesar jempol orang dewasa.

Sebuah bohlam lampu yang tergantung pada seutas kawat berayun-ayun pelan tepat di bawah kepalanya. Meski disinari cahaya lampu yang memendarkan sinar kekuningan, terdapat gumpalan jelaga di dinding di dekat jendela ruangan itu, seakan malam-malam di sana diterangi lampu minyak.

Matanya yang bengkak tertuju pada kawat bohlam lampu. Tapi itu hanya sebentar karena lehernya tak mampu menopang kepalanya dalam waktu yang lama sehingga wajahnya kembali tertunduk ke bawah. Kawat bohlam lampu itu mengingatkannya pada tali keluh kerbaunya yang kini sedang melilit kedua tangannya.

“Kerbau takkan pulang ke kandang hanya dengan tali, Nak,” kata ibunya di ambang pintu rumah panggung mereka. “Bawalah daun pisang.”

Syahkubat tidak mendengarkan kata-kata ibunya itu. Ia semula berpikir bahwa daun pisang atau daun kedondong bisa ia tebas di kebun-kebun kosong jika memang kerbaunya yang tak pulang ke kandang hingga selepas Isya malam itu benar-benar membutuhkan mereka. Oleh karena itu, ia hanya membawa pisau, gulungan tali keluh kerbau, kawat kecil, dan senter bersamanya. Tapi sejak ia melewati malam pertama di kantor camat ini, ia menyesal tak mendengarkan kata-kata ibunya itu. Penyesalannya tumbuh semakin besar, sesaat sebelum ia menghembuskan napas terakhir, ketika bayangan ibunya yang berdiri di ambang pintu terlintas dalam benaknya.

Pria yang berumur 22 tahun itu memiliki tulang pipi yang menonjol, bertubuh tinggi besar, dan berkulit gelap.

Kerbau itu biasanya pulang ke kandang bersama tiga ekor kerbau lainnya sebelum magrib. Tapi menjelang Isya malam itu, Syahkubat tidak menemukan kerbau itu di dalam kandang dengan tiang-tiang bambu dan beratapkan atap daun rumbia saat ia menyalakan api pada tumpukan jerami kering yang ia ambil di lumbung di samping kandang tersebut.

Pintu berderit. Seorang pria dengan bekas luka di wajah, dalam setelan kaus dan celana loreng, berjalan ke kursi tempat Syahkubat duduk. Di belakangnya, mengekor seorang perempuan yang berumur sekitar 42 tahun.

Pria dan perempuan itu menapaki tetesan darah yang jatuh di lantai keramik ruangan itu begitu mereka sampai di depan Syahkubat.

Dengan gerak tubuh yang dibuat-buat, pria dalam kaus loreng itu mengangkat dagu Syahkubat dengan jari telunjuknya. “Kali ini kau tidak bisa berbohong lagi, bajingan!”

Syahkubat terlalu remuk untuk bisa menangkap kata-kata pria berkaus loreng tersebut. Di wajahnya bahkan tak lagi terlihat alis mata, bibirnya telah sobek sana-sini, dan hidungnya yang mancung sudah bengkok agak ke kiri.

Saat-saat itu, yang ia dengar hanya suara-suara kerbau menguik dalam irama yang cepat.

Syahkubat mencari kerbaunya hingga melewati empat desa tetangga. Di sepanjang jalan setapak yang ia lalui, dari kejauhan, ia mendapati lampu rumah-rumah warga telah padam. Sesekali, desau angin terdengar bersama suara kerikil yang ia injak. Syahkubat memilih jalan setepak karena, selain menghindari pos-pos jaga, ia meyakini kerbaunya itu ada di sekitar kebun-kebun kosong di sepanjang jalan setapak berkerikil tersebut.

Langkahnya terhenti tatkala ia menutupi matanya dari silau lampu mobil, yang berhenti di atas Jembatan Gampong Baro, dengan lengan kirinya. Ia melangkah agak ke depan lalu mematikan senternya. Dia berdiri tepat di atas bekas tapak kaki kerbau di tanah yang agak becek.

Sekilas-pintas, ia melihat tiga pria berdiri di atas jembatan. Satu di antara tiga pria itu bertelanjang dada dan tangannya terikat ke belakang, sementara dua lainnya mengenakan celana dan kaus loreng. Setiap dua pria bercelana dan kaus loreng memiliki senjata: satu memanggul M-16, dan satunya lagi menggenggam pistol FN.

Pria berkaus loreng yang lebih pendek menodongkan pistol FN ke pepaya. Di belakang pepaya itu, Syahkubat samar-samar melihat kepala pria dengan tangan terikat ikut hancur bersama pepaya tersebut sejurus kemudian.

Syahkubat terkesiap dan senternya jatuh ke tanah sesaat setelah ia melihat tubuh pria yang bertelanjang dada itu roboh ke sungai di bawah jembatan.

Kehadiran Syahkubat belakangan mengagetkan dua pria berkaus loreng.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Syahkubat berdiri kaku karena dilumpuhkan rasa takut. Jantungnya berdegup kencang dan bibirnya yang tipis bergetar.

“Apa yang membuatmu berada di sini malam-malam?” tanya pria berkaus loreng yang lebih pendek seraya mengarahkan pistol ke jidat Syahkubat. Ia menatap gulungan tali yang digenggam Syahkubat lekat-lekat.

Syahkubat mencoba menjelaskan semuanya, tapi lidahnya kelu sehingga kata-kata yang terlontar dari mulutnya justru memperburuk keadaan.

“Kerbau,” ujar Syahkubat terbata-bata.

Sebuah pukulan mendarat di tulang iganya. Dengan menggertakkan gigi, pria yang memiliki bekas luka di wajah bertanya dalam suara setengah berteriak, “Kau kenal dia?”

Syahkubat menahan rasa sakit lalu menggelengkan kepala.

Tanpa mengalihkan moncong FN dari jidat Syahkubat, pria dengan bekas luka di wajah menatap sesuatu yang tersembul di balik ikat pinggang kulit Syahkubat. “Apa itu? tanyanya. “Lepaskan!”

Syahkubat mengira ia akan terbebas dari pertanyaan-pertanyaan dan keberatan lebih lanjut kedua pria itu setelah ia menghunus pisau dari sarung kulit. Tapi kedua pria itu justru mengokang senjata secara serentak.

Sementara pria dalam kaus loreng itu melepas ikatan tangan Syahkubat, perempuan yang malam itu mengenakan kebaya cokelat motif bunga-bunga, kain sarung batik, dan kerudung putih, menyalakan api dengan korek api kayu. Ia lalu berjalan ke salah satu sudut ruangan itu untuk menyibak tirai hitam dan membuka jendela berterali besi.

Syahkubat mengenal bau yang dikeluarkan batang korek api yang mati karena embusan angin. Di dalam kepalanya, kerbau masih menguik. Kali ini dalam irama yang lebih cepat dari sebelumnya. Suara itu baru berhenti berdengung dalam kepalanya saat Syahkubat mencium bau yang ia tak pernah hirup sebelumnya. Bau itu agak menyiksa hidungnya meski detik-detik itu tubuhnya telah benar-benar menjadi beban bagi dirinya sendiri.

“Kau tak perlu buka mulut,” kata perempuan itu sambil mematikan api yang tadinya ia nyalakan di dalam batok kelapa.

Kepulan asap melintas di depan wajah Syahkubat yang tertunduk. Ia terbatuk-batuk untuk beberapa saat sehingga membuat darah yang tepercik menggantung di udara sebelum akhirnya mereka jatuh ke lantai.

“Angkat tanganmu dan tunjuk di mana para GPK itu berada. Asap kemenyan ini yang akan memastikan apakah kau berbohohong atau tidak,” ujar perempuan itu seraya menatap Syahkubat yang, pada malam itu, hanya mengenakan celana dalam.

Syahkubat tak bereaksi sehingga pria berkaus loreng menghujamkan palu besi ke jempol kakinya. Ia berteriak dalam suara yang parau. Meski dengan susah payah mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, ia tak mampu mengangkat tangannya lebih tinggi dari pusar.

“Itu berarti mereka di gunung?” perempuan itu menuntut jawaban lebih lanjut dari Syahkubat dengan memberi isyarat padanya untuk mengangkat tangannya sekali lagi.

Mungkin karena sadar bahwa hal itu sia-sia, perempuan itu menoleh ke jendela dengan memicingkan mata, lalu ia merapal jampi-jampi seraya mengangkat batok kelapa ke dadanya. Asap mengepul selama beberapa saat sebelum perempuan itu berkata dengan setengah berteriak, “Asap kemenyan ini mengarah ke kampung.”

Pintu kembali berderit. Seorang pria yang memiliki perut buncit, dalam setelan kaus hitam, jins biru, dan sepatu sport, melangkah ke dekat tempat Syahkubat duduk. Ia kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang perempuan berkebaya.

“Kapten,” kata pria berkaus loreng yang memiliki bekas luka di wajah. “Pria ini anggota kelompok Ahmad Bren yang tempo hari dieksekusi.”

Pria itu mengangguk pelan. Di bibirnya tersungging seringai cabul. []

 

Loading...