Selama 20 tahun kasus raibnya Jafar belum terungkap

[Bagian V] Jafar Siddiq Hamzah

·
[Bagian V] Jafar Siddiq Hamzah
Pertemuan Jafar Siddiq Hamzah dengan masyarakat Aceh di Jepang yang digelar secara tertutup pada Sabtu, 24 Juni 2000 di Sophia University, Tokyo. Sumber foto: dok. Seaki Natsuko.

sinarpidie.coJUMAT, 4 AGUSTUS 2000 MALAM, Jafar Siddiq Hamzah datang ke Hotel Garuda Plaza Medan di Jalan Sisingamangaraja Nomor 18, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara, tempat Khairul Hasni menginap malam itu.

Dari Lhokseumawe, Khairul Hasni ke Medan dengan menumpang L-300. Jarak tempuh dari Kota Lhokseumawe, Aceh, ke Kota Medan, Sumatera Utara, sekitar 330 kilometer. Khairul Hasni tiba di Kota Medan pada Jumat, 4 Agustus 2000 sore.

“Jafar datang sendiri ke hotel tersebut. Kami ngobrol di lobi hotel sampai pukul 22.00 atau pukul 23.00 WIB. Sesudah itu dia pulang naik becak mungkin,” kata Khairul Hasni, yang pada tahun-tahun akhir 1990-an dan 2000-an awal aktif di Yayasan Putra Dewantara (YAPDA) Lhokseumawe. “Saya ke Medan hanya mendampingi Natsuko. Karena Jafar tahu saya di hotel, jadi dia ke hotel.”

Malam itu, mereka mengagendakan pergi ke Bandara Polonia Medan untuk menjemput Natsuko yang akan tiba ke Medan dari Jakarta pada Sabtu, 5 Agustus 2000 keesokan harinya. “Kami janji bertemu lagi di lobi hotel pada pukul 08.00 WIB keesokan harinya. Saat menghubungi almarhum pagi itu, dia bilang, dia tidak bisa datang,” kata Khairul Hasni.

Sejak di Hotel Garuda Plaza Medan pada Jumat, 4 Agustus 2000 malam, Jafar kemungkinan sudah dibuntuti.

Sabtu, 5 Agustus 2000 pagi, Jafar keluar dari rumah keluarga almarhum adiknya, Syarifuddin, di sekitar kompleks Kampus UISU. Seharusnya, Jafar keluar dengan adiknya, Syarifuddin, hari itu.

Syarifuddin, yang saat itu memiliki agenda lain, telah meminta Jafar untuk menunggunya pulang ke rumah. “Tapi Bang Jafar tetap ingin pergi karena sudah janji dengan temannya dan seharusnya sekitar jam satu siang dia kembali ke rumah,” kata adik Jafar Siddiq Hamzah, Cut Zahara Hamzah pada awal Agustus 2020.

Mengenakan setelan kemeja biru tua kotak-kotak, celana hitam bahan, dan sepatu kulit hitam, Jafar naik angkutan umum menuju ke kantor advokat milik Alamsyah Hamdani di Jln Airlangga, Kampung Keling, Medan.

Jafar juga menyandang tas ransel. Ia memakai cincin di jari manis sebelah kirinya dan mengenakan jam tangan di lengan kirinya.

“Jafar janji bertemu dengan saya pada pukul 10.30 WIB, tetapi seingat saya, pukul 09.00 WIB, Jafar sudah di kantor saya. Dia bilang datang lebih cepat karena Irvan belum di kantornya,” kata Alamsyah Hamdani pada pertengahan Agustus 2020.

Jafar menemui Alamsyah untuk menggalang dana penerbitan surat kabar Sue Acheh. “Surat kabar itu terbit atas kerjasama antara IFA dan Yayasan Inong Balee serta Ranueb Lampuan, di mana saya ada di dalam yayasan itu. Dia ketemu saya untuk minta dana. Demikian juga ke Irvan,” kenang Alamsyah.

Pada Seaki Natsuko, 47 tahun, Jafar pernah berkata bahwa kantor redaksi Sue Acheh rencananya akan pindah dari New York, Amerika Serikat, ke Banda Aceh. “Di Simpang Mesra, kantornya Azwar dari Forum LSM,” tulis Jafar Siddiq Hamzah dalam e-mail yang diterima Natsuko pada 12 Februari 2000.

Dua edisi surat kabar Sue Acheh dalam bahasa Aceh. Sumber ilustrasi: Seaki Natsuko.

Di New York, Amerika Serikat, surat kabar ini sempat terbit dalam bahasa Aceh dan bahasa Inggris sebanyak dua edisi. Rencananya, di Aceh, surat kabar Sue Acheh akan terbit secara mingguan dalam empat bahasa daerah di Aceh.

Usai bertemu dengan Alamsyah Hamdani, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan sejak 1990 hingga 1997, yang saat itu telah memiliki kantor advokat sendiri, Jafar Siddiq Hamzah pergi ke kantor PT Parasawita, milik Irvan Mutiara, di Jalan Ahmad Yani Kesawan, Medan.

DI TEMPAT YANG BERBEDA, Seaki Natsuko berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Sabtu, 5 Agustus 2000, pukul 08.20 WIB. Ia tiba di Bandara Polonia Medan, Sumatera Utara, pada pukul 10.20 WIB. Natsuko berangkat dari Jakarta seorang sendiri.

Di Bandara Polonia, Medan, Natsuko dijemput tak hanya oleh Khairul Hasni, tapi juga Zulfikar, yang juga dari YAPDA. Saat itu, Zulfikar telah tinggal di Medan, Sumatera Utara.

“Dari Medan, saya berencana ke Lhokseumawe bersama Khairul Hasni,” kata Seaki Natsuko.

Belakangan, Zulfikar tak lagi aktif di YAPDA Lhokseumawe. “Khairul Hasni yang meneruskan kelembagaan YAPDA waktu itu. Di Medan, saya mulai jadi wartawan,” kata Zulfikar. “Sepulang dari Jepang saya sudah tidak aktif lagi di LSM.”

Kata Khairul Hasni, LSM YAPDA telah bubar. Kini, Hasni bekerja sebagai salah seorang dosen di FISIP Universitas Almuslim Bireuen. Ia saat ini juga sedang melanjutkan studi  di salah satu universitas di Jepang.

MANTAN ISTRI JAFAR SIDDIQ HAMZAH, Jacqueline Siapno dan adik lelaki Jacqueline, Jay, menasihati Jafar untuk tidak meninggalkan New York, Amerika Serikat, pada Juni 2000 karena Jafar baru saja sembuh setelah menjalani operasi radang usus. “Tapi dia tidak mau dengar dan tetap pulang,” kata Jacqueline Siapno, melalui pesan eletronik, Senin, 24 Agustus 2000.

Pada Kamis, 22 Juni 2000, Jafar Siddiq Hamzah terbang dari New York, Amerika Serikat, ke Jepang. Ia tiba di Bandara Narita Jepang pada 22 Juni 2000 pukul 16.15 waktu Jepang. “Sedangkan Hasni dan Zulfikar dari YAPDA pergi ke Jepang saat itu dari Medan,” kata Seaki Natsuko.

Keesokan harinya, Jumat, 23 Juni 2000, Jafar melayani wawancara dengan surat kabar Asahi dan televisi NHK.

Di Jepang, International Forum for Aceh atau IFA yang saat itu diwakili Jafar Siddiq Hamzah dan YAPDA Lhokseumawe, atas prakarsa Network for Indonesian Democracy, Japan (NINDJA), menggelar seminar di Universitas Sophia, Universitas Meijigakuin, dan Universitas Keisen.

Seminar di tiga universitas tersebut merupakan bagian dari kampanye isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Aceh, di mana LSM NINDJA merupakan Koordinator Subcommittee kampanye dan advokasi Support Committee for Human Rights in Aceh (SCHRA) untuk Asia Timur.

NINDJA adalah sebuah organisasi masyarakat sipil yang berdiri pada Februari 1998 dengan fokus utama penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia.

Jafar Siddiq Hamzah, dalam seminar yang diprakarsai LSM NINDJA bekerjasama dengan Institute of Asian Cultures, Universitas Sophia Tokyo, Sabtu, 24 Juni 2000, mengatakan bahwa kampanye dan advokasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh di level internasional sangatlah penting.

Dalam makalahnya pada seminar di Universitas Sophia, di Tokyo, Jepang, Kamis, 24 Juni 2000, —Kasus Aceh: Mengapa Advokasi Internasional?— Jafar Siddiq Hamzah menyebutkan konflik politik antara Aceh dan Indonesia “telah berlangsung hampir setua Republik Indonesia sendiri”.

“Persisnya bermula di awal 1953, saat Daud Beureueh memproklamirkan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII),” kata Jafar Siddiq Hamzah.

Ia melanjutkan, konflik politik antara Aceh dan Pemerintah Indonesia berikutnya muncul di tahun 1976 dengan diproklamirkannya Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dengan tujuan berdirinya Negara Aceh Sumatra sebagai kelanjutan Kesultanan Aceh Darussalam.

“Gerakan yang dipimpin oleh Dr. Hasan di Tiro, cucu dari salah satu pahlawan besar Aceh dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda ini, secara sangat terbatas bertahan hingga tahun 1982. Setelah itu untuk beberapa tahun senyap,” sebut Jafar.

GAM, yang saat itu mulai redup, kata Jafar, muncul kembali di tahun 1989. Kebangkitan GAM tersebut ditanggapi Pemerintah Indonesia di bawah rezim Soeharto dengan penerapan Daerah Operasi Militer atau DOM dengan pengiriman pasukan khusus (combat troops) pada pertengahan 1990. Keputusan rezim Soeharto menggelar operasi yang kemudian terbukti berdampak luar biasa terhadap pelanggaran hak asasi manusia (gross human rights violations) dan memakan ribuan korban jiwa.

“Saya yakin sedikit banyaknya didorong oleh situasi yang memang sangat membantu: kekuasaan eksekutif yang sangat besar - DPR/MPR (Parlemennya Indonesia) dan lembaga peradilan sepenuhnya tunduk di bawah pengaruh presiden; hukum masih sangat jauh dari memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, sedang aparat penegak hukumnya sendiri sangat korup dan sepenuhnya berada di bawah kendali penguasa; serta belum adanya undang-undang yang mengatur operasi militer - tentara Indonesia hingga kini masih dibenarkan melakukan tindakan sekeji apapun, dengan mengatasnamakan negara,” katanya.

Menurut Jafar, operasi dengan sandi jaring merah itu tak mampu membuat GAM diam atau meletakkan senjata.

“Bahkan di tahun 1998 GAM memperoleh momentum untuk lebih berkembang, menyusul tumbangnya Soeharto dan bangkitnya gerakan sipil yang dipelopori mahasiswa termasuk di Aceh. Rakyat Aceh, yang mayoritasnya sudah sangat kecewa, mengubah dukungan mereka yang selama ini pasif dan tertutup kepada GAM menjadi lebih aktif dan terbuka, meski sering secara tidak langsung. Tindakan rakyat Aceh, di kota-kota maupun pedesaan, mengukir kata referendum di badan-badan jalan dan bangunan; serta peristiwa rally sekitar 1,5 juta rakyat Aceh di Banda Aceh, 8 Nopember lalu, menuntut diselenggarakannya referendum untuk merdeka, merupakan penegasan atas fenomena tersebut,” kata Jafar, menguraikan.

Perbedaan yang substantif antara GAM dan DI/TII, sebut Jafar, ialah GAM telah sampai pada tingkat menyoalkan keberadaan Indonesia sebagai suatu negara. Hal Ini, menurutnya, berbeda dengan pemberontakan DI/TII Daud Beureueh yang masih berkutat dalam konteks Indonesia.

Katanya lagi, timpangnya kebijakan penguasaan dan pendistribusian sumber-sumber daya ekonomi yang cukup melimpah di Aceh serta penghapusan secara menyeluruh otoritas politik lokal di Aceh membuat mayoritas “rakyat Aceh menafsirkan apa yang terjadi sebagai tidak berbeda dengan penjajahan. Penjajahnya saja yang bertukar, dari Belanda ke Indonesia”.

“Rakyat Aceh kebanyakannya menjadi penonton dari proses pembangunan yang dilaksanakan Jakarta di Aceh. Antara lain, industrialisasi kawasan Lhokseumawe dengan dibangunnya kilang LNG Arun di era 1970-an yang kemudian diikuti industri-industri lainnya, yang disebutkan sebagai simbul pembangunan ekonomi Aceh. Argumentasi ini tidak sedikitpun saya maksudkan untuk menyatakan bahwa faktor lain, seperti kultur dan tradisi, sebagai sama sekali tidak penting. Apa yang hendak saya tegaskan adalah, bahwa konflik Aceh vs Jakarta bukan dikarenakan sentimen-sentimen primordialisme, atau karena sudah menjadi tradisinya rakyat Aceh untuk selalu melawan kekuasaan yang datang dari luar,” kata Jafar.

Perusahaan-perusahaan nasional atau bahkan multinasional yang berada di kawasan industri Lhokseumawe, kata Jafar, ikut memberikan dukungan terhadap operasi militer tersebut.

Menurutnya, penghentiaan pelanggaran HAM berat di Aceh saat itu hanya dapat dilakukan melalui advokasi di level internasional karena hal itu tidak hanya mampu menekan Pemerintah Indonesia mempertanggungjawabkan pelanggaran HAM yang telah terjadi, tapi juga mencegah berulangnya pelanggaran HAM serupa.

“Pelanggaran HAM di Aceh dilakukan pemerintah Indonesia dikarenakan keyakinan bahwa tidak akan ada sanksi hukum yang harus mereka terima (impunity). Tanpa ada tindakan advokasi yang benar-benar efektif, pelanggaran HAM akan terus secara bergilir dipraktikkan terhadap seluruh rakyat Indonesia (circle of violence). Pemerintah Indonesia akan terus menjadikan kasus pelanggaran HAM yang satu sebagai test case untuk rencana pelanggaran berikutnya,” sebut Jafar.

Sebelum meninggalkan Jepang pada Jumat, 30 Juni 2000, Jafar sempat bertemu dengan sejumlah pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang pada Sabtu, 28 Juni 2000. Dari Jepang, Jafar terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, lalu melanjutkan penerbangan ke Medan, Sumatera Utara.

Beberapa waktu di Medan, Jafar kemudian bertolak ke Jakarta untuk bertemu beberapa tokoh Aceh di Jakarta. Dari Jakarta, Jafar kemudian terbang ke Banda Aceh.

Jafar Siddiq Hamzah menerima kunjungan serta menemani Carmel Budiardjo dari TAPOL dan Secretary General SCHRA, Sinapan Samydurai, selama tiga hari di Banda Aceh. Ia juga bertemu dengan sejumlah korban pelanggaran HAM di Aceh selama pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM).

Di Banda Aceh, Jafar sempat menginap di Hotel Cakradonya. Ia ditemani temannya, Andy Purnama alias Adam Djuli.

PADA KAMIS, 27 JULI 2000, bersama Andy Purnama alias Adam Djuli, dari Banda Aceh, Jafar berangkat ke Medan, Sumatera Utara, menggunakan mobil rental jenis SUV hijau tua.

Saat mobil tersebut memasuki Lhokseumawe, Jafar sempat singgah di rumah orangtuanya di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Di rumah tersebut Jafar beristirahat sebentar, makan, dan menziarahi makam orangtuanya. Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju ke Medan, mereka juga singgah di Bungkah dan di Krueng Geukueh.

Saat bersama Andy Purnama atau temannya yang lain, Jafar menginap di hotel untuk bekerja.

Infografik sinarpidie.co.

Jafar menginap di rumah keluarga adiknya di sekitar kompleks Kampus UISU pada Sabtu, 29 Juli 2000 setelah Andy Purnama alias Adam Djuli meninggalkan Medan. Andy berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia, lalu ke Jakarta. “Saat Jafar hilang saya di Jakarta,” kata Andy Purnama, Minggu, 23 Agustus 2000.

Andy Purnama merupakan kawan dekat Jafar. Ia juga salah seorang anggota IFA.

TUJUH TAHUN SEBELUMNYA, pada 1993, Jafar Siddiq Hamzah bertemu dengan Jacqueline Siapno di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan. Jacqueline Siapno, warga Negara Amerika asal Filipina, pada tahun-tahun 1990-an awal melakukan riset untuk disertasi PhD-nya di South and Southeast Asian Studies, Universitas California- Berkeley, Amerika, tentang perempuan di Aceh. Sementara, Jafar saat itu menjabat sebagai pembela umum, sekaligus Kepala Divisi (Kadiv) Litbang dan Humas LBH Medan.

Kelak, disertasi Jacqueline ini diterbitkan pada 2002 dengan judul Gender, Islam, Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power, Co-optation and Resistance.

Jafar dan Jacqueline menikah pada Juli 1996. Setelah menikah, pasangan ini sempat mengontrak rumah di Medan, sebelum akhirnya pindah ke Amerika Serikat. Pada 1997, Jafar didiagnosa mengidap radang usus dan menjalani dua operasi di rumah sakit di Queens, Amerika.

“Saya kesulitan bekerja dan merawatnya di rumah sakit sekaligus sehingga saya meminta adik laki-laki saya, Jay, pindah ke Queens untuk membantu kami,” kata Jacqueline Siapno dalam esainya Bang Jafar and kampung janda (villages of widows): 20 years later, tertanggal 14 Agustus 2020. “Kami tinggal di sebuah apartemen kecil dengan satu kamar tidur di Astoria, Queens. Setelah bekerja, saya pergi ke rumah sakit setiap hari untuk membawa makanan.”

Pada September 1998, Jacquenline menerima beasiswa penelitian di UC Irvine’s Humanities Research Institute. “Jafar tinggal di New York bersama adik lelaki saya, Jay,” katanya.

Beberapa bulan kemudian, pada Januari 1999, pasangan ini memutuskan untuk bercerai. “Tapi kami tetap berteman baik,” sebut perempuan yang akrab disapa Jackie, itu.

Sebaliknya, di Amerika, Jafar menjadi relawan PBB. Ia pernah mengurusi pengungsi Bosnia dan pelbagai isu kemanusian lainnya. Ia juga mendaftar sebagai mahasiswa S- 2 di Fakultas Ilmu Politik Universitas New School, Amerika, pada Desember 1998.

“Sambil tetap kuliah S-2 di sebuah universitas di New York, Jafar bekerja pada hari Minggu sebagai sopir taksi dengan gaji 200 dolar Amerika sehari,” demikian dikutip dari Majalah Tempo edisi 13 Agustus 2000.

Di New York, Amerika Serikat, Jafar juga mendirikan International Forum for Aceh (IFA) pada 27 Maret 1998. “Kami membangun forum ini untuk kampanye memberitahukan kepada masyarakat internasional bahwa pelanggaran HAM memang terjadi di Indonesia,” kata Jafar pada Majalah Tempo, yang terbit pada 18 Januari 1999. “Masyarakat internasional tidak tahu soal itu.”

Jafar menjadikan apartemennya di 50-02 47th Street, 2nd Floor, Woodside, New York, sebagai Kantor IFA. Saat itu, Jafar telah menjadi penduduk tetap atau telah mengantongi permanent resident di New York.

Baca juga:

Pada 22 Desember 1998, IFA mendatangi Gedung Pentagon di Washington, DC. Jafar dan rekan-rekan IFA-nya saat itu diterima langsung “Direktur Pentagon Urusan Asia Pasifik, Mayjen Wallace C. Gregson, dan asistennya, Derek J. Michell. Kepada Gregson, rombongan Aceh Forum menyampaikan bahwa bantuan militer Amerika telah dipraktikkan tanpa batas di provinsi paling utara Indonesia itu”.

"Jadi, kami memberi tahu mereka bahwa apa yang terjadi di Aceh juga merupakan andil mereka," kata Jafar pada Majalah Tempo yang terbit pada 18 Januari 1999.

Anjte Missbach, dalam bukunya Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh, menuliskan pada 1980-an dan awal 1990-an tak banyak perhatian dunia internasional pada konflik di Aceh. “Hanya segelintir LSM internasional yang melaporkan tentang kekerasan yang terjadi di Aceh, termasuk TAPOL, Human Rights Watch dan Amnesty International,” tulis Anjte Missbach.

Pada 15 dan 16 Januari 2000, SCHRA menggelar konferensi pertama di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Ilustrasi diolah dari foto: dok. keluarga.

Menurut Anjte Missbach, jaringan semacam itu baru muncul ketika para pemuda, aktivis HAM, dan mahasiswa Aceh pergi ke luar negeri untuk menggelar kampanye dan menggalang bantuan dari organisasi-organisasi masyarakat sipil internasional serta menghadiri konferensi-konferensi internasional atau memberikan kesaksian pada sesi dengar pendapat di sejumlah Negara. Kata Anjte, dari semua LSM internasional di Aceh, “mungkin IFA-lah yang memainkan peranan paling penting”.

“Di bawah pimpinan seorang mahasiwa di New York bernama Jafar Siddiq Hamzah, IFA mendorong pembentukan komisi internasional untuk menyelidiki pelanggaran HAM di Aceh, setelah upaya dalam negeri di bawah Presiden Habibie terbukti tidak efektif. Jafar dan rekan-rekannya juga ikut dalam menyeret raja minyak Mobil Oil/Exxon Mobil ke pengadilan untuk kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di daerah operasi perusahaan tersebut di Aceh,” tulisnya.

Di KOTA MEDAN, kota yang telah memberinya kesempatan menjadi seorang pengacara HAM dan lingkungan serta kota tempat di mana ia menemukan perempuan yang ia pinang, Jafar diculik, pada Sabtu, 5 Agustus 2000.

Jafar punya kebiasaan menelpon ke rumah setiap saat ia berada di luar rumah kala berada di Medan untuk memberitahukan dengan siapa dan di mana ia bertemu dengan orang-orang yang telah dia agendakan.

“Kontak terakhir dengan Bang Syarifuddin sekitar jam dua belas kurang saat dia selesai pertemuan dengan temannya di Jalan Ahmad Yani,” kata adik kandung Jafar Siddiq Hamzah, Cut Zahara Hamzah.

Sementara, menurut rekan Jafar Siddiq Hamzah, Alamsyah Hamdani, seorang wartawan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) melihat Jafar saat Jafar sedang berbicara dengan beberapa orang pada Sabtu, 5 Agustus 2000 siang di satu kedai kopi di Jln. Gajah Mada atau sekitar Hotel Transit.

“Sayang, Bang Oslanto Tobing yang memberi informasi itu kepada saya kemudian enggan berbicara kepada polisi dengan alasan dia tidak secara langsung melihat, tetapi dia juga hanya dapat informasi dari wartawannya,” kata Alamsyah Hamdani pada pertengahan Agustus 2020. “Jadi hari Minggu pagi setelah Jafar menghilang, Syarifuddin, adik Jafar, datang ke rumah. Kami telepon Irvan Mutiara. Irvan menjelaskan bahwa Jafar juga datang ke kantornya, dan oleh Irvan diberi juga bantuan untuk penerbitan koran berbahasa Aceh yang dikelola Jafar.”

Seaki Natsuko, pada Minggu, 6 Augustus 2000, menginformasikan pada rekan-rekan Jafar lainnya mengenai raibnya Jafar.

“Karena kehilangan kontak komunikasi lebih kurang 24 jam, pihak keluarga membuat kesimpulan sementara saudara Jafar Siddiq telah hilang (kemungkinan besar diculik). Untuk melakukan proteksi atas keberadaan saudara Jafar Siddiq apabila memang benar diculik, pihak keluarga membutuhkan dukungan dari kawan-kawan NGO nasional maupun internasional untuk mengkampanyekan kasus hilangnya Saudara Jafar Siddiq Hamzah,” demikian petikan e-mail yang Natsuko kirimkan ke kawan-kawan NGO.

Semula, mereka mencari Jafar keliling seluruh rumah sakit di Medan, Sumatera Utara. “Hari Senin, dengan beberapa advokat IKADIN, keluarga dan teman Jafar yang dari Jepang, kami ketemu dengan Kapolda Sumut saat itu, Sutanto,” sebut Alamsyah. “Beberapa hari setelah ketemu Kapolda, pada hari Rabu, saya dan Irvan dipanggil ke Polda untuk dimintai penjelasan tentang kebenaran kami bertemu Jafar pada hari Sabtu sebelum Jafar menghilang. Menurut polisi, alasan polisi tidak menanyai kami secara resmi pada hari Senin itu juga, karena mereka saat itu belum yakin Jafar benar-benar telah hilang.”

Pada Rabu, 9 Agustus 2000, keluarga Jafar Siddiq Hamzah, didampingi pengacara dari LBH Medan, Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Forum Aceh Dirantau (FAD), Yayasan Putra Dewantara (YAPDA), LBH APIK, dan Network for Indonesian Democracy, Japan (NINDJA), menyambangi Kodam Bukit Barisan dengan maksud ingin bertemu mantan Pangdam I/Bukit Barisan, Mayor Jenderal I Gede Purnama.

Namun, kedatangan mereka ditolak dengan alasan Mayor Jenderal I Gede Purnama tidak berada di tempat. Pada Kamis, 10 Agustus, kedatangan mereka ke Kodam Bukit Barisan juga ditolak. “Saat ini tidak ada operasi intelijen apa pun yang kami lakukan. Secara tegas saya sampaikan, TNI tidak terlibat dalam kasus ini,” kata mantan Pangdam I/Bukit Barisan, Mayor Jenderal I Gede Purnama pada Majalah Tempo yang terbit pada 13 Agustus 2000.

Kata Cut Zahara Hamzah, “Selama sebulan masa-masa Bang Jafar hilang, setiap pagi kami baca koran untuk memperoleh informasi bila ada kecelakaan, orang atau jenazah yang dibawa ke rumah sakit.”

“Setelah Jafar hilang, rumah saya terus diintip orang tak dikenal. Dan dengan bantuan Allan Nairn saya sekeluarga mengungsi ke New York,” sebut Alamsyah Hamdani.

Pada Minggu, 3 September 2000 pagi, keluarga Jafar Siddiq Hamzah mendapat informasi tentang penemuan lima mayat di pinggir jalan Merek, Sidikalang, di Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kelima mayat tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Pirngadi Kota Medan.

Semula, pihak rumah sakit dan polisi tak mengizinkan jenazah Jafar dibawa pulang meski ciri-ciri yang diungkapkan keluarga menunjukkan bahwa salah satu dari lima mayat tersebut adalah Jafar Siddiq Hamzah: terdapat beberapa benjolan di kepala, bekas operasi di perut sekitar 15 sentimeter, gigi geraham belakang telah tercabut, dan tinggi badan sekitar 163 sentimeter.

Berita acara serah terima jenazah dan pemulangan jenazah Jafar Siddiq Hamzah. Ilustrasi sinarpidie.co diolah dari dok. keluarga.

“Jenazah Bang Jafar ditemukan dengan tangan dan kaki terikat kawat, lima lubang di dada, dan wajah kemungkinan disiram air keras agar tak bisa dikenali,” kata adik Jafar Siddiq Hamzah, Cut Zahara Hamzah, pada awal Agustus 2020.

Pada saat itu, keluarga Jafar Siddiq Hamzah telah mengajukan permintaan otopsi berkali-kali. Di samping itu, sample darah Syafaruddin—kini almarhum— juga telah diambil untuk tes DNA. 

Jenazah Jafar baru diizinkan untuk dibawa pulang dari rumah sakit setelah melewati proses pembuktian dan perdebatan yang panjang baik dengan tim dokter di RSUD Dr Pirngadi Kota Medan maupun dengan pihak kepolisian: menunjukkan rekam medis Jafar saat mencabut gigi geraham belakang dan satu berkas catatan operasi radang usus Jafar Siddiq Hamzah dari Rumah Sakit Elmhurst, New York, pada 1999.

Akhirnya, pada Kamis, 7 September 2000, keluarga diizinkan membawa pulang jenazah Jafar Siddiq Hamzah.

"Kami kan harus menyesuaikan dulu dengan bukti-bukti pendukung yang bisa dijadikan pembanding, misalnya DNA, darah, atau gigi. Tujuannya agar tidak ada permasalahan lagi di belakang hari," kata mantan Kapolda Sumut, Brigjen (Pol) Sutanto, sebagaimana dikutip dari Kompas edisi Jumat, 8 September 2000.

Jafar Siddiq Hamzah dimakamkan di pemakaman umum di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Hingga 20 tahun setelah penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan Jafar Siddiq Hamzah, kasus tersebut belum terungkap.

“Belum ada pihak yang mengakui bertanggungjawab. Malah jenazah almarhum pun secara hukum belum diakui resmi sudah ditemukan. Setelah 20 tahun belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian tentang kasus itu. Hasil otopsi dan tes DNA yang telah dilakukan tidak pernah diungkap ke publik,” kata adik Jafar Siddiq Hamzah, Cut Zahara Hamzah, pada awal Agustus 2020.

Secara hukum, kata Cut Zahara Hamzah, Jafar Siddiq masih berstatus sebagai orang hilang. “Menurut saya ini sengaja sebagai upaya untuk tidak mencari siapa pelaku penculikan, penganiayaan, dan pembunuhan abang saya,” tuturnya. []

Selesai

Loading...