Banjir Bandang Tangse, Bencana Tahunan sejak 2011

·
Banjir Bandang Tangse, Bencana Tahunan sejak 2011
Kondisi rumah Mardiani, 60 tahun, warga Dusun Lhok Kareung, Gampong Peunalom I, Kecamatan Tangse, pasca-diterjang banjir bandang Jumat, 29 Oktober 2021 malam. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Pembalakan hutan di Tangse pada tahun 80-an hingga 90-an di konsesi Hutan Tamanan Industri (HTI) dan tegakan hutan di punggung bukit barisan yang telah berubah menjadi kebun dalam dua dekade terakhir diduga membawa petaka banjir bandang dalam skala yang mengerikan sejak 2011 hingga sekarang. Hal ini diperparah dengan pendangkalan sungai. Dampak kerusakan menjadi kentara karena rumah-rumah warga dibangun di bantaran sungai.


sinarpidie.co - Sebagian besar warga Gampong Peunalom I, Kecamatan Tangse, Pidie, tengah merayakan peringatan maulid pada Minggu, 7 November 2021 di meunasah atau surau gampong setempat. Puluhan papan bunga tersusun rapi di sepanjang jalan di depan meunasah. 

300 meter dari meunasah, Mardiani, 60 tahun, sedang duduk di atas bangku kayu yang terletak di depan rumah sepupunya, Marliah.

Tatapannya tertuju ke arah aliran Sungai Peunalom yang keruh.

Perempuan yang menghuni sebuah rumah semi permanen berukuran 7 x 10 meter, yang terletak di Dusun Lhok Kareung, Gampong Peunalom I, ini, belum kembali ke rumahnya usai terjangan banjir bandang, Jumat, 29 Oktober 2021 malam. Ia masih mengungsi di rumah sepupunya, Marliah, yang terletak sekitar 200 meter dari rumahnya.

Meskipun rumah Mardiani telah dibersihkan para relawan, kasur di dalam kamarnya tak bisa lagi menjadi alas tempatnya tidur.

"Masih ada sisa lumpur di dalam rumah. Untuk sementara, saya menumpang menginap di rumah-rumah kerabat saya,” kata perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pekebun, itu.

Jumat, 29 Oktober 2021 malam, Mardiani sedang memotong-motong sayur yang akan dia masak menjadi lauk makan malamnya kala ia dikejutkan oleh teriakan tetangganya. Mardiani segera menangkap pesan bahaya dari teriakan tersebut: Sungai Peunalom yang berjarak tujuh meter dari pintu depan rumahnya telah meluap. Di rumah itu, Mardiani tinggal sendiri.

Laju air yang begitu cepat mengepungnya di dalam rumah. Ketinggiannya setinggi paha orang dewasa. Ia berlari meninggalkan rumah. Pada dini hari, ia kembali ke rumah dan mendapati seisi rumahnya telah tertimbun lumpur. Ia juga disergap ketakutan: jarak antara pintu depan rumahnya dan Sungai Peunalom hanya tersisa tiga meter.

***

M Taher, 69 tahun, sedang melayani para pembeli gula pasir di kedai kelontongnya di Gampong Peunalom II,  Minggu, 7 November 2021 siang. Para pembeli gula pasir umumnya adalah mereka yang hendak menghadiri maulid di Gampong Peunalom I. Kedua gampong ini saling bersebelahan.

Beberapa pekan yang lalu, letak kedai berkonstruksi kayu dengan luas 6 x 5 meter itu dari Sungai Krueng Peunalom sekitar tujuh meter: tiga meter adalah teras kedai dan empat meternya adalah badan jalan. Tapi Jumat, 27 Oktober 2021, badan jalan dan teras kedai M taher telah tergerus aliran Sungai Peunalom. "Baru beberapa hari yang lalu jalan darurat kembali dibuka," kata M Taher, Minggu, 7 November 2021.

Hujan deras yang mengguyur Tangse pada Jumat, 27 Oktober 2021 sore, membuat air Sungai Peunalom yang biasanya hanya setinggi 40 sentimeter menjadi tiga meter.

M Taher sedang mengawasi aliran sungai ketika senja mulai turun. Ia kemudian bergegas menyelamatkan barang dagangannya begitu dia melihat dua batang pohon kelapa menghambat laju aliran sungai. Pada pukul 21.30 WIB, tebing penahan sungai dan badan jalan di depan kedainya ambruk tergurus aliran sungai.

“Ketinggian dan kecepatan air sungai kali ini lebih mengerikan daripada banjir bandang yang terjadi pada 2011 silam. Tapi banjir bandang kali ini tidak membawa bongkahan-bongkahan kayu,” kata M Taher.

10 tahun silam, sebut M Taher, kedai yang saat ini ia tempati pernah rata dengan tanah karena tergerus banjir bandang.

Hulu sungai Peunalom berada di Glee Luhob. Sungai ini merupakan bagian dari Krueng Tangse.

Pada banjir bandang 2011 silam, banyaknya kayu gelondongan yang terseret dan hanyut ke pemukiman penduduk diduga karena imbas perambahan hutan di areal konsesi Hutan Tanaman Industri atau HTI yang beroperasi pada 1980-an hingga 1990-an.

"Banjir bandang kali ini bukan karena illegal logging dalam skala besar. Masyarakat banyak yang sudah meninggalkan profesi tersebut. Untuk menarik batang kayu sejauh 15 kilometer mereka hanya dibayar Rp 100 ribu. Upahnya sangat rendah," sebut M Taher. “Banjir kali ini karena pendangkalan sungai. Kedalaman Sungai Peunalom hanya sekitar dua meter sekarang.”

Dalam dua dekade terakhir, pembukaan lahan di hulu sungai di punggung bukit barisan marak terjadi. Hutan berubah menjadi kebun-kebun kopi dan kakao.

***

Keuchik Gampong Peunalom II, Kamarullah, mengatakan bahwa sebelumnya letak rumah-rumah warga berjarak puluhan meter dari pinggir sungai. Namun dalam 20 tahun terakhir, rumah-rumah baru dibangun berdekatan dengan sungai.

"Jika harus direlokasi di luar gampong ini, mungkin terlalu berat untuk diterima masyarakat. Terlebih mata pencarian mereka sudah di sini,” kata Kamarullah.

Dirinya berharap pemerintah membangun hunian baru untuk masyarakat yang tinggal di pinggir sungai di lokasi yang agak jauh dari sungai.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie mencatat nilai kerugian akibat banjir bandang Jumat, 29 Oktober 2021 senilai Rp 19.224.951.238,94. Di Gampong Layan, terdapat 7 unit rumah yang mengalami rusak berat dan 12 unit rumah rusak ringan. Di Gampong Peunalom I, 5 rumah mengalami kerusakan yang berat dan 15 rumah mengalami rusak ringan. Di Gampong Peunalom II, terdapat 1 unit rumah yang mengalami rusak berat. Selain rumah warga, beberapa fasilitas umum juga terdampak banjir bandang, yaitu jalan lingkungan, jaringan air minum, jaringan irigasi, dan sekolah dasar serta taman kanak-kanak.

Setiap tahun, Tangse disergap bencana alam: banjir bandang dan tanah longsor. Kamis, 25 Maret 2021 lalu, banjir bandang juga menerjang Gampong PeunaIom I, Gampong Peunalom II, dan Gampong Layan, Kecamatan Tangse.

Banjir bandang, dalam skala besar, setidaknya, mulai menyapu Tangse sejak 2011 silam, tepatnya pada Kamis, 10 Maret. Akibat banjir bandang pada 2011, 24 warga meninggal dunia dan sedikitnya 645 rumah warga rusak.

Tangse berada di atas ketinggian 600-1200 mdpl dengan luas 750 kilometer persegi. Kecamatan ini memiliki empat mukim dan 28 gampong. Jarak tempuh ke Tangse dari Kota Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie, adalah 62 kilometer. []

Loading...