Sudut Pandang

[Bagian V] Aceh dan Narasi Universal

·
[Bagian V] Aceh dan Narasi Universal
Transportasi barang dan logistik militer Hindia-Belanda dengan gajah dari Lammeulo ke Tangse 1918. Sumber foto: KITLV.

Nasionalisme berawal dari penemuan mesin cetak modern pada awal abad ke-16 oleh Johannes Gutenberg di Jerman. Karena mesin cetak dapat melipatgandakan pengetahuan dan pengetahuan pun dapat disebar secara masif, komunitas masyarakat tertentu dapat membayangkan diri mereka sendiri dalam satu ikatan yang sama dan juga sebaliknya: membayangkan perbedaan-perbedaan pada komunitas lainnya.

Jauh lebih penting dari sekadar penemuan mesin cetak modern, bahasa tulis punya daya “keramatnya” sendiri sejak zaman Yunani kuno hingga zaman digital atau internet seperti sekarang, sepanjang ia ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah yang memenuhi standar logika seluruh ummat manusia di dunia. Tentang hal ini, akan dibahas pada paragraf terakhir dalam tulisan ini.

Kembali pada penemuan mesin cetak modern dan awal mula nasionalisme muncul. Kendati pengetahuan sudah dapat diproduksi massal secara mekanis, pengetahuan yang dicetak dalam bentuk buku-buku akan bergeming seandainya kapitalisme tak menyambarnya.

“Pangsa pasar pertama yang dihela para penerbit/penjual buku adalah Eropa yang cendikia, wilayah pembaca tulisan Latin yang tersebar luas namun merupakan strata yang tipis. Buku demi buku dicetak dan dijual ke pasar ini, yang baru tertunaikan setelah sekitar seratus lima puluh tahun lamanya. Fakta paling menentukan seputar bahasa Latin—di luar kesakralannya—adalah, bahasa itu merupakan bahasa orang-orang bilingual. Relatif sedikit orang yang dilahirkan ke dunia untuk bicara dalam bahasa Latin, lebih tipis lagi, menurut bayangan kita, yang bermimpi dalam bahasa itu,” tulis Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Communities Komunitas-Komunitas Terbayang.

Benedict Anderson menguraikan secara panjang lebar tentang sejarah perkembangan masyarakat dunia pasca-penemuan mesin cetak modern atau kapitalisme mesin cetak yang bisa melipatgandakan ilmu pengetahuan, disertai sederet pertentangan-pertentangan kelas sosial di dalammya: Renaissance, revolusi Prancis, revolusi industri, kolonialisme Eropa, Perang Dunia, hingga pembentukan Negara-bangsa modern.

Benedict, yang mengutip Hobsbawm, juga mengukuhkan, “Revolusi Prancis tidak dibuat atau dipimpin oleh sebuah partai atau gerakan dalam makna modern, juga tidak oleh orang-orang yang mencoba menjalankan suatu program sistematis apa pun. Tapi berkat kapitalisme-cetak, pengalaman Perancis itu bukan saja tak terhapuskan dari ingatan manusia, melainkan juga memiliki bentuk siap-dipelajari.”

Bahasa Melayu pegawai kolonial

Menurut Benedict, Pemerintah Hindia Belanda tidak memperkenalkan bahasa Belanda hingga abad 20 dan itu pun tak sepenuh hati, sehingga hanya di beberapa tempat di negeri jajahan mereka saja bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa administrasi.

Suatu kebetulan yang aneh, tulis Benedict Anderson, di tengah penduduknya yang banyak, pulau-pulau yang berpencar, dan keragaman agama, bahasa Melayu Pegawai atau bahasa Melayu administratif yang dinamakan dietstmaleisch tumbuh perlahan-lahan atas landasan bahasa-niaga antar pulau, begitu lambat, dan tak terencana, sebagai bahasa-negara.

“Setelah kapitalisme cetak memasuki gelanggang secara cukup besar usai pertengahan abad, bahasa tadi tertuang ke dalam pasar dan media,” tulis Benedict Anderson.

Selain bahasa Melayu pasaran atau Melayu pegawai, Benedict Anderson juga menguraikan, benih-benih Nasionalisme Indonesia lahir dari sekolah-sekolah Belanda di Batavia (Jakarta), yang pada dasarnya sekolah-sekolah itu justru dididirikan untuk membangun imajinasi nasionalisme kolonial, sebab Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membentuk piramida pendidikan dengan administrasi dan jenjang pendidikan yang ketat.

“Sekolah-sekolah dasar terstandarkan mulai berpencaran di desa-desa dan kota-kota kecil kabupaten di wilayah jajahan; sekolah-sekolah menegah (setingkat SLTP dan SMU) dibangun di kota-kota yang lebih besar serta pusat-pusat daerah; sementara pendidikan tinggi (puncak piramidanya) hanya ada di ibukota kolonial, yakni Batavia, serta di kota yang dibangun oleh Belanda sendiri, Bandung, sekitar 100 mil jauhnya di sebelah tenggara dataran tinggi Priangan yang sejuk,” tulis Benedict Anderson.

Mereka yang berangkat dari masing-masing pelosok berkumpul di satu titik piramida pendidikan itu dan mendapati diri mereka dipanggil dengan sebutan yang rasis: inlander.

Singkatnya, Nasionalisme Indonesia dibentuk oleh koran, majalah, buku, novel, dan pamplet-pamplet politik yang dicetak dan disebarluaskan dalam bahasa Melayu pegawai. Pemilik percetakan dan penulisnya, rata-rata, Tionghoa Peranakan, Indo-Eropa, dan anak-anak Priyayi yang mendapat pendidikan tinggi kolonial Hindia-Belanda yang berontak pada sistem yang menindas dan rasis. Menurut Benedict, merekalah yang membangun imajinasi tentang Indonesia pada mula-mula.

Piramida Pendidikan di Aceh

Di Aceh, sekolah tingkat dasar pertama untuk rakyat biasa  dibangun Pemerintah Kolonial Hindia Belanda— Volkscholen atau Volkschool— pada 30 Desember 1907 di Ulee Lheue (Saat itu disebut Sikula Mukim) dengan jumlah murid mula-mula hanya 38 orang.

Agar imajinasi kita dapat terarah pada apa yang disebut Benedict Anderson sebagai “piramida pendidikan” yang dirancang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, kita nampaknya harus membedah struktur pemerintahan kolonial Hindia-Belanda di Aceh saat itu terlebih dahulu.

Pada masa pendudukan Hindia-Belanda, Aceh hanyalah salah satu dari 10 residen di Pulau Sumatera (Atjeh en Onderhoorigheden) di samping Sumatera Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung. Masing-masing residen dipimpin oleh seorang residen.

Launching yang digelar Atjehtram atas pembukaan rute Lammeulo 1913. Sumber foto: KITLV.

Residen Aceh dibagi dalam empat Afdeling, yang dipimpin oleh asisten residen, sedangkan Onderafdeling dipimpin oleh seorang controleur.

Afdeling Aceh Besar (Groot-Atjeh). Ibukota Afdeling ini terletak di Kuta Raja atau Banda Aceh sekarang. Afdeling Aceh Besar menaungi empat Onderafdeling, yaitu Kuta Raja, Seulimeum, Lhoknga, dan Sabang.

Afdeling Aceh Utara (Afdeeling Noordkust van Atjeh) yang beribukota di Kota Sigli. Afdeling ini memiliki enam Onderafdeling, yaitu Sigli, Lameulo (Sekarang Kota Bakti), Meureudu, Bireuen, Takengon, dan Lhokseumawe.

Afdeling Aceh Timur (Afdeling Ooskust van Atjeh met serbajadi, Alas landen en Gayo Luas), yang beribukota di Langsa. Afdeling Aceh Timur memiliki 6 Onderafdeling, yaitu Langsa, Idi, Lhoksukon, Tamiang, Tanah Alas (Kuta Cane), dan Gayo Lues (Blang Keujren).

Afdeling Aceh Barat (Afdeeling Westkust van Atjeh) yang beribukota di Meulaboh. Afdeling Aceh Barat memiliki 7 Onderafdeling yaitu, Meulaboh, Calang, Bakongan, Tapaktuan, Bakongan, Singkil, dan Simeulue.

Baik residen, asisten residen, maupun controleur diduduki oleh orang berkebangsaan Belanda, sementara Zelfbesturende Lanschap dan Uleebalangschappen dipimpin oleh uleebalang.

“Uleebalang di Zelfbesturende Landschappen dapat melakukan pemerintahan dengan bebas menurut kebijaksanaannya sendiri, tanpa keharusan untuk mentaati perintah dari siapapun, termasuk di dalamnya kebebasan dalam memutuskan perkara di pengadilan dan pembentukan polisi untuk menjaga keamanan daerahnya. Sedangkan Uleebalang yang memerintah di Rechtstreeks betuur gebied atau Uleebalangschappen, meskipun juga bertindak sebagai pemimpin daerahnya tetapi di dalam menjalankan pemerintahan harus mentaati perintah-perintah yang disampaikan oleh controleur,” tulis Ibrahim Alfian dkk dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh.

Tak hanya berjenjang dan ketat sebagaimana piramida, sekolah-sekolah Belanda ini juga cenderung diskriminatif.

Pejabat tinggi  Kolonial Hindia-Belanda di Aceh dan ulebalang bersama istri mereka di Sigli 1931. Sumber foto: KITLV.

“Pasifikasi terutama berarti mendidik putera-putera uleebalang, calon-calon penguasa masa depan, mengenai bahasa, pandangan hidup dan praktik-praktik birokrasi dari kekuatan yang sedang berkuasa. Ini diwujudkan dalam bentuk sekolah-sekolah yang dikenal sebagai sekolah asli Belanda (Hollands Inlandse School-HIS),” tulis Anthony Reid dalam bukunya Sumatera Revolusi dan Elite.

Bahasa pengantar di HIS adalah bahasa Belanda. Lama belajar di sekolah ini adalah 7 tahun.

Untuk rakyat biasa, tulis Anthony Reid, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dibangun sekolah Volkschool tiga tahun dengan tujuan mengajar membaca dan menulis dalam bahasa Melayu dengan aksara latin. Letak sekolah ini umumnya berada di mukim di gampong atau desa.

Penggunaan bahasa Melayu di sekolah rakyat kelak dihapus dan diganti dengan bahasa Aceh. Hal yang sama juga terjadi pada sekolah sambungan dari Volkschool, yakni Vervolgschool (masa belajar dua tahun) untuk rakyat biasa: bahasa Melayu diganti bahasa Aceh.

“Seperti namanya sekolah sambungan (Vervolgschool) dari sekolah rakyat, maka sekolah-sekolah ini kadang-kadang ada yang ditempatkan dalam satu bangunan dengan sekolah-sekolah rakyat; yang pada umumnya baik gedung maupun perlengkapan-perlengkapan belajar yang digunakan masih sangat sederhana. Sama halnya dengan sekolah rakyat, di sekolah-sekolah ini pada mulanya bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa pengantar kecuali pada sebuah Vervolgschool yang berada di Sabang, yang oleh karena tidak terdapat sekolah HIS di sana, maka ditetapkan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar,” tulis Rusdi Sufi dalam bukunya Gerakan Nasionalisme di Aceh 1900-1942.

Berbeda dengan jenis pendidikan pada sekolah-sekolah dasar rakyat dan sekolah-sekolah sambungan rakyat Vervolgschool, sekolah HIS memiliki berbagai fasilitas belajar yang jauh lebih baik. Gedungnya permanen dan alat-alat perlengkapan belajar yang digunakan cukup baik.

“HIS didirikan hanya terbatas di kota-kota besar saja. Yang pertama didirikan adalah di Kota Kutaraja pada tahun 1915, selanjutnya pada tahun 1916 dibuka pula di Lhok Seumawe (afdeeling noordkust vanAtjeh) dan di Langsa (Afdeeling Oostkust van Atjeh),” tulis Rusdi Sufi dalam bukunya Gerakan Nasionalisme di Aceh 1900-1942.

Sebagaimana yang disebut sebagai piramida pendidikan oleh Benedict Anderson, HIS umumnya hanya didirikan (1 sekolah) di masing-masing ibukota Afdeling. Lanjutan HIS adalah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). MULO sebenarnya lebih cenderung diperuntukkan untuk anak-anak Belanda atau Eropa yang menamatkan sekolah Europeesche Lager School atau ELS (ekslusif untuk anak Belanda).

Mengutip Rusdi Sufi dalam Gerakan Nasionalisme di Aceh 1900-1942, selain HIS yang khusus untuk anak-anak uleebalang, Pemerintah Hindia Belanda di Aceh juga mendirikan Hollandsch Chinese School (HCS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Tionghua. Sekolah ini beralamat di Kutaraja dan Tapak Tuan. Dan, Hollandsch Ambonsche School khusus diperuntukkan bagi anak-anak orang Ambon yang berdinas pada militer Belanda atau Mersose. Sekolah juga ini terletak di Kutaraja.

Mengikuti pola piramida pendidikan, alumni HIS yang cemerlang, sebagaimana dituliskan Anthony Reid, “dikirim ke Bukittinggi atau Jawa untuk belajar di sekolah lanjutan Belanda, meskipun ada yang berpendapat bahwa lebih baik mereka tetap di Aceh sendiri, di mana MULO telah didirikan pada 1930”.

Jenjang selanjutnya, sebagaimana dituliskan Benedict Anderson, sebagai puncak piramida “hanya ada di ibukota kolonial, yakni Batavia, serta di kota yang dibangun oleh Belanda sendiri, Bandung, sekitar 100 mil jauhnya di sebelah tenggara dataran tinggi Priangan yang sejuk”.

Pada lapisan lainnya, keberadaan sekolah-sekolah Belanda di Aceh disela oleh sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah dan Taman Siswa. Selanjutnya, kehadiran Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) tak hanya membangun sekolah Islam modern tapi juga membangun sekolah untuk mencetak guru yang akan ditugaskan pada seluruh jaringan sekolah yang mereka bangun di seluruh Aceh: Sekolah Pendidikan Guru di Bireun pada 1939.

Pada lapisan lainnya lagi, jaringan Diaspora Aceh membikin piramida versi Belanda tak bekerja sama sekali. Antje Missbach dalam buku Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh menuliskan, “Sepanjang Perang Aceh melawan Belanda, pusat perdagangan Aceh di Penang adalah Gedong Atjehnya Teuku Muda Nyak Malim, sebuah toko lada milik seorang pedagang asal Simpang Ulim (Aceh Timur). Dari Penang, orang Aceh berlayar ke Mekkah untuk naik haji.”

Tak heran, pada zaman itu, ada sejumlah pemuda Aceh yang menamatkan pendidikan tinggi di Universitas Al Azhar Mesir.

Pelabuhan Sigli, Sumatra, 1910. Sumber foto: KITLV.

Sejauh penelusuran literatur yang saya lakukan (dengan segala keterbatasan bacaan saya), tak ada elite uleebalang dan elite ulama (sejak masa Kerajaan Aceh masih eksis, dua kelompok sosial ini sama-sama elite dalam pemerintahan) yang melakukan bunuh diri kelas. Tak ada seorang pun dari dua kelas sosial yang terpandang tersebut yang tampaknya rela meletakkan status sosial mereka lalu turun ke status sosial yang lebih rendah, sebagaimana Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, yang berangkat dari borjuasi Minangkabau, melepaskan kelas sosialnya lalu menjadi buruh perkebunan untuk mengorganisir massa rakyat.

Baca juga:

Mengapa Belanda membangun sekolah di Aceh dan mengapa bahasa Melayu di sekolah rakyat diganti dengan bahasa Aceh?

Di samping politik etis (balas budi) atau etische politiek sejak 1901, setelah Partai Liberal menguasai parlemen di Belanda, hal itu merupakan pokok dari kolonialisme itu sendiri, sebagaimana yang ditulis Linda Tuhiwai Smith, yang mengutip Franz Fanon dan Ashis Nandy, dalam bukunya Dekolonisasi Metodologi, “imperialisme dan kolonialisme membuyarkan ketertiban bangsa terjajah, memenggal sejarah, lanskap, bahasa, hubungan sosial, cara berpikir, perasaan, dan interaksi khas mereka dengan dunia”.

Sebagai contoh, Aceh yang sejak abad 16 telah memproduksi ilmu pengetahuan dalam bahasa tulis khasnya sendiri, yang dapat dirujuk dari buku-buku berbahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab oleh akademisi sekaliber Nur ud-Din ar-Raniri (buku Bustan us-Salatin) dan karya-karya sastra Hamzah Al Fansuri, tak dianggap oleh ‘kolonialisme’ Hindia-Belanda sebagai pengetahuan.

“Bahkan negeri-negeri seperti India, Cina, dan Jepang yang sudah sangat melek huruf sebelum ‘ditemukan’ Barat, dimasukkan dalam kategori lain dan mendefinisikan mereka belum beradab,” tulis Linda Tuhiwai Smith dalam bukunya Dekolonisasi Metodologi.

Nahasnya, ilmuwan yang ditugaskan untuk merumuskan kebijakan pasifikasi Belanda di Aceh adalah seorang antropolog terpandang di dunia: C. Snouck Hurgronje.

Penulis buku babon Orientalisme, Edward Said, menempatkan Snouck sebagai salah seorang orientalis berpengaruh di dunia “pada periode 1880-an hingga tahun-tahun antara Perang Dunia I dan II”, di samping Ignaz Goldziher, Duncan Black, Carl Becker, dan Louis Massignon.

“Semenjak Kongres orientalisme pertama pada 1873, lima cendikiawan ini sudah saling mengenal karya-karya dan saling merasakan kehadirannya masing-masing secara langsung,” tulis Edward W Said dalam buku Orientalisme.

Untuk membahas sekilas-pintas apa yang telah disinggung pada paragraf kedua di atas: bahasa tulis punya daya “keramatnya” sendiri sejak zaman Yunani kuno hingga zaman internet seperti sekarang, sepanjang ia ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah yang memenuhi standar logika seluruh ummat manusia di dunia, kita akan merujuk Bill Kovach dan Tom Rosentiel.

Dalam buku mereka Blur, Bill Kovach dan Tom Rosentiel menguraikan, sepanjang sejarah peradaban manusia, sekurang-kurangnya terdapat delapan transformasi penting dalam komunikasi: dari gua ke bahasa lisan, kata-kata tertulis di mesin cetak, telegraf ke radio, siaran televisi ke TV kabel, dan sekarang internet.

Meskipun bertransformasi sebanyak delapan kali, cara menemukan pengetahuan hanya dapat didekati dengan menerapkan metodologi yang   benar.

Semula, berangkat dari metode disiplin empiris Socrates,  “Plato, murid Socrates, lantas mengembangkan lebih jauh dialog karya gurunya, tapi plato tak mempercayai arti pengalaman. Dalam Allegory of the Cave, dia berargumen bahwa apa yang dianggap sebagai dunia nyata adalah sebagai bayangan, ilusi, dari realitas ideal. Bayangan ini bisa membantu kita memahami dunia, ujar Plato, tetapi pengetahuan macam ini tak cukup untuk jadi pedoman kehidupan moral. Dan jika dipaksa memilih, Plato berpendapat, kebenaran moral lebih penting daripada kebenaran empiris,” tulis Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku mereka Blur.

Pabrik Gas Aerogenik di Sigli, 1900. Sumber foto: KITLV.

Di Eropa, pilihan Plato itulah--kebenaran moral-- yang sempat mendominasi Abad Pertengahan hingga pada awal abad 16, Johannes Gutenberg, menemukan mesin cetak modern.

Menurut Bill Kovach dan Tom Rosientiel, seabad setelah mesin cetak Gutenberg muncul, koran pertama segera bermunculan di Jerman, Perancis, dan Inggris.

“Berbagai informasi memungkinkan orang bertanya, menentang, dan mematahkan otoritas mapan,” tulis Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku mereka Blur.

Sekali lagi, meskipun terdapat delapan transformasi penting dalam komunikasi—dari gua ke bahasa lisan, kata-kata tertulis di mesin cetak, telegraf ke radio, siaran televisi ke TV kabel, dan sekarang internet—, bahasa tulis tetap “keramat” sepanjang ia ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah yang memenuhi standar logika seluruh ummat manusia di dunia.  []

[Bersambung Bagian Terakhir]

Komentar

Loading...