Ekonomi

Bahagia di Antara Petani Garam

·
Bahagia di Antara Petani Garam
Bahagia. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Bahagia, 48 tahun, warga Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, telah melakoni pekerjaan sebagai petani garam sejak lulus Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Sigli di Blang Paseh. Belakangan, ayah tiga anak ini hanya menamatkan pendidikan hingga di bangku SD.

“Orangtua saya juga petani garam,” kata Bahagia, Rabu, 29 Agustus 2018. “Nenek dan kakek saya juga. Sudah turun temurun.”

Kini, sekurang-kurangnya, ia memiliki 10 gubuk tempat memproduksi garam. Di samping itu, ayah empat anak itu juga menampung hasil produksi petani garam di tiga gampong, yakni Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli; Cebrek dan Peukan Sot, Kecamatan Simpang Tiga.

“Ada sekitar 160 gubuk dengan luas lahan 1000 dan 3000 meter di tiga gampong tersebut,” kata dia.

Di Pidie, selain tiga gampong tersebut, kata Bahagia, tambak garam tersebar Ie Leubeue, Kecamatan Kembang Tanjong; Laweung, Kecamatan Muara Tiga; dan Batee, Kecamatan Bate.

“Tapi tambak petani garam di sana kecil, sekitar 200 meter- 300 meter per gubuk,” kata dia.

Dalam beberapa waktu belakangan, harga garam yang dibelinya pada petani Rp 4 ribu per kilogram.

“Pada 2015 dan 2016 harga garam  Rp 2.700 per kilogram. Saat banjir di Madura, petani garam di sana gagal panen, harga garam di Aceh mengalami kenaikan Rp 7000 per kilogram pada awal 2017. Kita beli segitu. Petani sempat makmur,” sebutnya.

Namun itu tak berlangsung lama. Tatkala garam Madura mulai masuk kembali ke Aceh, harga garam yang dibeli pada petani kembali turun.

Garam-garam yang telah dibeli dan dikumpulkan dari petani dipasarkan ke Banda Aceh, Meulaboh, Sabang, Lhokseumawe, dan Aceh Timur.

“Takengon juga ada permintaan sesekali,” kata dia lagi. “Laba yang saya ambil cuma Rp 300 per kilogram. Harga juga ditentukan oleh masing-masing pasar di kabupaten-kabupaten tersebut. Umumnya, saya beli dari petani Rp 4000 hingga Rp 5000 per kilogram. Naik-turun.”

Bahagia juga melakukan pemberdayaan petani garam di tiga gampong tersebut sejak dari proses produksi. Ia juga memasok kayu bakar yang menjadi bahan baku produksi garam.

Baca juga:

“Kayu saya yang pasok. Jumlah petani yang bersama saya sekitar 80 orang. Dulu petani garam kerjakan semua sendiri, tak bisa pekerjakan orang lain. Jangankan gaji orang kerja, kita aja susah. Sekarang, tiap gubuk rata-rata menggaji pekerja  Rp 100 ribu atau Rp 70 ribu per hari,” kata Bahagia. “Jika yang ambil kayu saja sama saya tapi jualnya ke mugee, saya juga tidak keberatan. Terserah pada petani itu sendiri. Yang pasti, karena saya berangkat dari orang susah, petani garam, saya tahu betul bagaimana kondisi mereka dan saya membantu semampu saya."

Seorang petani garam di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, sedang bekerja di tambak garamnya. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Apa yang disebut Bahagia dibenarkan Abubakar M Piah, 42 tahun, petani garam di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga.

“Saya ambil kayu satu mobil colt, Rp 1.200.000.  Untuk masak garam selama 20 hari.  Hasilnya 1, 5 ton. Dibeli Rp 4000 per kilogram. Dia (Bahagia-red) ambil semua. Uang kayu tidak kasih dimuka tapi dipotong dari hasil penjualan. Tidak pakai bunga,” ungkap Abubakar M Piah, Minggu, 26 Agustus 2018. 

Dikutip dari Kabupaten Pidie dalam Angka 2017 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Pidie pada 2017 lalu, pada 2016 tercatat 358 unit usaha garam rakyat yang menampung 931 tenaga kerja. []

Loading...