Figur

[Bagian III-Tamat] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay

·
[Bagian III-Tamat] Perjalanan Said Mulyadi, dari Kursi Staf Kantor Camat Ulim ke Kursi Wakil Bupati Pijay
Said Mulyadi. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Said Mulyadi duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah sofa. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kaca yang sekaligus menjadi sekat ruangan pada salah satu kedai kopi tempat ia menerima wawancara sinarpidie.co, Rabu, 21 Maret, di Banda Aceh.

Sesekali, ia menyeruput kopi yang ada di atas meja.

“Sesuai dengan rencana kerja kami selama lima tahun, program yang bisa dilaksanakan dalam kondisi normal hanya tiga tahun, yakni 2014 sampai dengan 2016. Desember 2016 terjadi gempa bumi di Pidie Jaya,” kata dia.

Menurutnya, dua tahun sebelum masa kepemimpinan Ayub Abbas dan dirinya berakhir, seharusnya program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat sudah berjalan. Namun, pada 7 Desember 2016 gempa bumi berkekuatan 6,5 skala Richter mengguncang Pidie Jaya.

Pasca-gempa, tuturnya, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya lebih banyak mengarahkan program pembangunan dalam kerangka rehabilitasi dan rekonstruksi. Dan itu semua dilakukan dengan perencanaan yang baru.

“Untuk itu, jika kami diberi kepercayaan sekali lagi oleh masyarakat Pidie Jaya untuk memimpin selama lima tahun ke depan, kami akan fokus pada pemberdayaan ekonomi,” ungkapnya. “Ketersediaan sumber daya alam di Pidie Jaya sangat bagus, tinggal kita dorong bagaimana lahan-lahan produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal, bisa optimal. Misalnya, lahan-lahan perkebunan. Salah satu lahan perkebunan yang potensial, misalnya, adalah lahan eks-mamamia, di mana ada salah satu NGO yang dulunya membantu pemberdayaan masyarakat. Makanya harus dikuatkan juga dengan peran pemerintah.”

Ditanyai apa program prioritas jika terpilih untuk kedua kalinya, ia menjawab, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah menyelesaikan tiap proses rehab-rekon, baik itu infrastruktur publik maupun rumah bagi korban.

“Rumah harus segera dapat diselesaikan. Dan juga masalah pemberdayaan ekonomi terhadap para korban, karena korban juga rata-rata adalah pelaku usaha kecil yang ruko-ruko mereka juga terkena dampak gempa,” tuturnya.

Di samping itu, pihaknya juga berkomitmen untuk menurunkan angka kemiskinan Pidie Jaya dengan menggagas dan mengimplementasikan program-program yang menyentuh hal itu.

“Ketika kami baru menjabat, Pidie Jaya berada pada posisi kedua kabupaten termiskin di Aceh. Sekarang di urutan kelima,” kata dia lagi.

Ia bicara apa adanya. Tak ada yang disanjung atau yang dilebihkan. Namun, optimisme seakan terkandung dalam tiap ucapannya.

Baca juga:

Salah satu upaya untuk menekan angka kemiskinan, menurutnya, ada pada sektor pertanian, di mana produksi gabah di Pidie Jaya berada di atas rata-rata nasional.

“Dan alat-alat pertanian juga tersedia. Kendati demikian, ada beberapa daerah yang memerlukan irigasi teknis dan bendungan. Dan inilah yang sedang kami upayakan dalam jangka panjang. Harapannya irigasi teknis dan bendungan dapat memenuhi kebutuhan air di beberapa kecamatan yang terkendala. Peran pemerintah daerah menyiapkan DED, menyiapkan dokumen-dokumen untuk kita ajukan ke pemerintah pusat. Ke balai. Sementara itu, untuk saluran-saluran tersier, kita bangun dengan DAK dan Otsus,” kata dia menjelaskan.

Sementara itu, di sektor pendidikan, pihaknya akan berkomitmen untuk meningkatkan mutu guru.

“Kalau sarana dan prasarana, itu agak mudah kita penuhi, tapi sumber daya tenaga pendidik ini yang menjadi tantangan. Makanya, kami berharap Dinas Pendidikan Pidie Jaya dapat membangun komunikasi dengan para pihak terkait, untuk menemukan jalan keluar akan hal itu,” tuturnya. “Kita sudah mengeluarkan Perbub tentang mendiniyahkan sekolah. Ada guru dayah, yang mengajarkan siswa sekolah mengaji. Guru-guru dayah masuk ke sekolah-sekolah. Satu jam sebelum pulang sekolah. Dan program itu sudah berjalan sejak satu tahun yang lalu.” []

Loading...