Banjir Bandang yang Datang Tiap Tahun ke Ranto Payang

·
Banjir Bandang yang Datang Tiap Tahun ke Ranto Payang
Marzuki (kiri), 56 tahun, warga Gampong Ranto Payang, Kecamatan Tangse, Pidie, memperlihatkan saluran alami yang membawa banjir bandang ke pemukiman penduduk, Kamis, 25 April 2019 malam. (sinarpidie.co/DIky Zulkarnen).

sinarpidie.co—MARZUKI, 56 tahun, warga Gampong Ranto Payang, Kecamatan Tangse, Pidie, baru saja pulang dari kebunnya ketika suara dentuman terdengar begitu keras pada Kamis, 25 April 2019 malam.

Hari itu, sejak pukul 16.30 WIB, hujan telah mengguyur gampong tersebut. Mendengar dentuman tersebut, hanya mengenakan kain sarung dan bertelanjang dada, ia keluar rumah dan menoleh ke atas, ke bukit-bukit yang berjajar di belakang rumahnya.

Air tumpah ke bawah dan Marzuki berteriak, “Air raya. Keluar!”

Teriakkan itu ia tujukan bukan hanya pada istri dan anak-anaknya di dalam rumah, melainkan juga pada tetangganya, Bahagia. Belakangan, rumah Bahagia disapu banjir bandang dan tak bisa ditempati lagi.

Sumber banjir diperkirakan 500 meter dari pemukiman penduduk di Dusun Panton Drum, Gampong Ranto Payang. Di lokasi tersebut, terdapat bendungan alami yang sudah tersumbat dengan tumpukan kayu yang telah mati dan telah roboh. Bendungan yang tak mampu menampung material kayu-kayu yang penuh, menyebabkan air mengalir ke saluran-saluran alami hingga ke pemukiman warga.

“Ada dua saluran alami yang membawa banjir bandang tersebut, Kamis kemarin,” kata Marzuki.

WARGA DUSUN PANTON DRUM GAMPONG RANTO PAYANG silih berganti mendatangi Dayah Subulussalam yang berlokasi di gampong setempat, Rabu, 1 Mei 2019. Mereka, rata-rata, keluar dari dayah tersebut dengan menenteng dus mie instan dan beras dalam plastik kresek.

Gampong Ranto Payang terdiri dari tiga dusun, yakni Panton Drum, Ranto Payang I, dan Ranto Payang II.

Kamis, 25 April 2019 lalu, 13 KK dari 50 KK di Duson Panten Drum Gampong Ranto Payang terdampak banjir bandang.

“Semen 22 zak, mie instan 30 dus, dan beras 20 zak. Bantuan dari Polda kemarin,” kata Sulaiman, 50 tahun, Kaur Pemerintahan Gampong Ranto Payang, Kecamatan Tangse, Pidie. “BPBD Pidie membawa alat berat untuk membersihkan jalan. Bantuan yang datang dari Dinsos Pidie, BPBA, dan kepolisian.”

Kata dia, fasilitas publik di gampong tersebut terdiri dari satu sekolah dasar (SD) dan satu Puskesdes. “Tapi gedung Puskesdes tak bisa ditempati lagi karena gempa,” katanya.

Gempa bumi 5,6 SR yang terjadi pada 2013 lalu mengakibatkan keretakan pada bangunan Puskesdes tersebut.

“Bidan desa pulang ke rumahnya di Ulee Gunong. Tidak tinggal di Puskesdes,” katanya. “Memang ada kader pembantu di gampong.”

Masyarakat Duson Panton Drum, Gampong Ranto Payang, kata Sulaiman, menginginkan pemukiman mereka direlokasi.

“Kami ingin dibangun sebuah trans lokal yang aman. Hamparannya luas. 70 hektare. Nama tempatnya Kubang Tarok. Di situ aman dari banjir bandang,” katanya. "Kalau direlokasi keluar kami tidak mau, karena mata pencaharian kami ya di kebun-kebun di gampong ini."

Siklus banjir bandang di Gampong Ranto Payang terjadi setiap tahun. “Hanya saja, skalanya ada yang besar sehingga diketahui secara luas dan ada yang kecil skalanya,” tuturnya. []

Komentar

Loading...